Contoh proposal penelitian kualitatif "peni gkatan hasil belajar siswa pada materi KPK dan FPB dengan metode accelerated learning"
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses belajar mengajar ( PBM ) tak henti-hentinya menjadi objek pembicaraan bagi insan pendidikan. Hal itu di sebabkan karena PBM merupakan kunci keberhasilan tujuan pendidikan. Jika PBM berkualitas, maka tujuan pendidikan pun dapat tercapai dengan hasil yang optimal sesuai keinginan.
UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal (1) menyatakan bahwa :
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Sejalan dengan itu Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ”guru merupakan penentu keberhasilan proses pembelajaran, dan melaksanakan kurikulum untuk mewujudkan proses belajar mengajar (PBM) berkualitas sesuai visi, misi, dan tujuan sekolah” (Mulyasa,2007: 36).
PBM sangat penting dalam dunia pendidikan. Begitu pentingnya PBM, sehinngga orang-orang senantiasa mencari alternative pemecahan masalah yang berkaitan dengan PBM yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini, yakni masih rendahnya mutu pembelajaran.
Rendahnya mutu PBM dapat dilihat dari para siswa yang hampir tidak dapat menguasai materi pelajaran matematika tentang FBB dan KPK Bentuk Soal Cerita yang diajarkan disekolah. Materi-materi yang diajarkan oleh guru tentang FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita seolah-olah hanya angin lalu bagi kebanyakan siswa. Dalam satu kelas, hanya beberapa orang saja yang bersungguh-sunnguh belajar dan mengerti materi pelajaran. Yang lainnya, hanya sekedar datang tampa keinginan belajar. Hal ini sudah menjadi fenomena di hampir semua sekolah, kecuali di sekolah-sekolah unggulan.
Kenyataan yang sangat memprihatimkan ini disaksikan sendiri oleh peneliti ketika mengadakan prapenelitian di SDN 35 parepare. Peneliti mengobservasi guru kelas V dan mengatakan FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita memang masih sulit bagi anak sehingga membutuhkan tehnik dan cara khusus yang yang membuat anak bisa pemahami konsep tersebut kemudian peniliti juga memberikan 4 soal yang berkaitan dengan FPB DAN KPK dalam bentuk soal cerita kepada siswa. Setelah soal selesai, peneliti memeriksa hasil pekerjaan siswa. Ternyata dari 40 siswa kelas V, rata-rata nilai yang mereka peroleh adalah 3,9 dengan ketuntasan belajar 2,5 %. Nilai ini membuktikan bahwa kemampuan anak dalam menyelesaikan soal FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita masih rendah. Hal ini menjadi fenomena yang harus segera di cari jalan keluarnya agar kemampuan siswa dapat segera dikembangkan. Hasil tes awal siswa terlampir ( halaman 68 )
Berdasarkan permasalahan diatas maka di perlukan pertimbanagan untuk menggunakan metode yang dapat membantu siswa memahami pelajaran FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita.Metode yang di maksud adalah metode accelerated learning ( pemercepatan pembelajaran ).
De Porter dan Hernacki ( 1999: 14 ) mengatakan bahwa Accelerated learning didefinisikan sebagai metode mengajar yang memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi dengan kegembiraan.
Sejalan dengan itu, meimer ( 2004: 42 ) menjelaskan bahwa accelerated learning adalah sebuah metode proses belajar mengajar yang menggunakan pendekatan SAVI, SAVI dalam hal ini adalah somatis, auditori, visual dan intelektual.
Lebih lanjut Meimer ( 2004: 42 ) menjelaskan ;
Somatis adalah belajar dengan bergerak dan berbuat. Auditori adalah belajar dengan berbicara dan mendengar, visual adalah belajar dengan mengamati dan menggambarkan, dan intelektual adalah belajar dengan memecahkan masalah dan merenung.
Keempat cara itulah yang digabungkan Meimer untuk menciptakan sebuah pendekatan belajar untuk mendapatkan hasil yang optimal.
jika difikir dengan logika, maka metode ini sangat tepat diterapkan dalam PBM di sekolah dasar. Hal itu disebabkan karena Sekolah dasar merupakan jenjang awal seorang anak menimba ilmu. Jika seorang anak akan mampu menguasai tehnik Accelerated learning dengan baik ditingkat Sekolah Dasar, maka anak tersebut tidak akan kesulitan lagi menerapkan Accelerated learning dalam pembelajarannya di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Berdasarkan pemikiran dan kenyataan di lapangan yang dikemukakan di atas, peneliti terdorong untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul “Meningkatkan Hasil Belajar Pada Pokok Bahasan FPB dan KPK dalam Bentuk Soal Cerita Melalui Metode Accelerated Learning Pada Siswa Kelas V SDN 35 Parepare”.
B. Rumusan Dan Pemecahan Masalah
1. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah Metode Accelerated Learning Dapat Meningkatkan Hasil belajar Pada Pokok Bahasan FPB dan KPK Dalam Bentuk Soal Cerita Pada Siswa Kelas V SDN 35 Parepare ?”
2. Pemecahan masalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas, peneliti merencanakan pemecahan masalah melalui tindakan perbaikan dengan mempergunakan metode accelerated learning dalam kegiatan pembelajaran. Alasan penggunaan metode accelerated learning adalah karena metode accelerated learning merupakan sebuah metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran sehingga pemahaman anak tentang materi yang dipelajari dapat lebih jelas.
C. Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
“Untuk mengetahui Apakah Metode Accelerated Learning Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pada Pokok Bahasan FPB Dan KPK Dalam Bentuk Soal Cerita Pada Siswa Kelas V SDN 35 Parepare”.
D. Manfaat Penelitian
1. Mamfaat teoritis
Temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai landasan teori pembelajaran matematika pada umumnya dan khususnya dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap semua materi pelajaran di sekolah dasar.
2. Manfaat praktis
Setelah dilakukan penelitian ini diharapkan memberi manfaat praktis sebagai berikut :
a. Untuk siswa
1) Melatih siswa agar mampu memahami soal–soal FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita dan mampu menyelesaikan.
2) Melatih siswa untuk berfikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
b. Untuk guru
1) Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan untuk meningkat kualitas pembel;ajaran matematika di sekolah.
2) Sebagai informasi bagi guru-guru, khususnya guru-guru yang mengajar matematika di setiap jenjang pendidikan.
c. Untuk sekolah
Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan sumbangan yang baik pada sekolah itu sendiri dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika.
d. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini dapat meenjadi bahan masukan untuk pengelolaan data sehingga hasil yang diperoleh akan menjadi sebagai sumbangan pemikiran bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA FIKIR, HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Pustaka
1. Konsep dan Prinsip Accelerated Learning
accelerated learning atau pemercepatan belajar adalah sebuah metode menagajar yang sekarang ini telah diterapakan di berbagai belahan dunia, seperti : Amerika Utara, Inggris, Kanada, Singapura, dan Australia, baik dalam bidang pendidikan lembaga sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran kinerja para karyawan.
accelerated learning adalah suatu metode belajar yang digunakan pada masa sekarang dan mempunyai banyak manfaat. accelerated learning didasarkan pada penelitian mutakhir mengenai otak dan belajar. Di sini dapat digunakan berbagai metode dan media. Sifatnya terbukan dan luwes. Pembelajaran diajak terlibat sepenuhnya. accelerated learning cocok dengan semua gaya belajar dan memberi energi serta membuat proses belajar menjadi manusiawi kembali. Meier (2004: 26 ) mengatakan, “ Accelerated Learning berusaha membuat belajar menyenangkan dan benar-benar sangat mementingkan hasil, hasil dan hasil.”
Metode-metode yang ditawarkan Accelerated Learning tidak kaku, tetapi dapat sangat bervariasi tergantung pada organisasi, pokok bahasan, dan pembelajaran itu sendiri.
Meier (2004: 27 )berpendapat bahwa :
Mengajar bukanlah menerapkan suatu system; mengajar adalah menjalankan kebijaksanaan terus-menerus. Bagaimanapun juga, pada akhirnya, yang paling penting bukanlah metode, melainkan hasilnya.
Accelerated Learning hanya mempunyai satu tujuan yaitu mendapatkan hasil. Dalam accelerated learning, ada saat untuk bersenang-senang da ada pula tempat untuk serius. Pelajar membutuhkan keduanya dan Accelerated Learning berusaha mencampur keduanya dengan cara-cara yang dapat meningkatkan pembelajaran dan membuahkan hasil seposiif mungkin.
Contoh sebuah keberhasilan accelerated learning adalah diceritakan oleh Meiser (2004: 26). Sebuah perusahaan eceran di Amerika Utara yang menggunakan metode Accelerated Learning dapat mengurangi waktu pelatihan menajemen dari dua hari menjadi empat jam. Hal tersebut terjadi dengan cara meminta manajer untuk saling membantu menciptakan model pelatihan mereka sendiri dan menerapkannya pada pekerjaan. Hasilnya, Sembilan persen peserta melaporkan peningkatan tajam dan keterampilan manajeman mereka. Ini merupakan sebuah kisah sukses yang telah dialamisebuah perusahaan akibat menerapkan Accelerated Learning dalam kegiatan pelatihan karyawan mereka.
Accelerated Learning merupakan metode belajar yang melibatkan kelima Indra dan emosi dalam proses belajar yang disebut dengan pendekatan SAVI. SAVI dalam hal ini adalah : somatis , auditori, visual, dan intelektual. Untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang SAVI, maka keempat hal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
a). Somatis artinya belajar dengan bergerak dan berbuat
Seperti yang dijelaskann Meiser (2004: 92) bahwa somatis berasal dari bahasa yunani yang berarti tubuh, jadi belajar somatis berarti belajar dengan mempergunakan semua indra dan melibatkan fisik serta menggerakkan tubus sewaktu belajar.
Seperti sebuah ungkapan yang mengatakan: aku dengar maka aku lupa, aku lihat maka aku tahu, dan aku lakukan maka aku mengerti. Jadi dengan bergerak dan berbuat ( melakukan sesuatu), maka anak akan lebih paham dan mengerti akan apa yang mereka pelajari.
Mansyur (1998: 160) menjelaskan manfaat yang diperoleh dari kegiatan bergerak dan berbuat dalam proses belajar mengajar yaitu :
Suatu cara belajar mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, dan keterampilan.
b). Audotori artinya belajar dengan berbicara dan mendengar.
Belajar auditori merupakan cara belajar standar bagi semua orang sejak awal. Seperti zaman dahulu, pembelajaran disampaikan dengan cara berbicara dan orang yang diajar akan mendengarkan, contohnya kisah-kisah yang diceritakan oleh nenek-nenek kepada cucunya sebelum tidur atau ajaran-ajaran agama yang disampaikan oleh para pedagang asing kepada masyarakat Indonesia lewat wayang.
Meier (2004: 95) menjelaskan bahwa :
Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga kita terus-menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tampa kita sadari. Dan ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting di otak menjadi aktif.
c). Visual artinya belajar dengan mengamati dan menggambarkan
Karena pentinya kemapuan mengamati dan menggambarkan dalam pembelajaran, maka guru biasanya menggunakan media dalam pembelajaran. Sebab dengan media, para pelajar dapat mengamati dan menggambarkan secar lebih jelas apa yang mereka pelajari.
Kemp dan Dayton (dalam Aristo rahadi, 2004: 13) mengedentifikasi beberapa mamfaat media dalam pembelajaran, secara lebih rinci sebagai berikut :
(a) materi pelajaran dapat diseragamkan, (b) proses pembelajaran menjadilebih jelas dan menarik, (c) proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, (d) efisiensi dalam waktu dan tenaga, (e) meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, (f) media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, (g) media dapat menumbuhkan skap positif terhadpa materi dan proses belajar, dan (h) merubah peran kea rah lebih positif dan produktif.
Dari pendapat diatas diketahui banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran yang melibatkan kemampuan mengamati dan menggambarkan apa yang dipelajari.
d). Intelektual artinya belajar dengan cara memecahkan masalah dan merenung.
Kemampuan memecahkan masalah adalah kemampuan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang sebab hidup ini penuh dengan masalah.
Menurut Rober (dalam Muhibbin Syah, 1995: 24),“ kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis dan sistematis.’’
Dengan memiliki kemampuan memecahkan masalah, seorang sudah mempunyai bekal yang cukup dalam mengarungi kehidupannya sehari-hari. Disamping kemampuan memecahkan masalah, kemampun merenung juga sangat penting. Dengan kemampuan merenung, seseorang dapat senangtiasa menagambil hikma dan belajar dari setiap peristiwa yang terjadi.
Dalam metode accelerated learning, keempat unsur ini dipadukan sehingga menciptakan pembelajaran yang berfaedah yang dapat meningkatkan kemampuan dan hasil belajar anak didik.
Proses pembelajaran menurut accelerated learning dikenal dengan istilah siklus pembelajaran empat tahap seperti yang diungkapkan Meier (2004: 103) bahwa seluruh kegitan belajar manusia dapat dikatakan mempunyai empat unsur, yaitu : (1) persiapan (preparatioan) penyampaian (presentation), (3) pelatihan (practice), (4) penampilan hasil (performance).
Keempat unsur tersebut dijelaskan secara mendetail oleh Meier (2004: 106-108) sebagai berikut :
(1) Tahap persiapan (preparation)
Tujuan tahap persiapan adalah menimbulkan minat para pembelajar, memberi mereka perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang dan menempatkan mereka dalam situasi optimal untuk belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan : memberikan sugesti positif, memberikan pernyataan yang memberikan mamfaat kepada pembelajar, memberikan tujuan yang jelas dan bermakna, membangkitkan rasa ingin tahu, menciptakan lingkungan fisik yang positif, menciptakan lingkungan yang emosional yang positif, menenangkan rasa takut, menyingkirkan hambatan-hambatan belajar, banyak bertanya dan mengemukakan berbagai masalah, mengajak pembelajar terlibat penuh sejak awal.
(2) Tahap penyampaian ( presentation),
Tujuan tahap penyampaian adalah membantu pembelajar menemukan materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan pancaindra, dan cocok untuk semua gaya belajar. Hal ini dapat dil;akukan dengan : uji coba kolaboratif dan berbagai pengetahuan, pengamatan phenomena dunia nyata, pelibatan semua otak dan seluruh tubuh, presentasi interaktif,grafik dan sarana presentasi berwarna-warni, aneka macam cara untuk disesuaikan dengan seluruh gaya belajar, proyek belajar berdasar kemitraan dan berdasar tim, pelatihan menemukan (sendiri, berpasangan, berkelompok ), pengalaman belajar di dunia nyata yang kontekstual, pelatihan memecahkan masalah.
(3) Tahap pelatihan ( practice )
Tujuan tahap pelatihan adalah membantu pembelajar mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Hal ini dilakukan dengan : aktivitas pemprosesan pembelajaran, usaha aktif umpan balik renungan usaha kembali, simulasi dunia nyata, permainan dalam belajar, pelatihan aksi pembelajaran, aktivitas pemecahan masalah, refleksi dan artikulsi individu, diaolok berpasangan atau berkelompok, pengajara atau tinjauan kolaboratif, aktivitas praktis membangun keterampilan, mengajar balik.
(4) Tahap penampilan hasil (performance)
Tujuan tahap penampilan hasil adalah membantu pembelajaran menerapkan dan memperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan penmampilan hasil akan terus meningkat. Hal ini dilakukan dengan: penerapan didunia nyata dalam tempo segera, penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi, aktivitas penguatan penerapan, materi penguatan pascasesi, pelatihan terus-menerus, umpan balik dan evaluasi kinerja, aktivitas dukungan kawan, perubahan organisasi dan lingkungan yng mendukung.
2. FPB dan KPK Dalam Bentuk Soal Cerita
a. soal cerita dalam matematika dan prosedur dalam penyelesaiannya
1) Soal Cerita Dalam Matematika
Dalam pembelajaran matematika, biasanya permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan nyata dituangkan dalam bentuk soal-soal cerita (verbal). S. Haji (1994: 11) menyatakan bahwa “soal cerita matematika adalah soal matematika yang disajikan dalam bentuk cerita atau rangkaian kata-kata atau kalimat yang bermakna”.
Sementara itu, Asdar (2002: 8) menyatakan bahwa soal cerita matematika adalah soal yang diungkapkan dalam bentuk cerita yang diambil dari pengalaman sehari-hari yang berkaitan dengan konsep-konsep matematika.
2). Prosedur Dalam Penyelesaian Soal Cerita
Pada umumnya minimnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita terjadi karena adanya kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam menyelesaikan soal cerita tersebut. Secara garis besarnya kesulitan-kesulitan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a). Kesulitan murid dalam memahami soal cerita, yaitu kesulitan dalam menentukan yang diketahui dan yang ditanyakan dalam soal.
b). Kesulitan murid dalam menerjemahkan soal cerita ke dalam kalimat matematika, yaitu kesulitan dalam membuat kalimat matematika.
c). Kesulitan dalam melakukan pengecekan hasil yang diperoleh.
Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, guru hendaknya membimbing siswa dalam menyelesaikan soal cerita itu dengan memberikan pemahaman tentang prosedur yang sistematik dalam menyelesaikan soal tersebut yakni dengan menentukan hal yang diketahui dalam soal, menentukan hal yang ditanyakan, membuat model matematika, melakukan perhitungan, serta menginterprestasikan jawaban model kepermasalahan semula. Hal itu sejalan dengan langkah-langkah penyelesaian soal cerita sebagaimana yang dituangkan dalam Pedoman Umum Matematika SD Depdiknas, (1993) yaitu: (1) membaca soal dan memikirkan hubungan antara bilangan-bilangan dalam yang ada dalam soal, (2) menuliskan kalimat matematika, (3) menyelesaikan kalimat matematika, (4) menggunakan penyelesaiaan untuk menjawab pertanyaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa hal yang paling utama dalam menyelesaikan suatu soal cerita adalah pemahaman terhadap suatu masalah sehingga dapat dipilah antara yang diketahui dengan yang ditanyakan.
Berdasarkan pendapat di atas, maka langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan soal bentuk cerita yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Menentukan hal yang duketahui dalam soal, (2) Menentukan hal yang ditanyakan dalam soal; (3) Membuat model/kalimat matematika, (4) Melakukan perhitungan (menyelesaikan kalimat matematika), dan (5) Menuliskan jawaban akhir sesuai dengan permintaan soal.
b. Faktor Persekutan Terbesar (FPB) Dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK)
Faktor suatu bilangan adalah himpunan bilangan-bilangan yang habis membagi bilangan tersebut. Misalnya himpunan faktor 12 adalah {1, 2, 3, 4, 6,12}, himpunan faktor 18 adalah {1, 2, 3, 6, 9, 18}. Faktor persekutuan dari 12 dan 18 adalah irisan dari himpunan faktor 12 dan 18 yaitu 1, 2, 3, 6 dimana 6 adalah faktor persekutuan terbesar (FPB).
Kelipatan suatu bilangan adalah himpunan bilangan-bilangan asli yang habis oleh bilangan tersebut. Misalnya himpunan 2 adalah {2, 4, 6, 8, 10}. Himpunan kelipatan dari 4 adalah {4, 8, 14, 16, . . .}. Kelipatan persekutuan adalah himpunan irisan dari himpunan-himpunan kelipatan. Misalnya dari himpunan kelipatan persekutuan 2 dan 4 adalah {4, 8, 12, . . .} dari himpunan itu anggota terkecilnya adalah 4. Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa kelipatan persekutuan terkecil (KPK) adalah anggota terkecil dari himpunan kelipatan persekutuan , (Herman Hujodo ,1998)
Dalam menentukan FPB dan KPK bilangan-bilangan besar dapat dengan menguraikan faktor-faktor primanya. Misalnya faktor prima dari 12 adalah 2 dan 3 karena 12 = 2 x 2 x 3, sedangkan faktor prima dari 18 adalah 2 dan 3 karena 18 = 2 x 3 x 3, KPK dapat dihitung dari 2 x 2 x 3 x 3 = 36 dan FPB dari n dihitung dari 3 x 2 = 6 ( Endang Puwati, 2008)
3. Penerapan Metode Accelerated learning Dalam Pembelajaran FPB dan KPK
Accelerated learning sebaiknya diterapkan disekolah-sekolah dasar, sebab tujuan dari accelerated larning menurut Meier (2004: 37) adalah :
Menggugah sepenuhnnya kemampuan belajar para pelajar, membuat belajar menyenangkan dan memuaskan bagi mereka, dan memeberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagian, kecerdasan, kompetensi mereka sebagai manusia.
Dengan demikian, penerapan accelerated learning di sekolah-sekolah dasar sangat penting. Sebab dengan penerapan accelerated learning, anak didik terbiasa meggugah seluruh kemampuan belajarnya, belajar akan terasa menyenangkan dan memuaskan bagi anak didik, dan dapat memberikan sumbangan pada kebahagian, kecerdasan, kompetensi, dan keberhasilan mereka sebagai mannusia.
Jika semua hal tersebut dirasakan anak didik sejak bangku sekolah dasar, maka anak didik akan merasakan bahwa kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan yang menyenagkan dan memberi banyak mamfaat. Dengan demikian,anak didik akan senantiasa measa bergairah belajar hingga kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Accelerated learning dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar untuk mata pelajaran matematika tentang FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita. Adapun langkah-langkah penyelesaian pembelajaran FPB dan KPK Dalam Bentuk Soal Cerita adalah :
a. Tahap persiapan
Guru berusaha menciptakan suasana belajar yang positif, misalnya dengan menyingkirkan sampah-sampah yang berserakan agar tidak menggangu penglihatan, mengingatkan kepada siswa agar tidak membahas masalah lain dahulu selain yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari. Guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa dengan banyak bertanya tentang tentang FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita sebagai pengetahuan prasyarat.,
b. Tahap penyampaian
Pada tahap peyampaian guru menjelaskan materi pembelajaran sebagai pengantar, mengelolah pengetahuan awal yang di miliki siswa yang erat kaitannya dengan konsep FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita. Kemudian guru memberikan beberapa contoh terkait pembelajaran FPB dan KPK dalam dalam bentuk soal cerita setelah itu tanya jawab antara guru dan siswa dimana siswa di beri kesempaan untuk bertanya dan gurupun menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa tersebut. Kemudian gurupun mengajukan pertanyaan kepada siswa dalam betuk soal cerita FPB dan KPK dan meminta siswa untuk menjawab soal tersebut di papan tulis, ternyata jawaban-jawaban siswa ada yang benar dan ada yang masih salah, yang masih salah diperbaiki oleh siswa lain mejadi sebuah jawaban yang benar dan jika siswa masih terkendala dalam menyelesaikan soal maka guru membantu siswa untuk memberika jawaba yang benar. Sedangkan untuk jawaban yang benar, guru memberikan penguatan khususnya kepada siswa tersebut dan kepada siswa lain pada umumnya.
c. Tahap pelatihan
pada tahap pelatihan , guru membagi siswa menjadi 8 kelompok belajar, setiap satu kelompok terdiri 5 orang dan memberikan 2 soal terkait FPK dan KPK dalam bentuk soal cerita, tujuannya untuk mengetahui apakah siswa telah memahani dengan benar materi yang diajark oleh bapak guru atau belum.
d. Tahap penampilan hasil
Setiap kelompok tampil bergantian didepan teman-temannyauntuk mempersentasikan hasil kerja mereka. Setiap selesai satu kelompok mempersentasikan hasil kerjanya, anak yang lain bertepuk tangan untuk memberikan sugesti positif agar anak-anak merasa bahwa hasil karya mereka di hargai.
4. Hasil Belajar FPB dan KPK Melalui Metode Accelerated Learning
Proses belajar mengajar di kelas mempunyai tujuan yang bersifat transaksional, artinya diketahui secara jelas dan operasional oleh guru dan siswa. Tujuan tercapai jika siswa memperoleh hasil belajar seperti yang diharapkan didalam proses belajar mengajar tersebut. Oleh sebab itu hasil belajar harus dirumuskan dengan baik untuk dapat dievaluasi pada akhir pembelajaran.
Seperti yang di kemukakan oleh meimer ( 2004 : 42 ) bahwa accelerated learning adalah sebuah metode proses belajar mengajar yang menggunakan pendekatan SAVI, SAVI dalam hal ini adalah somatis, auditori, visual dan intelektual.
Lebih lanjut Meimer ( 2004 : 42 ) menjelaskan ;
Somatis adalah belajar dengan bergerak dan berbuat. Auditori adalah belajar dengan berbicara dan mendengar, visual adalah belajar dengan mengamati dan menggambarkan, dan intelektual adalah belajar dengan memecahkan masalah dan merenung.
Keempat cara itulah yang digabungkan Meimer untuk menciptakan sebuah pendekatan belajar untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Pembelajaran FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita melalui metode Accelerated learning menggunakan 4 tahap pembelajaran yaitu persipan (preparatioan) , penyampaian (presentation), pelatihan (practice) dan penampilan hasil (performance) . Dari ke empat tahap pembelajaran Metode Acceleratd learning dapat meningkat hasil belajar siswa.
B. Kerangka Pikir
FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita merupakan salah satu materi matematika yang sering mengalami kesulitan pada siswa sekeloh dasar. Ada dua kesulitan yang dialami oleh siswa. Kesulitan pertama adalah menyelesaikan operasi FPB dan KPK dan kesulitan Kedua menyelesaikan soal cerita.
Accelerated learning atau yang dikenal juga dengan pemercepatan pembelajaran merupakan satu metode pembelajaran mampu memberikan energi dan membuat proses belajar menjadi lebih manusiawi. Accelerated learning berusaha membuat belajar menyenagkan dan benar-benar sangat mementingkan hasil dalam pembelajaran
Untuk mengatasi kesulitan siswa sekolah dasar dalam menyelesaikan soal-soal matematika tentang FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita, maka diterapkan pembelajaran dengan metode Accelerated learning dengan harapan hasil belajar matematika tentang FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita dapat lebih ditingakatkan.
Kerangka pikir penilitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Bagan 1.1 skema kerangka pikir
C. Hipotesis tindakan
Adapun yang menjadi hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah Jika penerapan metode accelerated learning pada pokok bahasan FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita pada proses pembelajaran maka dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Dan Jenis Penelitian
1. Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan metode accelerated learning, yaitu metode belajar yang melibatkan kelima Indra dan emosi dalam proses belajar yang disebut dengan pendekatan SAVI. SAVI dalam hal ini adalah : somatis , auditori, visual, dan intelektual.
Proses pembelajaran menurut accelerated learning dikenal dengan istilah siklus pembelajaran empat tahap seperti yang diungkapkan Meier (2004: 103) bahwa seluruh kegitan belajar manusia dapat dikatakan mempunyai empat unsur, yaitu : (1) persiapan (preparatioan) penyampaian (presentation), (3) pelatihan (practice), (4) penampilan hasil (performance).
2. Jenis penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penilitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian menggunakan tiga siklus yang didasarkan atas tiga pertimbangan alokasi waktu, topik dan tingkat pemahaman siswa. Masing-masing siklus terdiri atas empat langkah kemmis dan Mc taggart (tim pelatih proyek PGSM, 1999) sebagai berikut : (a). perencanaan yaitu merumuskan masalah, menentukan tujuan, metode penelitian, membuat perencanaan tindakan, (b). tindakan, yang dilakukan sebagau upaya perubahan yang dilakukan, (c), observasi, dilakukan secara sistematis untuk mengamati hasil dan dampak tindakan terhadap proses belajar mengajar dan (d). Refleksi, yaitu mengkaji dan mempertimbangkan hasil atau dampak tindakan yang dilakukan.
B. Setting Dan Subjek Penelitian
1. Setting penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dikelas V SDN 35 parepare selama 1 (satu) bulan. Peneliti memilih SD tersebut berdasarkan pertimbangan (1) tempatnya masih bisa di jankau oleh peneliti, (2) masih di temukan Siswa yang sulit memahami konsep FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita, (3) di sekolah ini belum pernah di lakukan penelitian dengan menggunakan metode Accelerated Learning, (4) Adanya dukungan dari kepala sekolah sekolah dan guru terhadap pelaksanaan penelitian.
2. Subjek penelitian
Yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN 35 parepare dengan jumlah siswa 40 orang yang terdiri darri 22 siswa laki dan 18 siswa perempuan. Sasaran utama dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep FPB dan KPK dalam bentuk soal ceria melalui metode accelerated Learning.
Adapun alasan peneliti memilih siswa kelas V sebagai objek peneliti adalah :
a. Adanya kesulitan murid dalam menrjemahkan soal cerita dalam kalimat matematika
b. Kesulitan dalam pengecetan hasil yang di peroleh
C. Fokus penelitian
Adapun yang menjadi fokus penelitian yang diselidiki adalah :
1. Siswa, yaitu melihat aktivitas siswa dalam memahami materi pelajaran matematika tentang FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita.
2. Proses belajar mengajar, yaitu melihat bagaimana keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dengan metode accelerated learning.
3. Hasil, yaitu melihat hasil pembelajaran ,matematika tentang FPB dan KPK dalam benuk soal cerita dengan metode Accelerated learning.
D. Tehnik pengumpulan data
Teknik yang digunakan dalam memperoleh data dalam penelitian ini adalah: metode tes, wawancara, dan metode observasi.
1. Metode tes
Tes dilakukan untuk memperoleh informasi tentang pengetahuan dasar siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang FPB dan KPK. Adapun prosedur pembuatan tes dilakukan melalui empat tahap yaitu : (a) menyusun kisi-kisi soal yang berpedoman pada kurikulum satuan tingkat penddikan (KTSP), (b)membuat butir soal bedasarkan kisi-kisi yang dibuat bersama antara peneliti dan guru, (c) uji coba soal, dan (d) mengembangkan dan memperbaiki konsruksi soal. Tes dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu pada awal penelitian dan pada akhir suatu tindakan.
2. Wawancara
Wawancara dimaksud untuk menggali kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang FPB dan KPK yang sulit diperoleh dari hasil pekerjaan siswa maupun melalui pengamatan.
3. Metode observasi
Pengamatan dilaksanakan oleh orang yang aktif dalam pelaksanaan tindakan yaitu guru kelas V dan teman sejawat. Pengamatan ni menggunakan pedoman pengamatan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting
E. Desain penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2009/2010 dan direncanakan dalam tiga siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai.
Skemanya adalah sebagai berikut :
Bagan 1.2 Skema Alur PTK yang diadaptasi Mc Taggart (1998)
Uraian verbal bagan/ skema berdasarkan model PTK yang dipilih
1. Keadan awal
a. Meminta izin dan mengadakan konsultasi dengan pihak sekolah, khususnya kepala sekolah tentang kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan.
b. Melaksanakanndiskusi dengan guru kelas V ( guru mata pelajaran ) untuk mendapatkan gambaran bagaimana pemahaman anak tentang pelajaran matematika tentang FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita.
c. Melaksanakan observasi di kelas V untuk mengambil data tentang kemampuan anak dalam pemahami materi FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita.
2. Perencanaan
a. Guru dan peneliti mengadakan diskusi untuk penyamakan persepsi tentang pokok bahasan yang akan dibahas dan metode yang akan di pergunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
b. Menelah materi tentang FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita dalam kurikulum yang berlaku
c. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaranyang sesuai dengan materi FPB dan KPK dalam bentuk soal cerita.
3. Pelaksanaan tindakan
a. Tahap persiapan
b. Tahap penyampaian
c. Tahap pelatihan
d. Tahap penampilan hasil
4. Observasi atau pengamatan
Observasi dilakukan oleh guru dan peneliti selama kegiatan belajar berlangsung. variabel yang diamati adalah kegiatan siswa selama melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan penerapan accelerated learning.
5. Refleksi
Refleksi dilakukan setiap selesai satu tahap dalam setiap siklus pembelajaran, Hasil refleksi menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam penelitian, apakah lanjut kesiklus berikutnya atau berhenti.
F. Tehnik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan data aspek guru dan aspek siswa. Teknik yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, 1992 (Latri, 2003: 25) yang terdiri dari tiga tahap kegiatan yaitu: 1) menyelidiki data, 2) menyajikan data, dan 3) menarik kesimpulan dan verifikasi. Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dan siswa dalam proses pembelajaran setiap siklusnya, data aspek aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran dianalisis berdasarkan tehnik yang dikemukakan oleh Mc. Targar dimana hasil data kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran diperoleh berdasarkan kemampuan guru dan siswa melaksanakan indikator yang direncanakan dari setiap tahapan pembelajaran matematika realistik. Penafsiran data proses pembelajaran aspek guru dan siswa digunakan acuan dengan rumus .
G. Indikator keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan ini meliputi indikator proses dan hasil dalam metode accelerated learning dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang FPB dan KPK. Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran accelerated learning menjadi salah satu alternatif solusi yang tepat untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tentang FPB dan KPK di kelas V SDN 35 parepare. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengungkapkan kemampuan siswa dalam memahami soal cerita tentang FPB dan KPK berdasarkan kriteria standar yang diungkapkan oleh Nurkancana (1986: 39) sebagai berikut.
Tabel 2.1. Kualifikasi Keberhasilan Tindakan Kelas
Tingkat penguasaan Kategori
90% - 100% Sangat tinggi
80% - 89% Tinggi
65% - 79% Sedang
55% - 64% Rendah
0% - 54% Sangat rendah
Berdasarkan kriteria standar tersebut, maka peneliti menentukan tingkat kriteria keberhasilan pembelajaran pada penyelesaian soal cerita tentang FPB dan KPK akan terlaksana dengan baik apabila setiap siswa telah memperoleh nilai minimal 7 dengan tingkat penguasaan minimal 70 %
.
Komentar
Posting Komentar