Langsung ke konten utama

Angga fahreza : analisis masalah dan variabel penelitian

ANALISIS MASALAH DAN VARIABEL PENELITIAN

A. Analisis Masalah
1. Pengertian Masalah
Masalah (bahasa Inggris: problem) kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan. Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan. Umumnya masalah disadari "ada" saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan. Dalam beberapa literatur riset, masalah seringkali didefinisikan sebagai sesuatu yang membutuhkan alternatif jawaban, artinya jawaban masalah atau pemecahan masalah bisa lebih dari satu. Selanjutnya dengan kriteria tertentu akan dipilih salah satu jawaban yang paling kecil risikonya. Biasanya, alternatif jawaban tersebut bisa diidentifikasi jika seseorang telah memiliki sejumlah data dan informasi yang berkaitan dengan masalah bersangkutan.
Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa penelitian dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang dimulai dengan adanya penyimpangan. Stonner (1982) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan, dan kompetisi. Menurut Suryabrata (1994 : 60) masalah merupakan kesenjangan antara harapan (das sollen) dengan kenyataan (das sein), antara kebutuhan dengan yang tersedia, antara yang seharusnya (what should be) dengan yang ada (what it is) (Suryabrata, 1994: 60). Penelitian dimaksudkan untuk menutup kesenjangan (what can be). John Dewey dan Kerlinger secara terpisah memberikan penjelasan mengenai masalah berupa kesulitan yang dirasakan oleh orang awam maupun seorang peneliti.Kesulitan ini menghalangi tercapai sebuah tujuan baik itu tujuan individu maupun sebuah kelompok. Masalah dalam penelitian diekspresikan dalam bentuk kalimat tanya bukan kalimat pernyataan. Masalah dalam ini selanjutnya dijawab melalui penelitian.
2. Sumber Masalah dalam Penelitian
Permasalahan dapat berasal dari berbagai sumber. Menurut James H. MacMillan dan Schumacher (Hadjar, 1996 : 40 – 42), masalah dapat bersumber dari :
a. Observasi
Masalah dalam penelitian dapat diangkat dari hasil observasi terhadap hubungan tertentu yang belum memiliki penjelasan memadai dan cara-cara rutin yang dalam melakukan suatu tindakan didasarkan atas otiritas atau tradisi.
b. Dedukasi dari teori
Teori merupakan konsep-konsep yang masih berupa prinsip-prinsip umum yang penerapannya belum dapat diketahui selama belum diuji secara empiris. Penyelidikan terhadap masalah yang dianggap dari teori berguna untuk mendapatkan penjelasan empiris praktik tentang teori.
c. Kepustakaan
Hasil penelitian mungkin memberikan rekomendasi perlunya dilakukan penelitian ulang (replikasi) baik dengan atau tanpa variasi.Replikasi dapat meningkatkan validitas hasil penelitian dan kemampuan untuk digeneralisasikan lebih luas. Laporan penelitian sering juga menyampaikan rekomendasi kepada peneliti lain tentang apa yang perlu diteliti lebih lanjut. Hal ini juga menjadi sumber untuk menentukan masalah yang menentukan masalah yang perlu diangkat untuk diteliti.
d. Masalah sosial
Masalah sosial yang ada di sekitar kita atau yang baru menjadi berita terhangat (hot news) dapat menjadi sumber masalah penelitian. Misalnya : Adanya perkelahian antar sekolah menimbulkan berbagai dampak bagi sekolah dan warga sekitar. Penggalakan program 3 M (menguras, mengubur, menimbun) sebagai upaya pencegahan penyakit demam berdarah.Dalam pembuatan keputusan tertentu, sering mendesak untuk dilakukan penelitian evaluatif.Hasil sangat diperlukan untuk dijadikan dasar pembuatan keputusan lebih lanjut.
e. Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi dapat menimbulkan masalah yang memerlukan jawaban empiris untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam (Purwanto 2010:109-111).
Masalah dalam penelitian pendidikan dapat diperoleh dari berbagai sumber yang terkait dengan bidang pendidikan, Sukardi (2009:22-24) dalam, antara lain :
1) Pengalaman seseorang atau kelompok. Pengalaman orang yang telah lama menekuni bidang profesi pendidikan dapat digunakan untuk membantu mencari permasalahan yang signifikan diteliti.Contoh : pengalaman mengajar di kelas.
2) Lapangan tempat bekerja. Para peneliti dapat melihat secara langsung, mengalami dan bertanya pada satu, dua, atau banyak orang dalam pekerjaannya. Seorang guru misalnya, akan merasakan bahwa sekolah dan komponen yang berkaitan dengan tercapainya tujuan sekolah dpat dijadikan sebagai sumber penelitian.
3) Laporan hasil penelitian. Dari hasil penelitian, yang biasanya dalam bentuk jurnal, biasanya disamping ada hasil temuan yang baru juga ada kemungkinan penelitian yang direkomendasikan.
4) Sumber-sumber yang berasal dari pengetahuan orang lain. Perkembangan ilmu pengetahuan lain di luar bidang yang dikuasai seringkali memberikan pengaruh munculnya permasalahan penelitian. Misalnya, gerakan reformasi yang muncul setelah Orde Baru, ternyata telah memunculkan dan mempengaruhi sikap dan tuntutan para guru untuk memperoleh gaji dan status profesi yang lebih baik.

3. Jenis-Jenis Masalah Dalam Penelitian
Masalah penelitian dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis menurut Sugiyono (1994 : 36-39 dalam afidburhanuddin.wordpress.com, antara lain :
1. Permasalahan Deskriptif
Permasalahan deskriptif merupakan permasalahan dengan variabel mandiri baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Dalam penelitian ini, peneliti tidak membuat perbandingan variabel yang satu pada sampel yang lain, hanya mencari hubungan variabel yang satu dengan variabel yang lain. Contoh permasalahan deskriptif : Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid sekolah di Indonesia? Seberapa besar efektivitas model pembelajaran jigsaw terhadap prestasi belajar siswa ?
2. Permasalahan Komparatif
Permasalahan ini merupakan rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda pada waktu yang berbeda.Contoh : Adakah perbedaan prestasi belajar antara murid dari sekolah A dan sekolah B ? (variabel penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel sekolah A dan sekolah B). Adakah perbedaan pemahaman terhadap materi listrik antara siswa di sekolah formal dengan siswa homeschooling?
3. Permasalahan Asosiatif
Merupakan rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan, yaitu
a) Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama. Contoh perumusan masalahnya adalah sebagai berikut: Adakah hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin negara? Adakah hubungan antara jumlah payung yang terjual dengan jumlah murid sekolah?
b) Hubungan kausal. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen (dipengaruhi), contoh: Adakah pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar anak? (pendidikan orang tua variabel independen dan prestasi belajar variabel dependen). Seberapa besar pengaruh kurikulum, media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah? (kurikulum, media, dan kualitas guru sebagai variabel independen dan kualitas SDM sebagai variabel dependen).
c) Hubungan interaktif/ resiprocal/ timbal balik Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen, contoh: Hubungan antara motivasi dan prestasi belajar anak SD di kecamatan A. Di sini dapat dinyatakan motivasi mempengaruhi prestasi tetapi juga prestasi dapat mempengaruhi motivasi. Hubungan antara makan di pagi hari dengan kecerdasan siswa.
4. Kriteria Masalah Dalam Penelitian
Ada tiga kriteria untuk menentukan permasalahan yang baik dan pernyataan masalah yang baik (Kerlinger, 2006 : 29-30), yaitu :
a. Masalah harus mengungkapkan suatu hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan demikian, masalah-masalah itu mengajukan pernyataan-pernyataan seperti : Apakah A terkait dengan B ? Apakah motivasi belajar mempengaruhi hasil belajar ?
b. Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak ambigu dalam bentuk pertanyaan.
c. Masalah dan pernyataan masalah harus dirumuskan dengan cara tertentu yang menyiratkan adanya pengujian yang empiris.
5. Identifikasi Masalah
Mengidentifikasi masalah penelitian dilakukan untuk menentukan masalah mana yang perlu segera dicari penyelesaiannya. Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan dapat dilakukan dengan cara mengelompokkan sekaligus memetakan masalah-masalah tersebut secara sistematis berdasarkan keahlian bidang peneliti. Menurut Ahmad nursanto dalam mengidentifikasi masalah perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Esensial, masalah yang akan diidentifikasi menduduki urutan paling penting diantara masalah-masalah yang ada. Urgen, masalah yang akan dipecahkan mendesak untuk dicari penyelesaiannya. Masalah mempunyai manfaat apabila dipecahkan.
Dalam dunia pendidikan masalah yang diidentifikasi dapat dikelompokan menjadi 4, yaitu : proses pembelajaran, siswa, guru, hasil belajar. Meskipun proses identikasi masalah sudah ditemukan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebagai fokus penelitian. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah minat/motivasi/dorongan peneliti, kemampuan peneliti, lokasi penelitian, sumber data (populasi dan sampel), waktu, pendekatan/metode yang digunakan, buku sumber yang tersedia, etika dan birokrasi. Bila kesemua hal tersebut telah terpenuhi maka suatu fokus masalah dapat dijadikan sebagai masalah penelitian untuk dicari jawabannya .
6. Syarat-syarat/Ciri-ciri Masalah
Di bawah ini adalah ciri-ciri atau karakteristik masalah secara umum, yaitu ada lima antara lain :
1. Merupakan kesulitan yang harus diatasi
2. Dapat dijadikan sebagai suatu tantangan dan rintangan yang harus dilalui
3. Mempunyai sifat penting dan realistis
4. Dapat menggerakkan seseorang untuk mengatasinya atau memecahkannya
5. Berguna apabila dipecahkan dipecahkan
Sedangkan Ciri-ciri masalah menurut "teori dewey" ada lima juga, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Membuat seseorang merasa bimbang, bingung dan kesulitan.
2. Membuat seseorang berusaha untuk merumuskan masalah karena ingin dipecahkan, hal ini bertujuan untuk mengatasi kebimbangan, kebingungan dan kesulitan yang dialaminya.
3. Masalah akan membuat seseorang berusaha untuk menguji hipotesis dengan cara mengumpulkan data-data yang sebenarnya sebagai suatu langkah untuk menemukan solusi dalam masalah yang dialaminya.
4. Masalah akan membuat seseorang mengembangkan ide untuk mendapatkan pemecahan yang terbaik melalui penalaran
5. Masalah akan membuat seseorang mengambil kesimpulan yang didukung fakta-fakta atau bukti-bukti yang telah dikumpulkannya.
Dalam memilih rumusan masalah penelitian yang akan dijadikan awal penelitian, maka perlu diperhatikan ketentuan ciri-ciri pernyataan masalah penelitian yang baik sebagai berikut ;
1) Masalah yang dipilih harus mempunya nilai penelitian
a. Masalah harus mempunyai keaslian.
b. Masalah harus menyatakan suatu hubungan.
c. Masalah harus merupakan hal yang penting.
d. Masalah harus dapat di uji.
e. Masalah harus mencerminkan suatu pertanyaan.
2) Masalah yang dipilih dengan bijak, artinya :
a. Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia.
b. Biaya untuk memecahkan masalah, secara relatif harus dalam batas-batas kemampuan.
c. Waktu memecahkan masalah harus wajar.
d. Biaya dan hasil harus seimbang.
e. Administrasi dan sponsor harus kuat.
f. Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.
3) Masalah dipilih dengan kualifikasi peneliti
a. Menarik bagi peneliti
b. Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti
7. Perumusan Masalah
Rumusan Masalah adalah usaha untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau dicarikan jalan pemecahan masalahnya. Rumusan masalah merupakan suatu penjabaran dari identifikasi masalah dan pembatasan masalah. Dengan kata lain, rumusan masalah ini merupakan pertanyaan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti didasarkan atas identifikasi masalah dan pembatasan masalah. Suatu perumusan masalah yang baik berarti telah menjawab setengah pertanyaan atau dari masalah. Masalah yang telah dirumuskan dengan baik, tidak hanya membantu memusatkan pikiran, sekaligus juga mengarahkan cara berpikir kita. Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap pembuatan makalah yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pembuatan makalah. Tanpa Perumusan Masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.
Menurut garis besarnya, rumusan masalah dapat dibagi atas rumusan masalah deskriptif, rumusan masalah komparatif dan juga rumusan masalah asosiatif. Contoh-contoh rumusan masalah yang dimaksud sebagai berikut.
c. Deskriptif
1) Berapa persen tingkat disiplin kerja di peternakan A ?
2) Seberapa jauh efektivitas kerja di peternakan A ?
d. Komparatif
1) Bagaimana perbedaan disiplin kerja di peternakan A dengan di peternakan B ?
2) Apakah terdapat perbedaan efektivitas kerja di peternakan A dengan peternakan B ?
e. Asosiatif
1) Apakah terdapat hubungan antara peternakan A dan peternakan B ?
2) Bagaimana hubungan antara peternakan A dan peternakan B ?
Beberapa contoh kesalahan kesalahan umum yang sering terjadi di dalam merumuskan masalah.
a. Berusaha mengumpulkan data tanpa perencanaan yang matang dengan harapan sesuatu pasti akan dapat timbul dari analisis.
b. Menggunakan data yang sudah dikumpulkan atau yang telah ada, kemudian dilanjutkan dengan mencari masalah yang kira kira cocok dengan data yang ada.
c. Merumuskan tujuan secara mengambang atau terlalu umum sehingga kesimpulannya juga bersifat umum. Akibatnya, tujuan menjadi kurang terpusat.
d. Melaksanakan penelitian tanpa mengadakan kajian pustaka terhadap penelitian lainnya yang relevan.
e. Melakukan penelitian ad-hoc, unik untuk suatu situasi khusus sehingga tidak memungkinkan perluasan (generalisasi) dan tidak menghasilkan sumbungan berarti dalam memajukan ilmu.
f. Melakukan penelitian tanpa landasan teori yang mapan untuk memberi kesempatan membandingkan hasilnya dan mengevaluasi kesimpulannya.
g. Dalam merumuskan hipotesis tidak mengkaji secara tuntas adanya kemungkinan hipotesis tandingan yang dapat menjaga interpretasi atau kesimpulan penelitian.
h. Tidak menyadari kekurangan metodologi penelitian yang digunakan, sehingga yang terjadi dapat membatasi penafsiran kesimpulan penelitian.
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan.
b. Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan.
c. Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya.
d. Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.
Ada beberapa kondisi yang bisa di lakukan untuk membuat rumusan masalah, yaitu sebagai berikut:
1.      Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
2.      Rumusan masalah hendaknya jelas dan padat
3.      Rumusan masalah berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah
4.      Rumusan masalah merupakan dasar membuat hipotesis
5.      Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.
Cara untuk memformulasikan masalah:
1. Dengan menurunkan masalah dari teori yang telah ada, seperti masalah pada penelitian eksperimental.
2. Dari observasi langsung dilapangan, seperti yang sering dilakukan oleh ahli-ahli sosiologi. Jika masalah diperoleh dilapangan,maka sebaiknya juga menghubungkan masalah tersebut dengan teori-teori yang telah ada, sebelumnya masalah tersebut diformulasikan. Ini bukan berarti bahwa  dalam memilih penelitian yang tidak didukung oleh suatu teori tidak berguna sama sekali. Karena ada kalanya penelitian tersebut dapat menghasilkan dalil-dalil dan dapat membentuk sebuah teori.

Contoh Rumusan Masalah :

Latar Belakang
            Pada dasarnya Guru adalah seorang pendidik,pendidik adalah orang dewasa dengan segala kemampuan yang dimilikinya yang dapat mengulas psikis dan pola psikis anak didiknya dari tidak tahu menjadi tahu serta mendewasakan anak didiknya. Tugas  yang harus dilakukan seorang guru adalah mengajar dikelas. Salah satunya yang paling penting adalah performance di kelas. Bagaimana seorang guru dapat menguasai keadaan kelas sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian guru harus menetapkan model atau metode pembelajaran yang sesuai dengan karaktristik peserta didiknya. Setiap kelas kemungkinan bias menggunakan metode yang berbeda-beda . Untuk itu seorang guru harus mampu menciptakan model atau metode pembelajaran agar peserta didik merasa nyaman dan senang dalam menerima pelajaran yang diberikan.
            Pada saat ini banyak siswa yang mengeluh dan bosan tehadap model pembelajaran yang diterapkan oleh gurunya pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kegiatan pembelajaran dirasakan monotun dan ini dirasakan dalam waktu yang cukup lama. Pembelajaran bersifat kompleks artinyatidak hanya guru saja yang terlibat dan aktif dalam pembelajaran melainkan siswa dan guru.
            Guru dituntut untuk mengembangkan keahlian yang dimiliki dan menyalurkannya kepada siswa. Untuk itu guru perlu mengdakan inovasi pembelajaran guna mengoptimalkan kemampuan siswa. Selain menggunakan model atau metode pembelajaran diharapkan seorang pendidik harus menguasai media pembelajaran.  Secara umum media adalah alat bantu yang bias merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan belajar siswa.Media menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponem system pemblajaran.Tanpa media komunikasi tidak akan terjadi dan proses pemblajaran tidak berlangsung secara optima. Begitu pula halnya dengan model atau metode pembelajaran yang harus dikuasai dengan baik oleh pendidik agar tujuan pembelajara tercapai dengan maksimal. Bila suatu proses pembelajaran tersebut  ingin berjalan dengan baik dan sempurna maka metode-metode dan media pembelajaran harus dapat dikuasai. Dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai  macam-macam model atau metode pembelajaran dan media pembelajaran serta bagaimana langkah-langkah model tersebut ketika menerapkannya dalam proses pembelajaran.

1.2  Rumusan Masalah
a.       Apa saja macam-macam model pembelajaran?
b.      Seperti apa media pembelajaran itu?
c.       Apa itu pendekatan konstrutivisme belajar?

8. Pembatasan Masalah
Pembatasan Masalah adalah usaha untuk menetapkan batasan dari masalah penelitian yang akan diteliti. Batasan masalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor mana saja yang termasuk dalam ruang lingkup masalah penelitian dan faktor mana saja yang tidak termasuk dalam ruang lingkup masalah penelitian.
Pemilihan batasan masalah yang hendak diteliti haruslah didasarkan pada alasan yang tepat, baik itu alasan teoritis maupun alasan praktis. Alasan tersebut boleh saja bersifat projektif atau berorientasi ke masa depan. Dengan alasan yang tepat tersebut, tujuan penelitian dapat dirumuskan dengan tepat juga.
Pembatasan masalah ini menyebabkan fokus masalah menjadi semakin jelas, sehingga masalah penelitiannya dapat dibuat dengan jelas juga. Sampai sejauh mana masalah penelitian itu dibatasi ditentukan oleh peneliti sendiri, pembimbing atau konsultan penelitian dan pesan sponsor. Dalam praktiknya, batasan masalah penelitian sebagai besar ditentukan oleh penelitinya sendiri. Sebelum menentukan batasan masalah, peneliti harus memperhatikan hal-hal berikut ini.
1. Masalah yang dibatasi hendaklah masih dalam kemampuan peneliti.
2. Masalah yang dibatasi hendaklah dapat diuji berdasarkan data-data yang mudah diperoleh di lapangan.
3. Masalah yang dibatasi hendaknya cukup penting untuk diselidiki.
4. Masalah yang dibatasi hendaknya cukup menarik minat peneliti.
5. Masalah hendaknya manageable, artinya jangan meneliti masalah yang berada di luar kemampuan kita.
6. Masalah hendaknya obtainable, artinya masalah yang akan kita teliti mudah dicari data-datanya dan dapat dianalisis.
7. Masalah hendaknya signifikan, artinya masalah yang diteliti hendaknya penting baik secara teoritis maupun praktis.
8. Masalah hendaknya interested, artinya masalah yang diteliti itu hendaklah menarik minat peneliti sendiri khususnya dan pihak lain pada umumnya.
Tujuan Pembatasan Masalah dilakukan karena keterbatasan waktu penelitian yang diberikan sponsor dan atau peneliti, serta keterbatasan dari kemampuan dan tenaga peneliti. Pembatasan masalah diambil dari identifikasi masalah. Pembatasan masalah tidak boleh muncul tiba-tiba selain dari yang ada diidentifikasi masalah. Sebagai ilustrasi, pembatasan masalah bagaikan seseorang yang menghadapi hidangan berbagai makanan dan minuman di warung makan, ia hanya memilih nasi, rendang dan air.
Contoh: SKRIPSI
"Pengaruh Pembelajaran PAI Terhadap Pelaksanaan Shalat Siswa Kelas IV Di SDN Karawaci 8 Perum 1 Tangerang"
Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Agar penelitian lebih fokus dan tidak meluas dari pembahasan yang dimaksud, dalam skripsi ini penulis membatasinya pada ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
a. Pengaruh adalah "Daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu.
b. Pembelajaran PAI yang dimaksud adalah pembelajaran yang mengajarkan tentang amalan dan tata cara pelaksanaan shalat kepada siswa di SD Negeri Karawaci 8 Perumnas 1 Kota Tangerang.
c. Siswa yang menjadi obyek penelitian pada skripsi ini adalah siswa kelas IV SDN Karawaci 8 Perumnas 1 tahun pelajaran 2008 – 2009.
Dalam penelitian ini penulis membatasi permasalahan dengan memberikan penegasan terhadap variabel judul sebagai berikut :
a. Pengaruh : "Daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu.”
b. Pembelajaran : Berasal dari asal kata ajar mendapat awalan pe,
sisipan be dan akhiran an yang berarti “Proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar."
c. PAI : Suatu bidang ilmu yang mempelajari tentang
aspek – aspek yang ada dalam agama Islam, yang disesuaikan dengan kurikulum sebagai bahan untuk acuan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang berlangsung di SD Negeri Karawaci 8 Perumnas 1 Kota Tangerang.
2. Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
a. Sejauh manakah pengaruh pembelajaran PAI terhadap pelaksanaan shalat siswa kelas IV di SD Negeri Karawaci 8 Perum 1 Tangerang ?
b. Apakah pembelajaran PAI terhadap pelaksanaan shalat sudah mencapai target kurikulum, daya serap, presensi guru, presensi siswa dan prestasi belajar siswa ?

B. Variabel Penelitian
1. Pengertian variabel penelitian
Pengertian Variabel Menurut Definisi Para Ahli - Seperti yang telah dikemukakan di awal, bahwa banyak para ahli yang telah mengemukakan pendapatnya mengenai definisi variabel. Menurut F.N Kerlinger, Pengertian variabel adalah sifat yang diambil dari suatu nilai yang berlainan. Menurut Sutrisno hadi, Pengertian variabel adalah objek penelitian yang bervariasi. Contohnya ukuran tinggi manusia yang divariasikan menjadi tingkatan umur, kelamin serta lokasi tempat tinggal manusia tersebut. Menurut Bagja Waluya,  Pengertian variabel adalah konsep yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap eksperimen/penelitina (research). Menurut Tia Mutiara, Pengertian variabel adalah sesuatu yang menjadi fokus perhatian yang memberikan pengaruh dan mempunyai nilai (value). Menurut Sugiarto, Pengertian variabel adalah karakter yang dapat diobservasi dari unit amatan yang merupakan suatu pengenal atau atribut dari sekelompok objek. Maksud dari variabel tersebut adalah terjadinya variasi antara objek yang satu dengan objek yang lainnya dalam kelompok tertentu.
Variabel Penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Banyak sekali definisi variable yang diungkapkan para ahli, dan definisi tersebut berpotensi membingungkan para peneliti pemula. Perhatikan definisi variable menurut para ahli berikut:
Menurut Hatch & Farhady (1981). Variable didefinisikan sebagai Atribut seseorang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain. Kerlinger (1973). Variable adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari. Kidder (1981).Variable dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values).Dengan demikian, Variabel itu merupakan suatu yang bervariasi. Bhisma Murti (1996), variable adalah suatu kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya. Sudigdo Sastroasmoro, variable merupakan karakteristik subyek penelitian yang berubah dari satu subyek ke subyek lainnya. Er. Ahmad Watik Pratiknya (2007), variable adalah Konsep yang mempunyai variabilitas. Sedangkan Konsep adalah penggambaran atau abstraksi dari suatu fenomena tertentu.Konsep yang berupa apapun, asal mempunyai ciri yang bervariasi, maka dapat disebut sebagai variable.
Bertolak dari pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut dan sifat atau nilai orang, faktor, perlakuan terhadap obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Variabel penelitian sangat penting dalam sebuah penelitian, karena variabel bertujuan sebagai landasar mempersiapkan alat dan metode pengumpulan data, dan sebagai alat menguji hipotesis.Itulah sebabnya, sebuah variable harus dapat diamati dan dapat diukur.
2. Klafikasi Variabel Penelitian
Variabel dapat diklasifikasikan menggunakan beberapa cara penggolongan, yaitu : berdasarkan sifat, kedudukan, skala, dan Berdasarkan alat ukur pengumpulan datanya.
1) Berdasarkan Sifat
Menurut sifatnya, variabel dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
a) Variabel Kategori : yaitu variabel yang dapat diklasifikasi secara pilah (mutually exclusive). Beberapa variabel yang memiliki sifat kategoris antara lain : Jenis kelamin (laki-laki, perempuan), status perkawinan (belum, menikah, janda/duda), warna kulit (putih, hitam, sawo matang), suku (Jawa, Sunda, Batak, Bali, lainnya), dan sebagainya.
b) Variabel Diskrit : yaitu variabel yang dikumpulkan datanya dengan cara membilang atau mencacah. Sebagai hasil proses membilang, maka data diskrit mempunyai satuan ukuran yang utuh, sehingga tidak memungkinkan data berupa pecahan. Contohnya, jumlah anak, jumlah penduduk, usia, jumlah murid, jumlah sekolah, jumlah propinsi, dan sebagainya.
c) Variabel kontinum : variabel yang datanya terdapat dalam suatu kontinum karena diperoleh dari proses mengukur. Misalnya, data variabel berat badan diperoleh dari hasil pengukuran, misalnya 10 kg.hasil pengukuran tersebut pada dasarnya berada dalam suatu kontinum, mungkin 9,98 kg atau 10,15 kg. data dari variabel kontinum memungkinkan berbentuk pecahan, karena hasil pengukuran berada dalam sebuah kontinum.
2) Berdasarkan Kedudukannya
Menurut kedudukannya, variabel dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Variabel bebas : yaitu variabel yang nilainya memengaruhi variabel lain dalam suatu penelitian. Keberadaan variabel ini dalam penelitian merupakan variabel yang menjelaskan terjadinya fokus atau topik penelitian.
b) Variabel terikat : yaitu variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel lain dalam suatu penelitian. Keberadaan variabel ini dalam penelitian  adalah sebagai variabel yang dijelaskan dalam fokus atau topik penelitian. Misalnya, prestasi adalah variabel terikat.Baik buruknya dipengaruhi oleh minat membaca, dan sebagainya.Minat membaca adalah variabel bebas.
3) Berdasarkan skalanya
Menurut skalanya, variabel dapat dibedakan menjadi empat, yaitu :
a) Variabel Nominal : yaitu variabel yang tingkat skalanya hanya memilah. Perbedaan nilai variabel tidak mempunyai makna apapun selain untuk keperluan memberikan tanda atau label.Perbedaan nilai tidak mempunyai sifat dapat diurutkan berdasarkan suatu nilai tertentu karena sifat skalanya yang nominal.Misalnya, dalam suatu penelitian, variabel jenis kelamin diambil datanya dengan memberikan skor 1 (satu) untuk responden laki-laki dan skor 0 (nol) untuk perempuan.Meskipun skornya lebih besar, tidak berarti bahwa laki-laki memiliki nilai yang lebih tinggi daripada perempuan.Perbedaan skor tersebut hanya untuk pemberian tanda semata.
b) Variabel Ordinal : yaitu variabel yang peneraan skornya dimaksudkan untuk mengurutkan berdasarkan nilai yang dimiliki objek dalam variabel yang diukur. Oleh karenanya sebuah objek yang mempunyai skor lebih tinggi dari yang lain dapat dikatakan memiliki nilai yang lebih daripada objek lain dalam variabel yang diukur. Siswa yang memperoleh nilai 95 dalam tes prestasi belajar lebih pandai dar pada siswa yang memperoleh nilai 80.Termasuk dalam variabel yang mempunyai skala ordinal adalah kecerdasan, prestasi belajar, kreativitas, kemampuan penyesuaian diri dan sebagainya.
c) Variabel interval : yaitu variabel yang mempunyai skala dengan interval yang sama. Oleh karena mempunyai interval yang sama maka data-data dengan skala interval dapat dijumlahkan. Misalnya, data variabel suhu. Sebuah benda dengan suhu 60oC bila ditambahkan 40oC maka akan menjadi benda dengan suhu 100oC. Hal itu dapat dilakukan karena suhu merupakan variabel dengan skala interval.
d) Variabel Rasio : yaitu variabel yang mempunyai skala tingkat tertinggi. Atau sama dengan skala interval, hanya dia mempunyai angka Nol mutlak. Di dalam  skala ini jarang digunakan pada penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial. Tetapi paling banyak terjadi dalam penelitian di bidang ilmu-ilmu eksak. Nol mutlak artinya tidak punya sama sekali, kalau panjang besi diukur dari Nol, artinya dimulai dari titik awal dari besi, karena titik dianggap tidak punya panjang.
4) Berdasarkan alat ukur pengumpulan datanya
Menurut alat ukur pengumpulan datanya variabel dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
a) Variabel faktual : yaitu variabel yang alat ukurnya tidak perlu dibakukan karena kesalahan data bukan merupakan kesalahan alat ukurnya. Misalnya bila responden tidak jujur mengisi data tentang variabel usia maka kesalahan tidak terletak pada alat ukurnya. Termasuk dalam variabel faktual adalah agama, jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, asal daerah, dan asal sekolah.
b) Variabel konsep : yaitu, variabel yang alat ukur pengumpulan datanya harus terlebih dahulu dibakukan sebelum digunakan untuk pengumpulan data. Hal itu disebabkan karena ada kemungkinan kesalahan data disebabkan oleh alat ukur yang salah konsep. Misalnya, data motivasi belajar dapat menjadi salah karena butir-butir pertanyaan atau pernyataan tidak mengukur apa yang semestinya diukur (tidak valid) atau tidak memberikan hasil konsisten (tidak reliabel). Termasuk variabel konsep yaitu prestasi belajar, minat belajar, dan sikap tehadap mata pelajaran matematika.
3. Kegunaan Variabel
Kegunaan atau fungsi variabel dalam penelitian mengikuti pada jenis variabel yang digunakan dalam penelitian itu sendiri.Sesuai penjabaran macam dan jenis variabel di atas dapat didefinisikan kegunaan variabel sebagai berikut. Menurut Sandjaja dan Albertus (2006: 84), variabel dalam penelitian terdiri dari berbagai jenis yaitu variabel bebas, variabel tergantung, variabel moderator, variabel kontrol, dan variabel anatara.
Variabel bebas berfungsi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap variabel lain. Contoh: Pupuk Z adalah variabel bebas. Disebut demikian karena pupuk Z akan mempengaruhi tanaman kacang. Pupuk Z jumlahnya dapat dimanipulasi dengan menambah atau mengurangi jumlahnya selama proses penelitian.
Variabel tergantung berfungsi untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas. Contoh: Dalam penelitian di atas, tanaman kacang atau lebih spesifiknya, kesuburan tanaman kacang merupakan variabel tergantung.
Variabel moderator berfungsi untuk memberi pengaruh hubungan antara variabel bebas dengan varibel tergantung. Contoh: Mengenai pupuk Z, dapat diduga ada beberapa faktor yang mempengaruhi jalannya penelitian seperti misalnya tanah, air, pot sebagai media tanam, dan sinar matahari.
Variabel kontrol berfungsi untuk menetralkan pengaruhnya terhadap variabel tergantung. Contoh: Tanah, air sinar matahari dikontrol oleh peneliti untuk menghilangkan pengaruhnya  dengan jalan menyamakan faktor-faktor tadi baik pada tanaman kacang pertama, maupun tanaman kacang kedua.
Variabel antara merupakan variabel yang tidak dapat diamati dan diukur serta tidak disebut dalam kajian oprasional, namun disebutkan keberadaannya dalam kajian teoritik. Contoh: proses tanaman kacang menjadi subur.

9. Pemilihan Variable Penelitian
Variable adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai. Setelah mengemukakan beberapa proposisi berdasarkan konsep dan teori tertentu, peneliti perlu menemukan variabel penelitian dan selanjutnya merumuskan hipotesa berdasarkan hubungan antar variabel. Di samping berfungsi sebagai pembeda, variabel juga berkaitan dan saling memengaruhi satu sama lainnya. Bentuk variabel :
a. Variabel diskrit : dinyatakan dengan angka utuh (hasil perhitungan)
b. Variabel bersambungan : dapat dinyatakan dalam angka pecahan (hasil pengukuran)
Agar dapat dikelompokkan menjadi satu variabel, dua / lebih atribut tidak boleh ‘tumpang tindih’ (mutually exclusive). Atribut dalam suatu variabel harus mencakup semua kemungkinan yang ada dalam suatu variabel (exhaustive). Dalam penyusunan kuesioner, atribut suatu variabel perlu diketahui secara lengkap. Contoh, merah dan putih adalah dua dari sejumlah atribut dalam variabel warna.
10. Jenis Hubungan Antar Variabel
a. Hubungan Simetris
Variabel yang satu tidak disebabkan / dipengaruhi oleh yang lainnya. Empat kelompok hubungan simetris :
1) Kedua variabel merupakan indikator sebuah konsep yang sama.
2) Kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama.
3) Kedua variabel saling berkaitan secara fungsional, dimana satu berada yang lainnya pun pasti disana.
4) Hubungan yang kebetulan semata-mata.
b. Hubungan Timbal Balik
Hubungan dimana suatu variabel dapat menjadi sebab dan juga akibat dari variabel lainnya. Variabel terpengaruh dapat menjadi variabel pengaruh pada waktu lain. Contoh, variabel X mempengaruhi variabel Y, pada waktu lainnya varaibel Y mempengaruh variabel X.
c. Hubungan Asimetris
Satu variabel mempengaruhi variabel yang lainnya. Enam tipe hubungan asimetri :
1) Hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan kausal yang umumnya dileliti dalam ilmu eksakta, psikologi dan pendidikan. Prinsip selektivitas adalah data dasar yang memperhatikan bahwa kedua kelompok sesungguhnya sama dalam keterbukaan terhadap pengaruh luar sebelum mendapat stimulus.
2) Hubungan antara disposisi dan respons. Disposisi adalah kecendrungan untuk menunjukkan respons tertentu dalam situasi tertentu yang berada dalam diri. Misal, hubungan kepercayaan dengan kecendrungan makan obat tradisional.
3) Hubungan antara ciri individu dan disposisi / tingkah laku. Ciri yaitu sifat individu yang relatif tidak berubah dan tidak dipengaruhi lingkungan.
4) Hubungan antara prakondisi yang perlu dengan akibat tertentu. Misal, agar pedagang kecil dapat memperluas uasaha perlu persyaratan pinjaman bank yang lunak.
5) Hubungan yang imanen antara dua variabel. Bila variabel satu berubah maka variabel yang lainnya akan berubah.
6) Hubungan antara tujuan dan cara. Misal, kerja keras dan keberhasilan.
d. Berbagai Hubungan Asimetris
1) Hubungan Asimetris Dua Variabel
Hubungan antara “variabel pengaruh” dan “varaibel terpengaruh” akan disebut variabel pokok. Hubungan keduanya merupakan titik pangkal analisa dalam ilmu sosial. Dalam ilmu sosial hubungan tunggal antar satu variabel dengan variabel lainnya tidak pernah ada dalam realita.
2) Hubungan Asimetris Tiga Variabel
Pengaruh variabel ketiga / keempat dapat “dikontrol” melalui sistem analisa maupun cara penentuan sampel. Menetralisasi pengaruh variabel luar dengan memasukkannya sebagai variabel kontrol / variabel penguji dalam analisa. Akal sehat, teori dan hasil empiris dari penelitian lain merupakan pedoman untuk menentukan variabel kontrol dalam penelitian. Selain dengan memasukkan variabel ketiga kedalam analisa, dapat juga mengontrol pengaruh variabel luar melalui penentuan sampel.


DAFTAR PUSTAKA



Arikunto,  Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI). Jakarta: Rineka Cipta.
Artikel Siana. 2015. Pengertian Variabel Macam-macam Variabel Ahli. http://www.artikelsiana.com/2015/04/pengertian-variabel-macam-macam-variabel-para-ahli.html diakses pada tanggal 20 Juli 2016
Budiyono. 2003. Metode Penelitian Pendidikan. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Diana Dewi Kirana. 2015. Ciri masalah penelitian yang benar. http://dianadewikirana.blogspot.co.id/p/ciri-masalah-penelitian-yang-benar.html. diakses pada tanggal 20 Juli 2016
Eureka Pendidikan . 2015. Defenisi Masalah Dan Jenis-Jenis Dalam Penelitian. http://www.eurekapendidikan.com/2015/09/definisi-masalah-dan-jenis-jenis-dalam-penelitian.html. diakses pada tanggal 20 Juli 2016
http://lollybali.mywapblog.com/cara-membuat-rumusan-masalah-yang-baik-d.xhtml. diakses pada tanggal 20 Juli 2016
http://www.informasiahli.com/2015/07/pengertian-pembatasan-masalah-dalam-penelitian.html
http://www.mushlihin.com/2013/11/penelitian/variabel-penelitian-pengertian-tujuan-dan-jenis.php
Husaini Usman dan Purnomo, 2008. Metodologi Penelitian Sosial. Penerbit PT Bumi Aksara : Jakarta.
Sandjaja dan Albertus. 2006. Panduan Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung : Alfabeta. Hal : 60-61.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Masalah



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal Penilaian Akhir Semester Dua Budaya Alam Minangkabau

A. Berilah tanda (x) pada jawaban yang paling benar!   1. Acara menaikkan Rumah bertujuan untuk…. a. Kelihatan mewah b. Mengadakan do’a selamat c. Biar dipuji orang d. Membanggakan 2. Himpunan orang sekaum adalah…. a. Se ibu c.   Sepayung b. Saparuik d.   Sesuku 3. Rumah gadang didirikan berstatus koto atau nigari biasanya memiliki gonjong…. Buah a. Dua c.   Empat b. Tiga d.   Lima 4. Suku Wira adalah piliang dan suku Bayu juga piliang. Wira dan Bayu disebut…. a. Sesuku c.   Sekampung b. Seibu d.   Sekawan 5. Bagi orang Minangkabau, yang di jadikan tempat bermusyawarah adalah…. a. Rumah gadang b. Kantor c. Mushalla d. Kantor pemda 6. Rumah gadang jarang rusak bila terjadi gempa, sebab tiangnya diletakkan di atas…. a. Kayu c.   Batu b. Tembok d. Tanah 7. Adat Minangkabau sesuai dengan ajaran…. a. Khatolik c.   Hindu b. Bu...

Tantangan dan Prospek Pendidikan Sekolah Dasar di Indonesia Saat Ini

Pendidikan Sekolah Dasar (SD) merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan SD di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi. Artikel ini akan menjelaskan tantangan utama yang dihadapi pendidikan SD saat ini, termasuk kurangnya fasilitas, ketimpangan kualitas pendidikan, dan tantangan dalam implementasi kurikulum. Selain itu, artikel ini juga akan membahas prospek dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kualitas pendidikan SD di Indonesia. I. Tantangan dalam Pendidikan Sekolah Dasar     A. Kurangnya Fasilitas Pendukung Kekurangan ruang kelas, fasilitas olahraga, dan laboratorium: Banyak sekolah dasar di Indonesia masih mengalami kekurangan ruang kelas yang memadai. Selain itu, fasilitas olahraga dan laboratorium juga seringkali tidak memadai atau bahkan tidak tersedia di sekolah-sekolah tersebut. Tantangan aksesibilitas pendidikan di daerah terpencil dan peda...

ISU ISU GLOBAL MASA KINI DAN MASA DEPAN

  Isu-isu global masa kini dan masa depan Ada berbagai macam permasalahan yang dihadai oleh manusia. Secara garis besar permasalahan tersebut adalah: a. Bahan makanan b. Penduduk c. Energi d. Polusi udara,air dan tanah e. Biodiversity/keanekaragaman hayati A. Bahan makanan Persoalan pangan bagi manusia sangatlah penting bahkan merupakan asasi,karena untuk melangsungkan kehidupan. Pentingnya permasalahan ini disebabkan karena banyaknya kasus manusia yang kelaparan. Akibatnya jutaan manusia meninggal karena kelaparan. Antara tahun 1847-1850 kira-kira satu setengah juta jiwa meninggal karena kelaparan,demikian juga yang terjadi di Cina,India dan sebagainya. Masalah bahan pangan berkaitan dengan: 1 . Kebutuhan obyektif pangan Kebutuhan obyektif pangan pada tingkat global merupakan fungsi dari kebutuhan bahan pokok,besaran jumlah pernduduk dunia,dan komposisinya. Semakin baik kondisi manusia sejak beberapa dasa warsa terakhir menyebabkan terjadinya pertumb...