Langsung ke konten utama

PRINSIP PRINSIP EVALUASI


MAKALAH
ASSESMEN PEMBELAJARAN DI SD

Tentang
PRINSIP-PRINSIP EVALUASI
                   



Aspek Penilaian
Skor

4
3
2
1

1.      Kebenaran Konsep





2.      Kelengkapan Konsep





3.      Kedalaman/ keluasan materi





4.      Keterkaitan konsep





5.      Kreatifitas





6.      Penampilan penyajian





a.      Annisa Corie Ladiva (18124007)





b.      Ully Fauziah (18124055)





c.       Ari Novendra (18124065)





7.      Penguasaan





8.      Cakupan dan kecukupan referensi





Jumlah Skor Perolahan
















DOSEN PENGAMPU MATA KULIAH :
Dr. YANTI FITRI, M.Pd





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR
PROGRAM pascasarjana 
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2018

 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah salah satu upaya manusia untuk bisa menggapai cita-citanya, sebagaimana defenisi pendidikan itu sendiri adalah aktifitas atau usaha manusia untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi bawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam masyarakat dan kebudayaan untuk memperoleh hasil dan potensi. Dengan pendidikan ini pula manusia berpikir lebih maju dan ingin selalu mengetahui sesuatu yang semula sebelum tahu menjadi tahu, karena penemuan-penemuan itu pula maka terjadilah yang namanya inovasi. Dan guna efesiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas.
Mutu pendidikan dipengaruhi banyak faktor, yaitu siswa, pengelola sekolah (Kepala Sekolah, karyawan dan Dewan/Komite Sekolah), lingkungan (orangtua, masyarakat, sekolah), kualitas pembelajaran, kurikulum dan sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan yang dinyatakan  Djemari Mardapi (dalam Eko, 2012:1) yang menyatakan bahwa bahwa: Usaha peningkatan kualitas pendidikan dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sistem penilaian. Keduanya saling terkait, sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas belajar yang baik. Selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik.
Dengan demikian salah satu faktor yang penting untuk mencapai tujuan pendidikan adalah proses pembelajaran yang dilakukan, sedangkan salah satu faktor penting untuk efektivitas pembelajaran adalah faktor evaluasi baik terhadap proses maupun hasil pembelajaran. Evaluasi dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar secara terus menerus dan juga mendorong guru untuk lebih meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta mendorong sekolah untuk lebih meningkatkan fasilitas dan kualitas manajemen sekolah.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mampu mengajar dengan baik tetapi juga mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasilbelajar, tetapi juga perlu penilaian terhadap input, output maupun kualitas proses pembelajaran itu sendiri. Optimalisasi sistem evaluasi menurut Djemari Mardapi (Dalam Eko, 2012:2) memiliki dua makna, pertama adalah sistem evaluasi yang memberikan informasi yang optimal. Kedua adalah manfaat yang dicapai dari evaluasi. Manfaat yang utama dari evaluasi adalah meningkatkan kualitas pembelajaran dan selanjutnya akan terjadi peningkatan kualitas pendidikan.
Dalam bidang pendidikan ditinjau dari sasarannya, evaluasi ada yang bersifat makro dan ada yang mikro. Evaluasi yang bersifat makro sasarannya adalah program pendidikan, yaitu program yang direncanakan untuk memperbaiki bidang pendidikan. Evaluasi mikro sering digunakan di tingkat kelas, khususnya untuk mengetahui pencapaian belajar peserta didik. Pencapaian belajar ini bukan hanya yang bersifat kognitif saja, tetapi juga mencakup semua potensi yang ada pada peserta didik. Namun yang terjadi saat ini banyak terjadi kesalahan yang dilakukan oleh guru khususnya dalam melakukan evaluasi pembelajaran terhadap hasil belajar siswa. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak factor baik itu dari guru maupun yang datang dari siswa
B.     Rumusan masalah
Berdasarkan  latar belakang tersebut maka rumusan masalahnya adalah :
1.      Apa saja prinsip-prinsip dalam melakukan evaluasi?
2.      Bagaimanakan cara mengidentifiksi sumber-sumber yang berpotensi menyebabkan kesalahan  dalam evaluasi?
3.      Bagaimanakah prosedur untuk meminimalkan kesalahan dalam melakukan evaluasi?
4.      Bagimanakah cara memilih metode yang paling tepat untuk memperkirikan kesalahan dalam melakukan evaluasi?
5.      Bagaimanakah  menggunakan  informasi yang diperoleh meskipun mungkin tidak sepenuhnya akurat?
C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah maka tujuannya adalah.
1.      Menjelaskan prinsip-prinsip dalam melakukan evaluasi
2.      Mendeskripsikan sumber-sumber potensial kesalahan dalam evaluasi.
3.      Mendeskripsikan  prosedur untuk meminimalkan kesalahan dalam evaluasi.
4.      Mendeskripsikan cara memilih dan menjelaskan metode yang paling tepat untuk memperkirikan kesalahan dalam evaluasi.
5.      Mendeskripsikan secara singkat bagaimana informasi yang diperoleh dapat digunakan meskipun mungkin tidak sepenuhnya akurat.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian evaluasi
              Istilah evaluasi tidaklah asing dalam dunia pendidikan dan  pembelajaran. Pada akhir suatu program pendidikan, pembelajaran atau  pelatihan, pada umumnya diadakan evaluasi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah suatu program pendidikan, pembelajaran, atau pelatihan tersebut telah dikuasai oleh pesertanya atau belum. Dalam membahas masalah evaluasi dalam bidang pendidikan, ada tiga istilah yang sering dipakai, yaitu pengukuran (measurement), penilaian (assessment ), evaluasi (evaluation). Pengukuran (measurement ) adalah tindakan membandingkan sesuatu dengan 1 ukuran tertentu. Dengan kata lain,  pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas daripada sesuatu. Penilaian (assessment ) adalah proses pengumpulan dan  pengolahan informasi untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) hasil belajar dari peserta didik. Evaluasi ( Evaluation) adalah suatu tindakan atau kegiatan yang sistematis dan berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) daripada sesuatu berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu.Salah satu kompetensi guru professional adalah kemampuan mengadakan evaluasi. Sehingga dapat disimpulkan evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan, dan menyeluruh, penjaminan dan  penetapan kualitas (nilai dan arti) berbagai komponen pembelajaran  berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu sebagai bentuk  pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan pembelajaran
B.     Asumsi yang medasari prinsip evaluasi
Menurut TenBrink (1974:22-23) ada tiga hal yang menjadi asumsi yang mendasari prinsip dasar evaluasi ini yaitu :
1.      Individu memiliki  kemampuan yang terukur (bisa diukur)
Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda baik itu dari segi intelektual, kemampuan berbicara, kemampuan atitmatika dan lainnya. Namun, semua kemampuan tersebut dapat diukur besarnya sehingga dengan adanya evaluasi ini dapat mengetahui besaran dari kemampuan tersebut
2.      Observasi/pengamatan mengandung kesalahan
      Dalam teori pengukuran, ini berati skor yang diamati tidak sama dengan skor yang sebenarnya. Hal berarti pengamatan memiliki kelemahan yang pokok dalam menentukan kemampuan yang sebenarnya seseorang. Pengamatan lebih cenderung melakukan kesalahan karena hanya melihat dari sisi luar atau kulitnya saja dalam menilai sehingga tidak mengetahui kemampuan yang sebanarnya dari individu tersebut.
3.      Skor yang diamati terdiri dari skor sebanarnya ditambah skor kesalahan
      Pada saat melakukan penilaian terkadang kita memberikan penilaian yang kurang tepat terhadap yang dinilai baik itu lebih mengurai penilaian sebenarnya maupu melebihi nilai yang sebenarnya. Kesalahan dalam pengukuran akan mengurangi akurasi skor yang diamati. Maka dari itu kita harus belajar untuk mengatasi kesalahan dalam evaluasi dalam rangka untuk membuat keputusan yang paling tepat.

C.    PRINSIP DASAR EVALUASI
Menurut TenBrink (1974:24) setiap kali kita mendapatkan informasi, beberapa kesalahan akan terjadi. Prinsip-prinsip dasar evaluasi dirancang untuk dapat membantu dalam mengatasi kesalahan tersebut.  prinsip-prinsip ini menyatakan bahwa
1.      Sumber kesalahan dapat diketahui
Dengan adanya mengetahui sumber kesalahan, maka dapat melakukan upaya untuk mengatasi kesalahan tersebut. Berikut dijelaskan jenis kesalahan dan factor yang mempengaruhinya
a.       sumber kesalahan dalam tes dan  instrumen pengumpulan data
ada sejumlah faktor dalam tes dan instrumen pengumpulan informasi lain yang berkontribusi terhadap kesalahan (menyebabkan kesalahan). faktor-faktor ini menyebabkan informasi yang diperoleh menjdi tidak absah/valid. Faktor-faktor tersebut yaitu
1)      Konten/isi yang tidak tepat/tidak sesuai
tes yang diberikan haruslah sesuai dengan materi yang dipelajari, dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengathuan dan teknologi. Kesalahan dalam membuat tes dan intrumen (tes/intrumen tidak sesuai dengan materi yang dipelajari) akan menyebabkan data/ informasi yang diperoleh menjadi tidak abash.
2)      Kesulitan Soal/tingkat kesulitan soal
kesesuain tingkat perkembangan siswa dengan tingkat kesulitas soal harus jadi bahan pertimbangan utama. Sebab akan berpengaruh besar terhadap informasi yang diperoleh

3)      Soal yang bermakna banyak/ganda
soal yang baik tidaklah mempunyai makna yang ganda. Hal ini dikarenakan apabila soal bermakna ganda maka siswa akan sulit menentukan maksud yang sebanarnya dari pertanyaan soal tersebut
4)      Jumlah informasi
panjang tes, jumlah pertanyaan dan waktu yang dibutuhkan dalam menyesaikan soal tersebut juga berpengaruh terhadap kebenaran data yang peroleh.
b        Sumber kesalahan dalam proses pengumpulan informasi (dalam proses pengujian)
ada dua faktor yang menyebabkan kesalahan dalam proses pengumpulan informasi
1)      Penjelasan tes
adanyan informasi  dan arahan yang  jelas dalam pengerjanaan tes ini (tidak berbelit-belit) tentu berpengaruh terhadap  hasih perolehan tes siswa.selain itu, kesalahan juga bisa terjadi karena kondisi yang buruk ketika tes diberikan seperti suara ribut, angin, dan lainnya.  Informasi dan arahan yang kurang lengkap dan berbelit-belit serta situasi yang kurang mendukung saat mengerjakan tes tentu akan membuat siswa menjadi bingung dan urang fokus dalam pengerjaan tes tersebut  dan akhirnya  mempengaruhi keberhasilan siwa dalam mengerjakan tes tersebut
2)      Perhitungan/penjumlahan dan penyimpanan
perhitungan dan penyimpanan informasi yang diperoleh akan berpengaruh terhadap keabsahan data. Apila terjadi kesalahan dalam perhitungan dan penyimpanan informasi yang sudah diperoleh maka akan membuat informasi yang diperoleh menjadi kita valid atau benar
c.       Sumber kesalahan dalam diri individu yang dievaluasi
Untuk setiap individu yang dievaluasi, ada banyak faktor yang dapat berkontribusi untuk kesalahan diantaranya yaitu:
1)      Ketidakstabilan sifat
sifat manusia dan karakteristik psikologis berfluktuasi dari hari ke hari serta dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun. fluktuasi ini merupakan sumber utama dari kesalahan pengukuran.
2)      Tanggapan terhadap tugas evaluasi.
Cara di mana seorang individu merespon tes (atau tugas evaluasi lainnya) dapat menyebabkan kesalahan. Misalnya, siswa yang tidak peduli dengan tes dan yang terlampau khawatir akan mendapatkan skor yang kurang valid
3)      Kemampuan siswa dalam mengerjakan tes
4)      Kesehatan
Kesehatan merupakan factor terakhir dalam penyebab keselahan itu. Siswa yang kurang sehat saat belajar dan mengerjakan tes akan mempengaruhi hasil yang siswa dapatkan.
2.      Kesalahan dapat diminimalkan
Mungkin prinsip yang paling penting dari evaluasi adalah prinsip bahwa kesalahan dapat diminimalkan. Pepatah lama "lebih baik untuk melakukan hal yang benar daripada menjelaskan mengapa Anda melakukan hal yang salah" tentu berlaku untuk evaluasi.
Menurut TenBrink (1974:28-30) ada 3 Aturan untuk memastikan relevansi dan validitas informasi yang diperoleh yaitu 1) menghubungkan segala kegiatan evaluasi untuk dasar evaluasi (semua kegiatan yang dilakukan harus berujung pada evaluasi), 2) Pada setiap langkah dalam proses evaluasi, jelas, singkat, dan konsisten, 3) Selalu mendapatkan sampel yang representatif dari informasi yang dibutuhkan.
a.       Menghubungkan semua kegiatan evaluasi untuk  dasar evaluasi
Jelas, aturan ini dirancang terutama untuk membantu dalam mendapatkan informasi yang valid. Yang perlu diingat, untuk informasi valid itu harus memenuhi tujuan yang dimaksudkan. Jadi semua kegiatan yang dilakukan harus sesuai dengan tujuan yang telah dirancang dan untuk melihat ketercapaian tujuan tersebut dilakukan evaluasi yang sesuai dengan pencapaian tujuan tersebut.
b.      Pada setiap langkah dalam proses evaluasi, jelas, singkat, dan konsisten
Proses evaluasi harus lah dilaksanakan secara jelas, singkat dan konsisten. Hal ini berarti dalam memberikan sebuah evaluasi haruslah dilaksanakan secara jelas dan  tepat sasaran. Apabila evaluasi yang dilaksanakan secara kurang jelas dan kurang tepat sasaran akan menyebabkan data/ informasi yang diperoleh menjadi kurang bisa dipertanggungjawabkan atau dapat dikatan kurang valid.

c.       Mendapatkan sampel yang representatif dari informasi yang dibutuhkan
Sampel yang representatif adalah sampel yang benar-benar dapat mewakili dari seluruh populasi. Pengambilan sampel harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang benar-benar dapat menggambarkan keadaan populasi yang sesungguhnya atau dapat juga dikatakan sampel haruslah representatif (mewakili) populasi
Menurut TenBrink (1974:32-34) ada 4 langkah yang harus ditempuh dalam mendapatnya sample yang representatif
1.      Menjelaskan populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek atau totalitas subjek penelitian yang dapat berupa; orang, benda, / suatu hal yang di dalamnya dapat diperoleh dan atau dapat memberikan informasi (data) penelitian. Hai ini sesuai dengan pendapat furqon (2001:135) yang mnyatakan “populasi adalah sekumpulan obyek, orang, atau keadaan yang paling tidak memiliki satu karakteristik umum yang sama”
Sedangkan Sedangkan menurut  sugiyono (2003:55) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Dalam penentuan populasi ini perlu diperkirakan ukuran populasi. Selain itu, juga  perlu menentukan jenis individu dalam populasi itu. Dan juga  perlu mengetahui proporsi perkiraan masing-masing jenis individu dalam populasi
Jadi populasi adalah Sekumpulan obyek, orang, atau keadaan yang menjadi perhatian peneliti dan akan digunakan oleh peneliti untuk menggeneralisasikan hasil penelitiannya
2.      Menjelaskan sample representatif
Sampel adalah sebagian atau wakil dari pupulasi yang diteliti (Arikunto, 2010:131). Fraenkel (dalam Furqon (2001:136) menyatakan bahwa “sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan karakteristik populasinya
Pada langkah menjelaskan sample representative ini, kita menjalaskan ukuran sampel yang diperlukan dalam penelitian tersebut. Menurut arikunto  (2010:183) ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam menentukan sampel  berdasarkan tujuan tertentu, yaitu: 1) Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri –ciri, sifat –sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan ciri –ciri pokok populasi, 2)Subjek yang diambil sebagai sampel benar –benar merupakan subjek yang paling banyak mengandung ciri – ciri yang terdapat pada populasi. 3) Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi  pendahuluan. Pada langkah menjelaskan sample representative ini, kita menjalaskan ukuran sampel yang diperlukan dalam penelitian tersebut
3.      Menentukan teknik sampilngnya
Teknik sampling yaitu Suatu teknik atau cara dalam mengambil sampel yang representatif dari populasi. Teknik yang digunakan dalam mengambil sambel yang representatif ini terdiri dari dua teknik yaitu teknik random sampling/ sampling probabilitas dan Sampling Non Probabilitas
a.       Random sampling/sampling probabilitas adalah sesuatu cara pengambilan sample yang memberikan kesempatan atau peluang yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. maksudnya jika elemen populasinya ada 50 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/50 untuk bisa dipilih menjadi sampel.
Teknik ramdong sampling ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu
a.       Simple Random Sampling : Satuan sampling dipilih secara acak. Peluang untuk terpilih harus diketahui besarnya, dan untuk tiap satuan sampling besarnya harus sama. Misalnya ada sebuah penelitian mengenai “Model Pembiayaan Pendidikan Dasar di Jawa Barat”, sampelnya adalah seluruh SD dan SMP yang ada di Jawa Barat. Terhadap seluruh SD dan SMP tersebut dilakukan pemilihan secara random tanpa melakukan pengelompokkan terlebih dahulu, dengan demikian peluang masing-masing SD maupun SMP untuk terpilih sebagai sampel sama.
b.      Stratified Random Sampling : Populasi dibagi ke dalam sub populasi (strata), dengan tujuan membentuk sub populasi yang didalamnya membentuk satuan-satuan sampling yang memiliki nilai variabel yang tidak terlalu bervariasi (relatif homogen). Selanjutnya dari setiap stratum dipilih sampel melalui proses simple random sampling. Misalnya dalam penelitian yang sama seperti di atas, semua sekolah baik SD maupun SMP di Jawa Barat diklasifikasikan atau distratifikasi terlebih dahulu ke dalam sekolah yang berbiaya mahal, sedang, dan murah. Kemudian dari masing-masing strata dipilih sekolah dengan teknik simple random sampling.
c.       Cluster Random Sampling. Populasi dibagi ke dalam satuan-satuan sampling yang besar, disebut Cluster. Berbeda dengan pembentukan strata, satuan sampling yang ada dalam tiap kluster harus relatif heterogen. Pemilihan dilakukan beberapa tingkat: (1) Memilih kluster dengan cara simple random sampling. (2) Memilih satuan sampling dalam kluster. Jika pemilihan dilakukan lebih dari 2 kali disebut Multi-stage Cluster Sampling. Misalnya dalam penelitian yang sama seperti di atas, karena Jawa Barat sangat luas, dipilihlah kabupaten/kota tertentu sebagai sampel klaster ke-1 secara random. Dari tiap kabupaten terpilih dilakukan pemilihan lagi, yaitu kecamatan-kecamatan tertentu dengan cara random sebagai sampel klaster ke-2. Selanjutnya dari masing-masing kecamatan dilakukan pemilihan sekolah yang juga dilakukan secara random
b.        Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Tekniknya antara lain sebagi berikut:
1)        Haphazard Sampling : Satuan sampling dipilih sembarangan atau seadanya, tanpa perhitungan apapun tentang derajat kerepresentatipannya. Misalnya ketika kita akan melakukan penelitian mengenai kompetensi dosen di sebuah Universitas, pertanyaan dapat diajukan kepada siapapun mahasiswa dari universitas tersebut (sebagai sampel) yang kebetulan datang pada saat kita berada di sana untuk melakukan penelitian.
2)        Snowball Sampling : Satuan sampling dipilih atau ditentukan berdasarkan informasi dari responden sebelumnya. Misalnya ada penelitian yang bertujuan untuk mencari cara yang efektif dalam mensosialisasikan program-program kemahasiswaan. Sampel pertama barangkali bisa dipilih Ketua BEM, kepada dia kita bertanya, siapa lagi (sebagai sampel ke-2) yang kira-kira bisa diwawancara untuk diambil pendapatnya, dan seterusnya hingga informasi dianggap memadai.
3)   Purposive Sampling : Disebut juga Judgment Sampling. Satuan sampling dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu dengan tujuan untuk memperoleh satuan sampling yang memiliki karakteristik yang dikehendaki. Misalnya dalam sebuah penelitian pengelolaan pendidikan yang bertujuan untuk melihat daya saing SMA dalam kerangka WTO, barangkali untuk tahap awal akan lebih baik sampel dipilih dari SMA yang memiliki nilai UAN baik, populer di masyarakat, serta kelulusan siswa masuk PTN cukup tinggi. Pengambilan sampel ini dapat dibagi dua yaitu judgment sampling san quota sampling:
1.      Judgment sampling  ialah teknik pengambilan sampling dimana sampel yang dipilih berdasarkann penilaian peneliti bahwa dia atau seseorang yang paling baik jika dijadikan sampel penelitiannya. Contoh : misalnya dalam suatu perusahaan untuk memperoleh data tentang bagaimana satu proses produksi direncanakan oleh suatu perusahaan, maka manajer produksi merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan informasi.
2.      Quota sampling ialah teknik pengambilan sampling dalam bentu distratifikasikan secara proposional, namun tidak dipilih acak melainkan secara kebetulan saja. Contoh :  Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki 60%  dan perempuan 40%. Jika seorang peneliti ingin mewawancari 30 orang pegawai dari kedua jenis kelamin tadi maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki sebanyak 18 orang sedangkan pegawai perempuan 12 orang. Sekali lagi, teknik pengambilan ketiga puluh sampel tadi tidak dilakukan secara acak, melainkan secara kebetulan saja.
4.      Memperoleh sample
Setelah menggunakan teknik sampling cocok maka barulah sampel representative di dapatkan
3.      Kesalahan dapat diperkirakan
Memperkirakan suatu kesalahan dalam sebuah evaluasi dapat membuat evaluasi yang dilakukan dapat menjadi lebih baik , terarah dan lebih tepat dalam mengambil keputuasan. Sebelum membahas prosedur untuk memperkirakan kesalahan, mungkin layak-sementara untuk meninjau konsep kesalahan. Gagasan kesalahan diperluas untuk mencakup tidak hanya kesalahan pengukuran (tidak dapat diandalkan) tetapi juga jenis kesalahan yang terjadi ketika informasi yang tidak mendukung tujuan yang telah ditetapkan (ketidakabsahan).
berikutnya dijelaskan berbagai teknik untuk memperkirakan reabilitas dan validitas informasi dalam evaluasi
a.       Reabilitas
1)      Pengertian
Reabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang konsisten, relatif tidak berubah walaupun diteskan pada situasi yang berbeda-beda. Reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai dimana suatu tes mampu menunjukkan konsisten hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketetapan dan ketelitian hasil.  Reliabel tes berhubungan dengan ketetapan hasil tes.
2)      Kegunaan reabilitas
Kegunaan dari reabilitas data adalah untuk mengetahui atau menunjukkan ketepatan suatu tes dalam mengukur gejala yang sama pada waktu dan kesempatan yang berbeda.
b.      Validitas
1)      Pengertian
Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Jadi pengujian validitas itu mengacu pada sejauh mana suatu instrument dalam menjalankan fungsi. Instrument dikatakan valid jika instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Menurut Sugiyono (2008:363).  Sebagai contoh,  ingin mengukur kemampuan siswa dalam matematika. Kemudian diberikan soal dengan kalimat yang panjang dan yang berbelit-belit sehingga sukar ditangkap maknanya. Akhimya siswa tidak dapat menjawab, akibat tidak memahami pertanyaannya. Contoh lain, peneliti ingin mengukur kemampuan berbicara, tapi ditanya mengenai tata bahasa atau kesusastraan seperti puisi atau sajak. Pengukur tersebut tidak tepat (valid). Validitas tidak berlaku universal sebab bergantung pada situasi dan tujuan penelitian. Instrumen yang telah valid untuk suatu tujuan tertentu belum otomatis akan valid untuk tujuan yang lain.
2)      Macam-macam Validitas
Ada tiga jenis validitas yang sering digunakan dalam penyusunan instrumen, yaitu:
a)      Validitas isi
Validitas isi berkenaan dengan kesanggupan instrumen mengukur isi yang harus diukur. Artinya, alat ukur tersebut mampu mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. Misalnya tes hasil belajar bidang studi IPS, harus bisa mengungkap isi bidang studi tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menyusun tes yang bersumber dari kurikulum bidang studi yang hendak diukur. Di samping kurikulum dapat juga diperkaya dengan melihat/mengkaji buku sumber. Sehingga tes hasil belajar tidak mungkin dapat mengungkap semua materi yang ada dalam bidang studi tertentu sekalipun hanya untuk satu semester. Oleh sebab itu harus diambil sebagian dari materi dalam bentuk sampel tes. Sebagai sampel maka harus dapat mencerminkan materi yang terkandung dari seluruh materi bidang studi. Cara Yang ditempuh dalam menetapkan sampel tes adalah memilih konsep-konsep yang esensial dari materi yang di dalamnya. Misalnya menetapkan sejumlah konsep dari setiap pokok bahasan yang ada. Dari setiap konsep dikembangkan beberapa pertanyaan tes (lihat bagan). Di sinilah pentingnya peranan kisi-kisi sebagai alat untuk memenuhi validitas isi.
Dalam hal tertentu tes yang telah disusun sesuai dengan kurikulum (materi dan tujuannya) agar memenuhi validitas isi, peneliti atau pemakai tes dapat meminta bantuan ahli bidang studi untuk menelaah apakah konsep materi yang diajukan telah memadai atau tidak, sebagai sampel tes. Dengan demikian validitas isi tidak memerlukan uji coba dan analisis statistik atau dinyatakan dalam bentuk angka-angka.
b)      Validitas bangun pengertian (Construct validity)
Validitas bangun pengertian  (Construct validity)  berkenaan dengan kesanggupan alat ukur mengukur pengertian-pengertian yang terkandung dalam materi yang diukurnya. Pengertian-pengertian yang terkandung dalam konsep kemampuan, minat, sebagai variabel penelitian dalam berbagai bidang kajian harus jelas apa yang hendak diukurnya. Konsep-konsep tersebut masih abstrak, memerlukan penjabaran yang lebih spesifik, sehingga mudah diukur. Ini berarti setiap konsep harus dikembangkan indikator-indikatomya. Dengan adanya indikator dari setiap konsep maka bangun pengertian akan nampak dan memudahkan dalam menetapkan cara pengukuran. Untuk variabel tertentu, dimungkinkan penggunaan alat ukur yang beraneka ragam dengan cara mengukurnya yang berlainan.
              Menetapkan indikator suatu konsep dapat dilakukan dalam dua cara, yakni (a) menggunakan pemahaman atau logika berpikir atas dasar teori pengetahuan ilmiah dan (b) menggunakan pengalaman empiris, yakni apa yang terjadi dalam kehidupan nyata.
Contoh: Konsep mengenai “Hubungan Sosial”, dilihat dari pengalaman, indikatornya empiris adalah keterkaitan dari
1.      Bisa bergaul dengan orang lain
2.      Disenangi atau banyak teman-temannya
3.      Menerima pendapat orang lain
4.      Tidak memaksakan pendapatnya
5.      Bisa bekerja sama dengan siapa pun
6.      Dan lain-lain.
              Apabila hasil tes menunjukkan indikator-indikator tes yang tidak berhubungan secara positif satu sama lain, berarti ukuran tersebut tidak memiliki validitas bangun pengertian. Atas dasar itu indikatornya perlu ditinjau atau diperbaiki kembali. Cara lain untuk menetapkan validitas  bangun pengertian  suatu alat ukur adalah menghubungkan (korelasi) antara alat ukur yang dibuat dengan alat ukur yang sudah baku/standardized, seandainya telah ada yang baku. Bila menunjukkan koefisien korelasi yang tinggi maka alat ukur tersebut memenuhi validitasnya.
c)      Validitas ramalan (predictive validity)
Validitas ramalan artinya dikaitkan dengan kriteria tertentu. Dalam validitas ini yang diutamakan bukan isi tes tapi kriterianya, apakah alat ukur tersebut dapat digunakan untuk meramalkan suatu ciri atau perilaku tertentu atau kriteria tertentu yang diinginkan. Misalnya alat ukur motivasi belajar, apakah dapat digunakan untuk meramal prestasi belajar yang dicapai. Artinya terdapat hubungan yang positif antara motivasi dengan prestasi. Dengan kata lain dalam validitas ini mengandung ciri adanya relevansi dan keajegan atau ketetapan (reliability). Motivasi dapat digunakan meramal prestasi bila skor-skor yang diperoleh dari ukuran motivasi berkorelasi positif dengan skor prestasi. Validitas ramalan ini mengandung dua makna. Pertama validitas jangka pendek dan kedua jangka panjang. Validitas jangka pendek, artinya daya ramal alat ukur tersebut hanya untuk masa yang tidak lama. Artinya, skor tersebut berkorelasi pada waktu yang sama. Misalnya, ketetapan (reliability) terjadi  pada semester dua artinya daya ramal berlaku pada semester dua, dan belum tentu terjadi pada semester berikutnya. Sedangkan validitas jangka panjang mengandung makna skor tersebut akan berkorelasi juga di kemudian hari. Mengingat validitas ini lebih menekankan pada adanya korelasi, maka faktor yang berkenaan dongan persyaratan terjadinya korelasi harus dipenuhi. Faktor tersebut antara lain hubungan dari konsep dan variabel dapat dijelaskan berdasarkan pengetahuan ilmiah, minimal masuk akal sehat dan tidak mengada-ada. Faktor lain adalah skor yang dikorelasikan memenuhi linieritas. Ketiga validitas yang dijelaskan di atas idealnya dapat digunakan dalam menyusun instrumen penelitian, minimal dua validitas, yakni validitas isi dan validitas bangun pengertian. Validitas isi dan bangun pengertian mutlak diperlukan dan bisa diupayakan tanpa melakukan pengujian secara statistika.

d)     Validitas Pengukuran Serentak (concurrent validity)
              Validitas ini lebih umum dikenal dengan validitas empiris.  Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman.  Jika istilah “sesuai” tentu ada dua hal yang dipasangkan. 
              Dalam hal ini hasil tes dipasangkan dengan hasil pengalaman.   Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (ada sekarang, concurrent). Dalam membandingkan hasil sebuah tes maka diperlukan suatu kriterium atau alat banding.  Maka hasil tes merupakan sesuatu yang dibandingkan.
              Jenis validitas pengukuran serentak ini menunjukkan kenyataan yang diperhitungkan dengan mengkorelasikan hasil ujian yang dimaksud dengan suatu ukuran lain yang pengukurannya dilaksanakan bersamaan waktu dengan pelaksanaan ujian itu.   Jika suatu tes yang memeriksa sosialibilitas misalnya, dikorelasikan dengan kedudukan sosialibilitas mahasiswa yang di tes itu menurutteman-temannya yang terdekat, maka hasilnya akan memperlihatkan kenyataan validitas jenis ini. Misalnya seorang guru ingin mengetahui apakah tes sumatif yang disusun sudah valid atau belum.  Untuk ini diperlukan sebuah kriterium mas lalu yang sekarang datanya dia memiliki misalnya nilai ulangan harian atau nilai ulangan sumatif yang lalu. 
c.       Kegunaan Validitas
a)      Untuk menghindari pertanyaan yang kurang jelas
b)      Untuk meniadakan kata-kata yang terlalu asing atau kata-kata yang menimbulkan kecurigaan
c)      Untuk memperbaiki pertanyaan-pertanyaan yang kurang jelas
d)     Untuk menambah item yang diperlukan atau meniadakan item yang dianggap tidak relevan
e)      Untuk mengetahui validitas kuesioner tersebut
4.      Kesalahan tetap bisa dipergunakan (sumber data/informasi yang didapat tetap dapat digunakan meskipun belum tentu benar-benar akurat
Tidak peduli seberapa hati-hati dan sistematis kita memperoleh informasi, beberapa kesalahan selalu akan terjadi. Namun karena kesalahan yang terjadi bisa dapat diperkirakan sehingga informasi yang diperoleh masih dapat bisa digunakan/dipakai. Meskipun informasi mengandung kesalahan akan tetapi masih bisa digunakan jika dalam penafsiran informasi tersebut dilakukan secara hati-hati. Karena semakin kecil kesalahan maka semakin bermanfaat informasi tersebut.
Berkaitan dengan di atas itulah sebabnya tes merupakan hal yang berharga dalam memperoleh informasi. Tes ini merupakan sumber informasi yang menghasilkan informasi yang lebih akurat dan lebih efisien dari pada teknik pengumpulan informasi lainnya.
Sebelum informasi dapat digunakan untuk membuat penilaian dan keputusan harus diperivikasi (diperikasa untuk melihat apakah itu benar). Aturan yang dibahas di bawah ini berfungsi sebagai pedoman dalam melakukan hal tersebut.
1)      Aturan 1 : Pembanding
Kita perlu membandingkan beberapa informasi yang telah ada sebelum membuat keptusan atau penilaan . sebuah keputusan yang kuat tidak boleh dilakukan  atas dasar nilai tes tunggal
2)      Aturan 2 : berhipotesis
Setiap potongan informasi yang didapat dari evaluasi tidak akan sepenuhnya akurat. Namun, jika informasi tersebut diperoleh secara hati-hati dan menjaga kesalahan seminimal mungkin maka informasi tersebut mungkin akan cukup akurat dan  juga dapat digunakan.
Untuk memperkirakan kesalahan informasi mungkin bisa menggunakan reabilitas dan validitas. Namun demikian informasi yang diperoleh nantinya juga mengandung kesalahan, untuk itu kita perlu membuat kesimpulan sementara atau dugaan sementara mengenai penyebab kesalahan tersebut.
Kdugaan atau kesimpulan sementara tersebut perlu diuji kebenarannya untuk lebih mendapatkan informasi yang lebih akurat dalam melakukan penilaian
3)      Komfirmasi 
Ketika anda mendapatkan bukti bahwa hipotesis berdasarkan hasil tes selalu benar, maka kita mengkomfirmasi keakuratan atau keakuratan dari skor itu. Dalam contoh di atas yang benar hipotesis kita diuji untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Salah satu untuk menguji kebenaran informasi adalah reflikasi (memperoleh informasi dalam kondisi yang sama). Cara untuk mendapatkan reflikasi adalah memberikan alternatif bentuk tes hasil prestasi, memberinya alternative bentuk tes yang sama dan membandingkan hasilnya.
BAB III
PENUTUP
A.        Kesimpulan
1.            Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan, dan menyeluruh, penjaminan dan  penetapan kualitas (nilai dan arti) berbagai komponen pembelajaran  berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu sebagai bentuk  pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan pembelajaran
2.            Prinsip-prinsip dasar evaluasi adalah :
a.       Sumber kesalahan dapat diketahui
b.      Kesalahan dapat diminimalkan
c.       Kesalahan dapat diperkirakan
d.      Kesalahan tetap bisa dipergunakan (sumber data/informasi yang didapat tetap dapat digunakan meskipun belum tentu benar-benar akurat
B.        Saran
Dengan adanya makalah ini, para pembaca dapat mengetahui secara lebih luas prinsip-prinsip dasar evaluasi pembelajaran. Demi tercapainya tujuan dari prinsip-prinsip evaluasi ini, guru diharapkan  mampu memahami prinsip evaluasi ini dalam melaksanakan evaluasi di dalam proses pembelajaran















DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Eko. 2012. Evaluasi Pembelajaran . (online).http://Eko.wordpress.com.. Diakses tanggal 01 September  2017
Furqon. 2001. Statistika Terapan untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta
Sugiyono. 2003.  Statistika untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta
TenBrink, Terri D. 1974. Evaluation:A Practical Guide For Teachers. Amerika: McGraw-Hill

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal Penilaian Akhir Semester Dua Budaya Alam Minangkabau

A. Berilah tanda (x) pada jawaban yang paling benar!   1. Acara menaikkan Rumah bertujuan untuk…. a. Kelihatan mewah b. Mengadakan do’a selamat c. Biar dipuji orang d. Membanggakan 2. Himpunan orang sekaum adalah…. a. Se ibu c.   Sepayung b. Saparuik d.   Sesuku 3. Rumah gadang didirikan berstatus koto atau nigari biasanya memiliki gonjong…. Buah a. Dua c.   Empat b. Tiga d.   Lima 4. Suku Wira adalah piliang dan suku Bayu juga piliang. Wira dan Bayu disebut…. a. Sesuku c.   Sekampung b. Seibu d.   Sekawan 5. Bagi orang Minangkabau, yang di jadikan tempat bermusyawarah adalah…. a. Rumah gadang b. Kantor c. Mushalla d. Kantor pemda 6. Rumah gadang jarang rusak bila terjadi gempa, sebab tiangnya diletakkan di atas…. a. Kayu c.   Batu b. Tembok d. Tanah 7. Adat Minangkabau sesuai dengan ajaran…. a. Khatolik c.   Hindu b. Bu...

Tantangan dan Prospek Pendidikan Sekolah Dasar di Indonesia Saat Ini

Pendidikan Sekolah Dasar (SD) merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan SD di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi. Artikel ini akan menjelaskan tantangan utama yang dihadapi pendidikan SD saat ini, termasuk kurangnya fasilitas, ketimpangan kualitas pendidikan, dan tantangan dalam implementasi kurikulum. Selain itu, artikel ini juga akan membahas prospek dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kualitas pendidikan SD di Indonesia. I. Tantangan dalam Pendidikan Sekolah Dasar     A. Kurangnya Fasilitas Pendukung Kekurangan ruang kelas, fasilitas olahraga, dan laboratorium: Banyak sekolah dasar di Indonesia masih mengalami kekurangan ruang kelas yang memadai. Selain itu, fasilitas olahraga dan laboratorium juga seringkali tidak memadai atau bahkan tidak tersedia di sekolah-sekolah tersebut. Tantangan aksesibilitas pendidikan di daerah terpencil dan peda...

ISU ISU GLOBAL MASA KINI DAN MASA DEPAN

  Isu-isu global masa kini dan masa depan Ada berbagai macam permasalahan yang dihadai oleh manusia. Secara garis besar permasalahan tersebut adalah: a. Bahan makanan b. Penduduk c. Energi d. Polusi udara,air dan tanah e. Biodiversity/keanekaragaman hayati A. Bahan makanan Persoalan pangan bagi manusia sangatlah penting bahkan merupakan asasi,karena untuk melangsungkan kehidupan. Pentingnya permasalahan ini disebabkan karena banyaknya kasus manusia yang kelaparan. Akibatnya jutaan manusia meninggal karena kelaparan. Antara tahun 1847-1850 kira-kira satu setengah juta jiwa meninggal karena kelaparan,demikian juga yang terjadi di Cina,India dan sebagainya. Masalah bahan pangan berkaitan dengan: 1 . Kebutuhan obyektif pangan Kebutuhan obyektif pangan pada tingkat global merupakan fungsi dari kebutuhan bahan pokok,besaran jumlah pernduduk dunia,dan komposisinya. Semakin baik kondisi manusia sejak beberapa dasa warsa terakhir menyebabkan terjadinya pertumb...