Langsung ke konten utama

jurnal pengaruh orangtua dan lingkungan terhadap minat membaca anak



PENGARUH ORANG TUA DAN LINGKUNGAN TERHADAP MINAT BACA ANAK

ARTIKEL





OLEH :

ANGGA FAHREZA
NIM : 1300584








PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG



Pengaruh Orang Tua dan Lingkungan Terhadap Minat Baca Anak
Angga Fahreza
PGSD FIP UNP
Afahreza74@gmail.com

abstrak
minat baca anak sekolah dasar masih tergolong rendah. Keterlibatan orang tua diyakini mampu meningkatkan minat baca anak. Dalam keluarga yang miskin, keterlibatan orang tua dalam pengajaran terhadap anak sangat kurang.hal ini dikarenakan orang tua mengalami kesulitan maupun rasa stres yang tinggi sehingga mereka kurang mengawasi dan memperhatikan anak. Hal ini akan berdampak kepada rendahnya minat membaca siswa. Namun keluarga miskin yang mendapatkan dukungan sosial, mereka mampu untuk mengatasi rasa stres dalam keluarga sehingga mereka akan mampu untuk terlibat dalam memperhatikan anak sehingga minat baca anak juga akan meningkat.
Kata kunci : minat baca, keterlibatan orang tua, stres, siswa sekolah dasar

Pendahuluan
            Orang tua merupakan panutan bagi anaknya. Bagaimana sikap dan perlakuan orang tua sangat berpengaruh terhadap pengembangan diri seorang anak. Dimana akan optimal pengembangan diri seorang anak jika binaan dari orangtuanya sangatlah baik dan memperhatikan tingkat perkembangan anak tersebut.
Menurut Harris, AJ (2000 :52) dalam fenny, Minat membaca adalah sumber motivasi kuat bagi seseorang untuk menganalisa dan mengingat serta mengevaluasi bacaan yang telah dibacanya, yang merupakan pengalaman belajar menggembirakan dan akan mempengaruhi bentuk serta intensitas seseorang dalam menentukan cita-citanya kelak dimasa yang akan datang, hal tersebut juga adalah bagian dari proses pengembangan diri yang harus senantiasa diasah sebab minat membaca tidak diperoleh dari lahir.
            Dalam hal membaca bimbingan orang tua sangat berpengaruh terhadap minat anak untuk membaca, dimana kegiatan membaca akan menjadi menyenangkan bagi anak jika sudah merasakan suasana membaca yang dapat diwujudkan dengan selalu berlatih dengan rutin. Selain disekolah akan lebih baik jika selalu berlatih membaca dirumah.
            Dalam hal membaca dirumah disanalah peran orang tua dalam menumbuhkan minat baca dalam diri anak. Bagaimana cara orang tua dalam memberi motivasi  dan bimbingan kepada anak untuk membaca bila perlu dengan metode yang menarik sehingga anak tertarik,merasa senang, dan betah untuk selalu membaca.
Orang tua sangatlah berperan penting dalam menumbuhkan minat belajar anak karna terlepas dari sekolah anak berada dalam lingkungan keluarga.  Walaupun dari sekolah seorang anak telah mantap dalam hal membaca, namun tidak di asah kembali oleh rang tua dirumah tidak akan menumbuhkan minat baca yang baik bagi anak. Hampir tiap tahun orang tua diingatkan untuk menanamkan dan menumbuhkan minat membaca anak melalui media massa, namun keluhan bahwa minat membaca anak tetap rendah masih selalu terdengar. Nampaknya belum ditemukan cara yang efektif untuk melibatkan orang tua dalam menolong meningkatkan minat membaca. Belum banyak diteliti mengenai faktor-faktor yang menentukan bagaimana cara melibatkan orang tua untuk meningkatkan minat membaca anak. Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan intervensi yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam menumbuhkan minat membaca anak di keluarga masing-masing.
Kesulitan untuk melibatkan orang tua menjadi makin bertambah pada keluarga dengan sosial ekonomi rendah. Krisis ekonomi, bencana alam dan kerusuhan di beberapa daerah di Indonesia menambah jumlah keluarga miskin sehingga mereka tersisih dari kehidupan kota dan tinggal di kantong-kantong kemiskinan. Mereka sering mengalami pertengkaran dalam masalah keuangan keluarga sehingga mengalami stres tiap hari. Stres ini makin bertambah tinggi oleh stres kerja, tinggal di daerah kumuh, panas, bising dan sesak, persoalan kegagalan pendidikan anak dan laju kelahiran anak yang sulit dikendalikan. Tumpukan stres ini menyita dan membuang energi orang tua untuk hal yang negatif dan perhatian mereka tidak terpusat untuk terlibat menolong anak dalam membaca sehingga minat membaca anak tidak tumbuh dan berkembang.


Pembahasan
Minat merupakan motivator yang kuat untuk melakukan suatu aktivitas. Aktivitas membaca akan dilakukan oleh anak atau tidak, sangat ditentukan oleh minat anak terhadap aktivitas tersebut.
Secara umum minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari ataupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif anak terhadap aspek-aspek lingkungan. Ada juga yang mengartikan minat sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas disertai dengan rasa senang. Menurut Meichati (1978) mengartikan minat adalah perhatian yang kuat, intensif dan menguasai individu secara mendalam untuk tekun melakukan suatu aktivitas. Witherington (1986) berpendapat bahwa minat adalah kesadaran seseorang pada sesuatu, seseorang, suatu soal atau situasi yang bersangkut paut dengan dirinya. Tanpa kesadaran seseorang pada suatu objek, maka individu tidak akan pernah mempunyai minat terhadap sesuatu. Sedangkan menurut Hurlock (1983) minat sebagai sumber motivasi yang akan mengarahkan seseorang pada apa yang akan mereka lakukan bila diberi kebebasan untuk memilihnya. Bila mereka melihat sesuatu itu mempunyai arti bagi dirinya, maka mereka akan tertarik terhadap sesuatu itu yang pada akhirnya nanti akan menimbulkan kepuasan bagi dirinya. Menurut Slameto (1995 : 57) dalam indri elvi dariani menyatakan bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar, bahan pelajaran yang sesuai dengan minat siswa, siswa akan belajar dengan baik dan tekun, karena minat menambah kegiatan belajar.
Aspek minat terdiri dari aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif berupa konsep positif terhadap suatu obyek dan berpusat pada manfaat dari obyek tersebut. Aspek afektif nampak dalam rasa suka atau tidak senang dan kepuasan pribadi terhadap obyek tersebut. Stiggins (1994) mengemukakan minat merupakan salah satu dimensi dari aspek afektif yang banyak berperan juga dalam kehidupan seseorang, khususnya dalam kehidupan belajar seorang murid. Aspek afektif adalah aspek yang mengidentifikasi dimensi-dimensi perasaan dari kesadaran emosi, disposisi, dan kehendak yang mempengaruhi pikiran dan tindakan seseorang. Dimensi aspek afektif mencakup tiga hal penting, yaitu: (1) Berhubungan dengan perasaan mengenai objek yang berbeda; (2) Perasaan-perasaan tersebut memiliki arah yang dimulai dari titik netral ke dua kubu yang berlawanan, titik positif dan titik negatif; (3) Berbagai perasaan memiliki intensitas yang berbeda, yang dimulai dari kuat ke sedang ke lemah.
Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata. Juel (1988) mengartikan bahwa membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan. Hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan. Membaca merupakan kegiatan yang berperan penting dalam kehidupan manusia. Kegiatan membaca tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia. Setiap aspek kehidupan manusia melibatkan aktivitas membaca di dalamnya. Kegiatan membaca dapat memberikan manusia berbagai informasi yang dibutuhkan. Menurut Farida Rahim (2008: 1) dalam wahyu yang mengungkapkan melalui membaca dapat memeroleh pengetahuan dan wawasan baru. Dengan pengetahuan yang dimiliki tersebut manusia dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan. Tanpa pengetahuan, tentunya manusia akan kesulitan dalam mengatasi setiap permasalahan yang ditemukannya.
Secara operasional Lilawati (1988) mengartikan minat membaca anak adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga mengarahkan anak untuk membaca dengan kemauannya sendiri.
Menurut Rahim (2008) minat baca merupakan keinginan yang kuat yang disertai usaha-usaha seorang untuk membaca24. Minat baca yang kuat diwujudkan dalam kesediaanya untuk mendapat bahan bacaan dan kemudian membacanya atas kesadarannya sendiri. Orang yang memiliki minat baca tinggi akan memiliki kesadaran yang tinggi untuk membaca sesuatu sehingga pengetahuan yang diperoleh banyak sedangkan orang yang minat bacanya rendah berarti sebaliknya.
Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, kesadaran akan manfaat membaca, frekuensi membaca dan jumlah buku bacaan yang pernah dibaca oleh anak. Sinambela (1993) mengartikan minat membaca adalah sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri anak terhadap aktivitas membaca dan tertarik terhadap buku bacaan. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa minat membaca adalah kekuatan yang mendorong anak untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga mereka mau melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca.
Minat membaca sangat dipengaruhi oleh stimulasi yang diperoleh dari lingkungan anak, oleh karena itu minat membaca perlu ditanamkan dan ditumbuhkan sejak anak masih kecil. Keluarga merupakan lingkungan paling awal dan dominan dalam menanamkan, menumbuhkan dan membina minat membaca anak. Orang tua perlu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca dalam kehidupan anak, setelah itu baru pendidik di sekolah, teman sebaya dan masyarakat.
Mulyani (1978) berpendapat bahwa tingkat perkembangan seseorang yang paling menguntungkan untuk pengembangan minat membaca adalah pada masa peka, yaitu sekitar usia 5 s/d 6 tahun. Kemudian minat membaca ini akan berkembang sampai dengan masa remaja. Minat membaca pertama kali harus ditanamkan melalui pendidikan dan kebiasaan keluarga pada masa peka tersebut. Anak usia 5 s/d 6 tahun senang sekali mendengarkan cerita. Mula-mula mereka tertarik bukan pada isi ceritanya, tetapi pada kenikmatan yang diperoleh dalam kedekatannya dengan orang tua. Ketika duduk bersama atau duduk di pangkuan orang tua, anak merasakan adanya kasih sayang dan kelembutan. Suasana yang menyenangkan dan didukung oleh buku cerita yang penuh gambar-gambar indah akan membuat anak menjadi tertarik dan senang menikmati cerita dari buku. Melalui proses imitasi, anak akan suka menirukan aktivitas membacakan cerita yang dilakukan oleh orang tuanya. Peniruan ini akan semakin diulang bila anak juga sering melihat orang tua melakukan aktivitas membaca. Anak akan meniru gaya dan tingkah laku orang tua dalam membaca. Kemudian setelah anak mampu membaca sendiri, maka ia akan senang sekali mempraktekkan kemampuan membacanya dengan membaca sendiri bukubuku yang tersedia di rumah. Kemauan untuk membaca buku atas inisiatif diri sendiri ini adalah awal tumbuhnya minat membaca anak. Perkembangan selanjutnya dari minat membaca ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Ada dua faktor yang mempengaruhi minat membaca anak, yaitu faktor personal dan faktor institusional (Purves dan Beach, dalam Harris dan Sipay, 1980). Faktor personal adalah faktor-faktor yang ada dalam diri anak, yaitu meliputi usia, jenis kelamin, inteligensi, kemampuan membaca, sikap dan kebutuhan psikologis. Sedangkan faktor institusional adalah faktor-faktor di luar diri anak, yaitu meliputi ketersediaan jumlah buku-buku bacaan dan jenis-jenis bukunya, status sosial ekonomi orang tua dan latar belakang etnis, kemudian pengaruh orang tua, guru dan teman sebaya anak.
Ada perbedaan minat anak terhadap buku bila ditinjau dari usia kronologis anak. Ediasari (Ayahbunda, 1983) berpendapat bahwa pada usia antara dua sampai dengan enam tahun, anakanak menyukai buku bacaan yang didominasi oleh gambar-gambar yang nyata. Pada usia tujuh tahun anak menyukai buku yang didominasi oleh gambar-gambar dengan bentuk tulisan besarbesar dan kata-kata yang sederhana dan mudah dibaca. Biasanya pada usia ini anak sudah memiliki kemampuan membaca permulaan dan mereka mulai aktif untuk membaca kata. Pada usia 8 s/d 9 tahun, anak-anak menyukai buku bacaan dengan komposisi gambar dan tulisan yang seimbang. Mereka biasanya sudah lancar membaca, walaupun pemahaman mereka masih terbatas pada kalimat singkat dan sederhana bentuknya. Kemudian pada usia 10 s/d 12 tahun anak lebih menyukai buku dengan komposisi tulisan lebih banyak daripada gambar. Pada usia ini kemampuan berpikir abstrak dalam diri anak mulai berkembang sehingga mereka dapat menemukan intisari dari buku bacaan dan mampu menceritakan isinya kepada orang lain.
Munandar (1986) menemukan ada perbedaan minat anak terhadap isi cerita ditinjau dari perkembangan usia kronologis anak. Pada usia 3 s/d 8 tahun anak menyukai buku cerita yang berisi mengenai binatang dan orang-orang di sekitar anak. Pada masa ini anak bersikap egosentrik sehingga mereka menyukai isi cerita yang berpusat pada kehidupan di seputar dirinya. Mereka juga menyukai cerita khayal dan dongeng. Pada usia 8 - 12 tahun anak menyukai isi cerita yang lebih realistik. Munandar juga menemukan ada perbedaan umum antara minat membaca anak laki-laki dan perempuan dalam sifat dan tema cerita, walaupun perbedaan ini tidak bersifat pilah sama sekali; artinya anak-anak perempuan juga menikmati bacaan anak-anak laki-laki dan sebaliknya. Pada umumnya anak-anak perempuan menyukai buku cerita dengan tema kehidupan keluarga dan sekolah. Anak-anak laki-laki lebih menyukai buku cerita mengenai pertualangan, kisah perjalanan yang seram dan penuh ketegangan, cerita kepahlawanan dan cerita humor.
Faktor institusional memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan minat membaca Anak. Keluarga dengan status sosial ekonomi tinggi, mampu menggunakan tingkat pendidikannya yang tinggi untuk memperoleh informasi mengenai buku-buku yang perlu untuk perkembangan kognitif dan afektif anak. Didukung oleh penghasilan mereka yang cukup tinggi, maka orang tua dapat menyediakan buku-buku bacaan untuk anak dengan jenis yang beragam. Slavin (1998) menemukan ada perbedaan aktivitas orang tua dalam membimbing anak antara keluarga dengan status sosial ekonomi tinggi dengan status sosial ekonomi rendah. Orang tua dengan status sosial ekonomi tinggi memiliki harapan tinggi terhadap keberhasilan anak di sekolah dan mereka sering memberi penghargaan terhadap pengembangan intelektual anak. Mereka juga mampu menjadi model yang bagus dalam berbicara dan aktivitas membaca. Orang tua sering membaca bersama anak, memberikan pujian kepada anak saat anak membaca buku atas inisiatif sendiri, membawa anak ke toko buku dan mengunjungi perpustakaan dan mereka menjadi model bagi anak dengan lebih sering memanfaatkan waktu luang untuk membaca.
menurut Tarigan, (1987 :108) Guna meningkatkan minat baca ada banyak cara yang perlu dilakukan, adalah:  Pertama, berusaha untuk selalu menyediakan waktu untuk membaca secara rutin. Haruslah kita sadari bahwa orang yang dapat membaca dengan baik adalah orang yang biasa berpikir dengan baik pula. Kedua, biasakanlah untuk dapat memilih bacaan yang baik dan kita butuhkan. Masalah yang sering kita hadapi adalah kita dapat belum dapat memilih buku bacaan yang baik, juga karena terbentur oleh sempitnya waktu hingga kita tidak dapat membaca buku dalam jumlah yang banyak.oleh karena itu diperlukan keterampilan dalam memilih bahan bacaan.
Orang tua dengan status sosial ekonomi rendah sering memberi contoh negatif dalam berbicara, terutama saat mereka bertengkar karena keterbatasan keuangan keluarga. Mereka juga jarang memuji anak ketika anak membaca, bahkan orang tua memiliki pengharapan rendah terhadap keberhasilan sekolah anak sehingga mereka tidak mau terlibat untuk membantu pekerjaan rumah anak atau tugas sekolah yang lain. Akibat selanjutnya anak menjadi tidak berprestasi di sekolah dan hal ini menambah tekanan keluarga ketika orang tua dipanggil ke sekolah untuk mempertanggungjawabkan kegagalan pendidikan anak. Nampak bahwa keluarga dengan status sosial ekonomi rendah mengalami stres yang tinggi.
Dalam keluarga yang miskin, penghasilan suami dan atau istri yang rendah sering menjadi pemicu pertengkaran dalam keluarga. Akibat lebih lanjut dari pertengkaran adalah suami dan istri menjadi saling tidak peduli. Orang tua dengan tingkat pendidikan yang rendah ternyata sulit untuk mengendalikan kelahiran anak, sehingga jumlah kelahiran anak menjadi bertambah (Semaoen, Hani, Kiptiyah, 2000). Kehadiran anak atau adik baru bagi anak yang lebih tua menimbulkan stres bagi ibu dan ayah. Ibu akan merasakan stres selama kehamilan, apalagi bila anak yang dikandung adalah anak yang ketiga atau keempat dimana muncul rasa bersalah tidak mentaati program Keluarga Berencana, dan pasca melahirkan. Stres pada ayah berkaitan dengan rasa kuatir akan berubahnya interaksi antara suami dan istri dan timbul kekuatiran akan tambahan biaya hidup.
Biasanya keluarga miskin ini tinggal di kantong-kantong kemiskinan dengan luas rumah yang sangat terbatas, kumuh, panas, bising dan sesak. Tinggal di lingkungan yang terlalu sesak dapat menimbulkan stres dan akibat selanjutnya orang menjadi kurang suka menolong orang lain (Bell dkk, 1996).
Keluarga yang tinggal di daerah slums, biasanya tetap memiliki gambaran kualitas rumah yang ideal. Mereka biasanya masih mendambakan rumah berkualitas dengan ciri-ciri adanya kontinuitas, yaitu rasa memiliki rumah secara permanen; ada privasi, ada tempat untuk mengekspresikan diri, identitas personal yaitu berkaitan dengan simbol diri mereka dan keinginan untuk menunjukkan rumah kepada orang lain; relasi sosial, kehangatan dan tempat untuk berteduh dan berlindung (Smith, 1994). Ketiadaan ruang untuk ekspresi diri, yaitu untuk mengembangkan intelektual dan kepribadian anak; maupun kehangatan yang ditandai dengan adanya suasana persahabatan dan dukungan untuk berprestasi, menghalangi orang tua untuk menolong anak dalam aktivitas membaca maupun aktivitas belajar yang lain.
Perselisihan dalam keluarga, perasaan saling tidak peduli, kesesakan karena keterbatasan luas rumah dan terlalu banyak anak, kebisingan, kurang ruang untuk ekspresi diri dan kehangatan merupakan stresor yang kuat dalam keluarga miskin. Stresor ini masih ditambah dengan adanya interaksi orang tua dengan fihak lain di luar lingkungan rumah, yaitu tekanan kerja di tempat kerja. Ada konflik antara tuntutan kerja dengan tuntutan keluarga. Keluarga menuntut penghasilan yang lebih tinggi untuk menutup beaya kehidupan sehari-hari, sedangkan di tempat kerja orang tua juga dituntut untuk lebih profesional dalam bekerja namun tidak mampu karena keterbatasan tingkat pendidikan dan kekurangan ketrampilan kerja.
Stresor yang lain adalah pengalaman stres anak-anak di sekolah. Orang tua jarang terlibat untuk membantu anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah maupun aktivitas belajar anak yang lain menyebabkan anak tidak mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Ketidakbiasaan membuat pekerjaan rumah menjadikan anak tidak terlatih sehingga anak sering gagal dan ditertawakan bila harus mengerjakan tugas di depan kelas. Dua hal ini menjadikan anak juga mengalami stres. Orang tua juga akan bertambah stres ketika dipanggil oleh pihak sekolah guna mempertanggungjawabkan kegagalan pendidikan anak.
Stres dalam keluarga berinteraksi dengan stres dari luar lingkungan rumah menimbulkan stres tingkat tinggi dalam diri orang tua. Hal ini menyita waktu orang tua dan membuang energi dan perhatian mereka sehingga secara psikologis mereka tidak mampu untuk terlibat menolong anak dalam aktivitas membaca. Ketidakterlibatan orang tua dalam aktivitas membaca mengakibatkan minat membaca anak tetap rendah (Grolnick dkk, 1997 dalam sandjaja hal.9).

Kesimpulan
Orang tua dengan status sosial ekonomi rendah sering memberi contoh negatif dalam berbagai aspek kehidupan anaknya, seperti dalam berbicara, terutama saat mereka bertengkar karena keterbatasan keuangan keluarga. Selain itu, mereka juga jarang memuji anak ketika anak membaca, bahkan orang tua memiliki harapan yang rendah terhadap keberhasilan anak disekolah sehingga mereka tidak mau terlibat untuk membantu pekerjaan rumah anak atau tugas sekolah yang lain. Akibatnya anak menjadi tidak berprestasi di sekolah dan hal ini menambah tekanan keluarga ketika orang tua dipanggil ke sekolah untuk mempertanggungjawabkan kegagalan pendidikan anak. Sehingga keluarga dengan status sosial ekonomi rendah cenderung mengalami stres yang tinggi.
Saran
sebagai seorang pendidik harus mampu dalam menarik perhatian dan meningkatkan minat baca siswa. Kemudian sebagai pendidik juga harus mampu menjaga komunikasi yang baik dengan para orang tua siswa agar perkembangan anak terus ter awasi dengan baik. Selain itu perhatian dan bimbingin dari orang tua dan guru juga akan sangat berguna untuk menumbuhkan minat baca siswa.









Daftar rujukan
Amelia, dkk. 2014. Peranan orang tua dalam mengembangkan minat baca siswa SDN 121 KECAMATAN MALALAYANG. Manado. III(4).
Ayahbunda, Jakarta, September No. 18, 1983.
Indri Elvi Dariyani. penerapan metode quantum reading dalam upaya meningkatkan minat baca siswa (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas V sekolah dasar. Jurnal. Fakultas pendidikan islam dan keguruan universitas garut.
Lilawati, 1988. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua, Stimulasi Membaca dari Orang Tua dan Inteligensi dengan Minat Membaca Pada Anak Kelas V Sekolah Dasar. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Meichati, S. 1978. Motivasi Pembaca. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Mulyani, A.N. 1981. Pembinaan Minat Baca dan Promosi Perpustakaan. Berita Perpustakaan Sekolah, I, 24 – 29.
Munandar, S.C.U. 1986. Memupuk Minat Untuk Membaca. Jakarta : IKAPI.
Muhibbin Syah. (2010). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Raditya, wahyu angga. 2016. Hubungan minat baca dengan prestasi belajar IPS siswa kelas V gugus III Seyegan. PGSD FIP UNY. Vol 1.

Rahim, F. Pengajaran membaca di Sekolah Dasar. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008)
Romafi, tadkiroatun musfiroh. Hubugan minat membaca, fasilitas orang tua, dan pemberian tugas membaca dengan kemampuan membacapemahaman siswa. UNY. II(2).
Tarigan, H.G. 2000. Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa. Jakarta: Penerbit Angkasa.
Semaoen, I., Hani, E.S. dan Kiptiyah, S.M. 2000. “Strategi Orang tua Di Perdesaan Miskin dalam Upaya Peningkatan Kualitas Anak”. Jurnal Ilmu-ilmu Sosial, 12 (1), Hlm 10 – 17.
Theresia, fenny. 2014. Evaluasi minat baca pelajar dikota metro. STAIN Jurai Siwa Metro. 11(2).
Yetti, rivda. Vol 9. 2009. Pengaruh keterlibatan orang tua terhadap minat membaca anak ditinjau dari pendekatan stres lingkungan.universitas negri padang.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal Penilaian Akhir Semester Dua Budaya Alam Minangkabau

A. Berilah tanda (x) pada jawaban yang paling benar!   1. Acara menaikkan Rumah bertujuan untuk…. a. Kelihatan mewah b. Mengadakan do’a selamat c. Biar dipuji orang d. Membanggakan 2. Himpunan orang sekaum adalah…. a. Se ibu c.   Sepayung b. Saparuik d.   Sesuku 3. Rumah gadang didirikan berstatus koto atau nigari biasanya memiliki gonjong…. Buah a. Dua c.   Empat b. Tiga d.   Lima 4. Suku Wira adalah piliang dan suku Bayu juga piliang. Wira dan Bayu disebut…. a. Sesuku c.   Sekampung b. Seibu d.   Sekawan 5. Bagi orang Minangkabau, yang di jadikan tempat bermusyawarah adalah…. a. Rumah gadang b. Kantor c. Mushalla d. Kantor pemda 6. Rumah gadang jarang rusak bila terjadi gempa, sebab tiangnya diletakkan di atas…. a. Kayu c.   Batu b. Tembok d. Tanah 7. Adat Minangkabau sesuai dengan ajaran…. a. Khatolik c.   Hindu b. Bu...

Tantangan dan Prospek Pendidikan Sekolah Dasar di Indonesia Saat Ini

Pendidikan Sekolah Dasar (SD) merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan SD di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi. Artikel ini akan menjelaskan tantangan utama yang dihadapi pendidikan SD saat ini, termasuk kurangnya fasilitas, ketimpangan kualitas pendidikan, dan tantangan dalam implementasi kurikulum. Selain itu, artikel ini juga akan membahas prospek dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kualitas pendidikan SD di Indonesia. I. Tantangan dalam Pendidikan Sekolah Dasar     A. Kurangnya Fasilitas Pendukung Kekurangan ruang kelas, fasilitas olahraga, dan laboratorium: Banyak sekolah dasar di Indonesia masih mengalami kekurangan ruang kelas yang memadai. Selain itu, fasilitas olahraga dan laboratorium juga seringkali tidak memadai atau bahkan tidak tersedia di sekolah-sekolah tersebut. Tantangan aksesibilitas pendidikan di daerah terpencil dan peda...

ISU ISU GLOBAL MASA KINI DAN MASA DEPAN

  Isu-isu global masa kini dan masa depan Ada berbagai macam permasalahan yang dihadai oleh manusia. Secara garis besar permasalahan tersebut adalah: a. Bahan makanan b. Penduduk c. Energi d. Polusi udara,air dan tanah e. Biodiversity/keanekaragaman hayati A. Bahan makanan Persoalan pangan bagi manusia sangatlah penting bahkan merupakan asasi,karena untuk melangsungkan kehidupan. Pentingnya permasalahan ini disebabkan karena banyaknya kasus manusia yang kelaparan. Akibatnya jutaan manusia meninggal karena kelaparan. Antara tahun 1847-1850 kira-kira satu setengah juta jiwa meninggal karena kelaparan,demikian juga yang terjadi di Cina,India dan sebagainya. Masalah bahan pangan berkaitan dengan: 1 . Kebutuhan obyektif pangan Kebutuhan obyektif pangan pada tingkat global merupakan fungsi dari kebutuhan bahan pokok,besaran jumlah pernduduk dunia,dan komposisinya. Semakin baik kondisi manusia sejak beberapa dasa warsa terakhir menyebabkan terjadinya pertumb...