AKHLAK
TERHADAP ALLAH, DIRI SENDIRI DAN KELUARGA
A.
AKHLAK MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH
Akhlak
menurut bahasa yaitu berasal dari bahasa arab (اخلاق) jamak dari kata خلق yang
berarti tingkah laku, perangai atau tabiat. Sedangkan menurut istilah; akhlak
adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan spontan
tanpa dipikir dan direnung lagi. Dengan demikian akhlak pada hakikatnya adalah
sikap yang melekat pada diri mausia, sehingga manusia dapat melakuakannnya
tanpa berfikir (spontan).
Di samping itu akhlak juga dikenal
dengan istilah moral dan etika. Moral berasal dari bahasa Latin mores yang
berarti adat kebiasaan. Moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik buruk yang
diterima umum atau masyarakat. Karena itu adat istiadat masyarakat menjadi standar
dalam menentukan baik dan buruknya. Menurut Kahar Masyhur akhlak kepada Allah
dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh
manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai khalik.
Sehingga akhlak kepada Allah dapat
diartikan Segala sikap atau perbuatan manusia yang dilakukan tanpa dengan
berfikir lagi (spontan) yang memang seharusnya ada pada diri manusia (sebagai
hamba) kepada Allah SWT. (sebagai Kholiq)
Manusia sebagai hamba Allah
sepantasnya mempunyai akhlak yang baik kepada Allah. Hanya Allah–lah yang patut
disembah. Selama hidup, apa saja yang diterima dari Allah sungguh tidak dapat
dihitung. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam Qur’an surat An-nahl : 18,
yang artinya “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu
tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar- benar Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Seorang
muslim yang baik itu memang diharuskan berakhlak yang baik kepada Allah SWT.
Karena kita sebagai manusia itu diciptakan atas kehendak-Nya, sehingga alangkah
baiknya kita bersikap santun (berakhlak) kepada sang Kholliq sebagai rasa
syukrur kita.
Menurut
Kahar Mashyur , Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu
beakhlak kepada Allah. Yaitu:
1. Pertama, karena Allah-lah yang mencipatakan
manusia. Dia yang menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan keluar dari
tulang punggung dan tulang rusuk hal ini sebagai mana di firmankan oleh Allah
dalam surat at-Thariq ayat 5-7. sebagai berikut :
yang
artinya : (5) "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia
diciptakan?, (6). Dia tercipta dari air yang terpancar, (7). yang terpancar
dari tulang sulbi dan tulang dada. (at-Tariq:5-7)
2. Kedua, karena Allah-lah yang telah
memberikan perlengkapan panca indera, berupa pendengaran, penglihatan, akal
pikiran dan hati sanubari, disamping anggota badan yang kokoh dan sempurna
kepada manusia. Firman Allah dalam surat, an-Nahl ayat, 78.
yang
Artinya: "Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan
tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan
hati, agar kamu bersyukur. ( Q.S an-Nahal : 78)
3. Ketiga, karena Allah-lah yang telah
menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup
manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara,
binatang ternak dan lainnya. Firman Allah dalam surat al-Jatsiyah ayat 12-13.
yang
Artinya (13) "Allah-lah yang menundukkan lautan untuk kamu supaya
kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, supaya kamu dapat mencari
sebagian dari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. (13), "Dan Dia
menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi
semuanya, (sebagai rahmat) dari pada Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang berpikir.(Q.S al-Jatsiyah
:12-13 ).
4. Keempat, Allah-lah yang telah
memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan, daratan dan lautan. Firman
Allah dalam surat Al-Israa' ayat, 70.
yang
Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam,
Kami angkut mereka dari daratan dan lautan, Kami beri mereka dari rizki yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S al-Israa : 70).
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang
seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk Tuhan sebagai khalik.
Berkenaan dengan akhlak kepada Allah dilakukan dengan cara memuji-Nya, yakni
menjadikan Tuhan sebagai satu- satunya yang menguasai dirinya. Oleh sebab itu,
manusia sebagai hamba Allah mempunyai cara-cara yang tepat untuk mendekatkan
diri. Caranya adalah sebagai berikut :
1.
Mentauhidkan Allah
Yaitu dengan tidak menyekutukan-Nya kepada sesuatu apapun. Seperti yang
digambarkan dalam Qur’an Surat Al-Ikhlas : 1-4.
2.
Bertaqwa kepada Allah
Maksudya adalah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakan
apa-apa yang telah Allah perintahkan dan meninggalkan apa-apa yang
dilarang-Nya.
a. Hakekat taqwa dan kriteria orang
bertaqwa
Bila ajaran Islam dibagi menjadi Iman, Islam, dan Ihsan, maka pada
hakikatnya taqwa adalah integralisasi ketiga dimensi tersebut. Lihat ayat dalam
Surah Al- Baqoroh: 2-4, Ali Imron: 133-135.
Dalam surah Al- Baqoroh ayat 2-4 disebutkan empat kriteria orang- orang
yang bertaqwa, yaitu: 1). Beriman kepada yang ghoib, 2). Mendirikan sholat,
3). Menafkahkan sebagian rizki yang diterima dari Allah, 4). Beriman dengan
kitab suci Al- Qur’an dan kitab- kitab sebelumnya dan 5). Beriman dengan hari
akhir. Dalam dua ayat ini taqwa dicirikan dengan iman ( no. 1,4 dan 5 ),
Islam (no. 2 ), dan ihsan ( no. 3 ).
Sementara itu dalam surah Ali Imron 134-135 disebutkan empat diantara ciri-
ciri orang yang bertaqwa, yakni: 1). Dermawan ( menafkahkan hartanya baik waktu
lapang maupun sempit), 2). Mampu menahan marah, 3). Pemaaf dan 4).
Istighfar dan taubat dari kesalahan- kesalahannya. Dalam dua ayat ini taqwa
dicirikan dengan aspek ihsan.
b. Buah dari taqwa
1. Mendapatkan sikap furqan yaitu tegas
membedakan antara hak dan batil (Al- anfal : 29)
2. Mendapatkan jalan keluar dari kesulitan (At-thalaq : 2)
3. Mendapat rezeki yang tidak diduga- duga
(At-thalaq : 3)
4. Mendapat limpahan berkah dari langit dan
bumi (Al- A’raf : 96)
5. Mendapatkan kemudahan dalam urusannya
(At-thalaq : 4)
6. Menerima penghapusan dosa dan pengampunan
dosa serta mendapat pahala besar (Al- anfal : 29 & Al- anfal : 5).
3.
Beribadah kepada Allah
Allah berfirman dalam Surah Al- An’am : 162 yang artinya :”Sesungguhnya sholatku,
ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Dapat juga dilihat dalam Surah Al- Mu’min
: 11 & 65 dan Al- Bayyinah : 7-8.
4.
Taubat
Sebagai seorang manusia biasa, kita juga tidak akan
pernah luput dari sifat lalai dan lupa. Karena hal ini memang merupakan tabiat
manusia. Oleh karena itu, ketika kita sedang terjerumus dalam kelupaan sehingga
berbuat kemaksiatan, hendaklah segera bertaubat kepada-Nya. Hal ini dijelaskan dalam Surah
Ali-Imron : 135.
5. Membaca
Al-Qur’an
Seseorang
yang mencintai sesuatu, tentulah ia akan banyak dan sering menyebutnya. Demikian juga
dengan mukmin yang mencintai Allah, tentulah ia akan selalu menyebut asma-Nya
dan juga senantiasa akan membaca firman-firman-Nya. Dalam sebuah hadits,
Rasulullah SAW berkata yang artinya : “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya
Al-Qur’an itu dapat memberikan syafaat dihari kiamat kepada para pembacanya”.
6. Ikhlas
Secara
terminologis yang dimaksud dengan ikhlas adalah beramal semata-mata
mengharapkan ridha Allah SWT. Dalam bahasa populernya ikhlas adalah
berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata karena Allah SWT.
a.
Tiga unsur keikhlasan:
1.
Niat yang ikhlas ( semata-semata hanya mencari ridho Allah )
2.
Beramal dengan tulus dan sebaik-baiknya
- Setelah memiliki niat yang ikhlas, seorang muslim yang mengaku ikhlas
melakukan sesuatu harus membuktikannya dengan melakukan perbuatan itu dengan
sebaik-baiknya.
3.
Pemanfaatan hasil usaha dengan tepat.
b. Keutamaan Ikhlas
Hanya
dengan ikhlas, semua amal ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT. Rasulullah
SAW bersabda, yang artinya :”Selamatlah para mukhlisin. Yaitu orang- orang yang
bila hadir tidak dikenal, bila tidak hadir tidak dicari- cari. Mereka pelita
hidayah, mereka selalu selamat dari fitnah kegelapan…”( HR. Baihaqi ).
7.
Khauf dan Raja’
Khauf
dan Raja’ atau takut dan harap adalah sepasang sikap batin yang harus dimiliki
secara seimbang oleh setiap muslim. Khauf didahulukan dari raja’ karena khauf
dari bab takhalliyyah (mengosongkan hati dari segala sifat jelek), sedangkan
raja’ dari bab tahalliyah (menghias hati dengan sifat-sifat yang baik).
Takhalliyyah menuntut tarku al-mukhalafah (meninggalkan segala pelanggaran),
dan tahalliyyah mendorong seseorang untuk beramal.
8.
Tawakal
Adalah membebaskan diri dari segala kebergantungan kepada selain Allah dan
menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepadanya. Allah berfirman dalam surah Hud:
123, yang arinya :”Dan kepunyaan Allah lah apa yang ghaib di langit dan di
bumi dan kepada-Nya lah dikembalikan urusan- urusan semuanya, maka sembahlah
Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali- kali Tuhanmu tidah lalai dari
apa yang kamu kerjakan.”
Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal ( ikhtiar ).
Tidaklah dinamai tawakal kalau hanya pasrah menunggu nasib sambil berpangku
tangan tanpa melakukan apa- apa.
B.
PENGERTIAN AKHLAK PADA DIRI SENDIRI
Manusia sebagai makhluk Allah mempunyai
kewajiban terhadap dirinya sendiri. Namun bukan berarti kewajiban ini lebih
penting daripada kewajiban kepada Allah. Dikarenakan kewajiban yang pertama dan
utama bagi manusia adalah mempercayai dengan keyakinan yang sesungguhnya bahwa
“Tiada Tuhan melainkan Allah”. Keyakinan pokok ini merupakan kewajiban terhadap
Allah sekaligus merupakan kewajiban manusia bagi dirinya untuk keselamatannya.
Manusia mempunyai kewajiban kepada dirinya
sendiri yang harus ditunaikan untuk memenuhi haknya. Kewajiban ini bukan
semata-mata untuk mementingkan dirinya sendiri atau menzalimi dirinya sendiri.
Dalam diri manusia mempunyai dua unsur, yakni jasmani (jasad) dan rohani
(jiwa). Selain itu manusia juga dikaruniai akal pikiran yang membedakan manusia
dengan makhluk Allah yang lainnya. Tiap-tiap unsur memiliki hak di mana antara
satu dan yang lainnya mempunyai kewajiban yang harus ditunaikan untuk memenuhi
haknya masing-masing.
1. Macam-Macam Akhlak Seorang Muslim Pada Diri
Sendiri
a. Berakhlak terhadap jasmani
- Senantiasa Menjaga
Kebersihan
Islam menjadikan kebersihan sebagian dari Iman.
Seorang muslim harus bersih/ suci badan, pakaian, dan tempat, terutama saat
akan melaksanakan sholat dan beribadah kepada Allah, di samping suci dari
kotoran, juga suci dari hadas.
Allah SWT berfirman :
Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:
"Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu
menjauhkan diri137 dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati
mereka, sebelum mereka suci138. Apabila mereka telah suci, maka campurilah
mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan
diri. (QS. Al Baqarah:222)
Artinya : Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu
selama-lamanya. Sesungguh-nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid
Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di
dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At Taubah:108)
Makan dan minum merupakan kebutuhan vital bagi
tubuh manusia, jika tidak makan dan minum dalam keadaan tertentu yang normal
maka manusia akan mati. Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar makan dan
minum dari yang halal dan tidak berlebihan. Sebaiknya sepertiga dari perut
untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.
Allah SWT berfirman : Maka makanlah yang halal lagi baik dari
rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni'mat Allah, jika
kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. An Nahl:114)
Menjaga kesehatan bagi seorang muslim adalah
wajib dan merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT dan sekaligus
melaksanakan anmanah dari-Nya. Riyadhah atau latihan jasmani sangat penting
dalam penjagaan kesehatan, walau bagaimnapun riyadhah harus tetap dilakukan
menurut etika yang ditetapkan oleh Islam. Orang mukmin yang kuat, lebih baik
dan lebih dicintai Allah SWT daripada mukmin yang lemah.
Dari sahabat Abu Hurairah, Bersabda Rasulullah, “Mu’min
yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing
memiliki kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan
mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau
ditimpa sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah
ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”. (HR.
Muslim)
-
Berbusana yang Islami
Manusia mempunya budi, akal dan kehormatan, sehingga bagian-bagian
badannya ada yang harus ditutupi (aurat) karena tidak pantas untuk dilihat
orang lain. Dari segi kebutuhan alaminya, badan manusia perlu ditutup dan
dilindungi dari gangguan bahaya alam sekitarnya, seperti dingin, panas, dll.
Karena itu Allah SWT memerintahkan manusia menutup auratnya dan Allah SWT
menciptakan bahan-bahan di alam ini untuk dibuatb pakaian sebagai penutup
badan.
Allah SWT berfirman :Hai
anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup
'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang
paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan
Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. Al A’raf:26)
b. Berakhlak
terhadap Akal
-
Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu merupakan salah satu
kewajiban bagi setiap muslim, sekaligus sebagai bentuk akhlak seorang muslim.
Muslim yang baik, akan memberikan porsi terhadap akalnya yakni berupa penambahan
pengetahuan dalam sepanjang hayatnya. Sebuah hadits Rasulullah SAW
menggambarkan :
Artinya : “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
Seorang mu’min, tidak
hanya mencari ilmu dikarenakan sebagai satu kewajiban, yang jika telah selesai
kewajibannya maka setelah itu sudah dan berhenti. Namun seorang mu’min adalah
yang senantiasa menambah dan menambah ilmunya, kendatipun usia telah memakan
dirinya. Menuntut ilmu juga tidak terbatas hanya pada pendidikan formal
akademis namun dapat dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.
-
Memiliki Spesialisasi Ilmu yang dikuasai
Setiap muslim perlu mempelajari hal-hal yang
memang sangat urgen dalam kehidupannya. Menurut Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(1993 : 48), hal-hal yang harus dikuasai setiap muslim adalah : Al-Qur'an, baik
dari segi bacaan, tajwid dan tafsirnya; kemudian ilmu hadits; sirah dan sejarah
para sahabat; fikih terutama yang terkait dengan permasalahan kehidupan, dan
lain sebagainya. Setiap muslim juga harus memiliki bidang
spesialisasi yang harus ditekuninya. Spesialisasi ini tidak harus bersifat ilmu
syariah, namun bisa juga dalam bidang-bidang lain, seperti ekonomi, tehnik,
politik dan lain sebagainya. Dalam sejarahnya, banyak diantara generasi awal
kaum muslimin yang memiliki spesialisasi dalam bidang tertentu.
-
Mengajarkan Ilmu pada Orang Lain
Termasuk akhlak muslim terhadap akalnya adalah
menyampaikan atau mengajarkan apa yang dimilikinya kepada orang yang
membutuhkan ilmunya.
Firman Allah SWT : “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu,
kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah
kepada orang yang mempunyai pengetahuan828 jika kamu tidak mengetahui”
(An-Nahl:43)
-
Mengamalkan Ilmu dalam Kehidupan
Diantara tuntutan dan sekaligus akhlak terhadap akalnya adalah
merealisasikan ilmunya dalam “alam nyata.” Karena akan berdosa seorang yang
memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya.
Firman Allah SWT : “Wahai
orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang
tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff)
c. Berakhlak terhadap jiwa
-
Bertaubat dan Menjauhkan Diri dari Dosa Besar
Taubat adalah meninggalkan seluruh dosa dan
kemaksiatan, menyesali perbuatan dosa yang telah lalu dan berkeinginan teguh
untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut pada waktu yang akan
datang. Allah SWT berfirman : Hai orang-orang yang beriman,
bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang
semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan
memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari
ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu'min yang bersama dia;
sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil
mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan
ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At-Tahrim : 8)
Adapun yang termasuk dosa-dosa besar diantaranya
:
·
Syirik
·
Kufur
·
Nifak
·
Riddah
·
Fasik
·
Berzina
dan menuduh orang lain berzina
·
Membunuh
manusia
·
Bersumpah
palsu
-
Bermuraqabah
Muraqabah adalah rasa kesadaran seorang muslim
bahwa dia selalu diawasi oleh Allah SWT. Dengan demikian dia tenggelam dengan
pengawasan Allah dan kesempurnaan-Nya sehingga ia merasa akrab, merasa senang,
merasa berdampingan, dan menerima-Nya serta menolak selain Dia.
Firman Allah SWT :
اِنَّ اللهَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya : “Sesungguhnya Allah itu maha mengawasimu.” (QS.
An-Nisa : 1)
-
Bermuhasabah
Yang dimaksud dengan muhasabah adalah
menyempatkan diri pada suatu waktu untuk menghitung-hitung amal hariannya.
Apabila terdapat kekurangan pada yang diwajibkan kepadanya maka menghukum diri
sendiri dan berusaha memperbaikinya. Kalau termasuk yang harus diqadha maka
mengqadhanya. Dan bila ternyata terdapat sesuatu yang terlarang maka
memohon ampun, menyesali dan berusaha tidak mengulangi kembali. Muhasabah
merupakan salah satu cara untuk memperbaiki diri, membina, menyucikan, dan
membersihkannya.
Firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr : 18)
-
Mujahadah
Mujahadah adalah berjuang, bersungguh-sungguh,
berperang melawan hawa nafsu. Hawa nafsu senantiasa mencintai ajakan untuk
terlena, menganggur, tenggelam dalam nafsu yang mengembuskan syahwat,
kendatipun padanya terdapat kesengsaraan dan penderitaan. Jika seorang Muslim
menyadari bahwa itu akan menyengsarakan dirinya, maka dia akan berjuang dengan
menyatakan perang kepadanya untuk menentang ajakannya, menumpas hawa nafsunya.
Firman Allah SWT : “Dan
aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu
selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf : 53)
C.
AKHLAK TERHADAP KELUARGA
1.
Akhlak anak terhadap Orang Tua
Orang tua adalah perantara
perwujudan kita. Kalaulah mereka itu tidak ada, kitapun tidak akan pernah ada.
Kita tahu bahwa perwujudan itu disertai dengan kebaikan dan kenikmatan yang tak
terhingga banyaknya., berbagai rizki yang kita peroleh dan kedudukan yang kita
raih. Orang tua sering kali mengerahkan segenap jerih paya mereka untuk
menghindarkan bahaya dari diri kita. Mereka bersedia kurang tidur agar kita
bisa beristirahat. Mereka memberikan kesenangan-kesenangan kepada kita yang
tidak bisa kita raih sendiri. Mereka memikul berbagai penderitaan dan mesti
berkorban dalam bentuk yang sulit kita bayangkan.
Menghardik kedua orang tua dan
berbuat buruk kepada mereka tidak mungkin terjadi kecuali dari jiwa yang bengis
dan kotor, berkurang dosa, dan tidak bisa diharap menjadi baik. Sebab,
seandainya seseorang tahu bahwa kebaikan dan petunjuk Allah SWT mempunyai
peranan yang sangat besar, berbuat baik
kepada orang adalah kewajiban dan semestinya
mereka diperlakukan dengan baik, bersikap mulia terhadap orang yang
telah membimbing, berterima kasih kepada orang yang telah memberikan kenikmatan
sebelum dia sendiri bisa mendapatkannya, dan yang telah melimpahinya dengan
berbagai kebaikan yang tak mungkin bisa di balas. Orang tua adalah orang-orang
yang bersedia berkorban demi anaknya, tanpa memperdulikan apa balasan yang akan
diterimanya.
a. Kewajiban kepada ibu
Kalau ibu merawat jasmani dan
rohaninya sejak kecil secara langsung, maka bapak pun merawatnya, mencari
nafkahnya, membesarkannya, mendidiknya dan menyekolahkannya, disanping usaha
ibu. Kalau mulai mengandung sampai masa muhariq (masa dapat
membedakan mana yang baik dan buruk), seorang ibu sangat berperan, maka setelah
mulai memasuki masa belajar, ayah lebih tampak kewajibannya, mendidiknya dan
mempertumbuhkannya menjadi dewasa, namun apabila dibandingkan antara berat
tugas ibu dengan ayah, mulai mengandung sampai dewasa dan sebagaimana perasaan
ibu dan ayah terhadap putranya, maka secara perbandingan, tidaklah keliru
apabila dikatakan lebih berat tugas ibu dari pada tugas ayah. Coba bandingkan,
banyak sekali yang tidak bisa dilakukan oleh seorang ayah terhadap anaknya,
yang hanya seorang ibu saja yang dapat mengatasinya tetapi sebaliknya banyak
tugas ayah yang bisa dikerjakan oleh seorang ibu. Barangkali karena demikian
inilah maka penghargaan kepada ibunya. Walaupun bukan berarti ayahnya tidak
dimuliakan, melainkan hendaknya mendahulukan ibu daripada mendahulukan ayahnya
dalam cara memuliakan orang tua.
b.
Berbuat baik kepada ibu dan bapak
Seorang anak menurut ajaran Islam
diwajibkan berbuat baik kepada ibu dan ayahnya, dalam keadaan bagaimanapun.
Artinya jangan sampai si anak menyinggung perasaan orang tuanya, walaupun
seandainya orang tua berbuat lalim kepada anaknya, dengan melakukan yang tidak
semestinya, maka jangan sekali-kali si anak berbuat tidak baik, atau membalas,
mengimbangi ketidakbaikan orang tua kepada anaknya, Allah SWT tidak meridhainya
sehingga orang tua itu meridhainya. Allah berfirman Firman Surat
Al-Luqman : 14
Artinya:“Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu” (QS.Luqman:14)
Menurut ukuran secara umum, si orang
tua tidak sampai akan menganiaya kepada anaknya. Kalaulah itu terjadi
penaniayaan orang tua kepada anaknya adalah disebakan perbuatan si anak itu
sendiri yang menyebabkan marah dan penganiayaan orang tua kepada anaknya.
Didalam kasus demikian seandainya si orang tua marah kepada anaknya dan berbuat
aniaya sehingga ia tiada ridha kepada anaknya, Allah SWT pun tidak meridhai si
anak tersebut lantaran orang tua.
c. Berkata halus dan mulia kepada
ibu dan ayah
Segala sikap orang tua terutama ibu
memberikan refleksi yang kuat terhadap sikap si anak. Dalam hal berkata pun
demikian. Apabila si ibu sering menggunakan kata-kata halus kepada anaknya, si
anak pun akan berkata halus. Kalau si ibu atau ayah sering mempergunakan
kata-kata yang kasar, si anakpun akan mempergunakan kata-kata kasar, sesuai
yang digunakan oleh ibu dan ayahnya. Sebab si anak mempunyai insting menir yang
lebih mudah ditiru adalah orang yang terdekat dengannya, yaitu orang tua,
terutama ibunya. Agar anak berlaku lemah lembut dan sopan kepada orang tuanya,
harus dididik dan diberi contoh sehari-hari oleh orang tuanya bagaimana
sianak berbuat, bersikap, dan berbicara.
Kewajiban anak kepada orang tuanya menurut ajaran Islam harus berbicara sopan, lemah-lembut dan
mempergunakan kata-kata mulia.
Sebagai pedoman
dalam memberikan perlakuan yang baik kepada kedua orang tua, ingatlah Firman Allah dalam surah
Al Isra ayat 23 dan 24 sebagai berikut :
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya
kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau
Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang
mulia.Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan
dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil".
d. Berbuat baik kepada ibu dan ayah
yang sudah meninggal dunia
Bagaimana berbuat baik seorang anak
kepada ibu dan ayahnya yang sudah tiada. Dalam hal ini menurut tuntunan ajaran
Islam sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh Abu Usaid
yang artinya:
”Kami pernah berada pada suatu
majelis bersama Nabi, seorang bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah,
apakah ada sisa kebajikan setelah keduanya meninggal dunia yang aku untuk
berbuat sesuatu kebaikan kepada kedua orang tuaku. “Rasulullah SAW bersabda:
”Ya, ada empat hal :”mendoakan dan memintakan ampun untuk keduanya,
menempati / melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-teman kedua orang
tua, dan bersilaturrahim yang engkau tiada mendapatkan kasih sayang kecuali
karena kedua orang tua”.
Hadist ini menunjukkan cara kita
berbuat baik kepada ibu dan ayah kita, apabila beliau-beliau itu sudah tiada
yaitu:
-
Mendoakan ayah ibu yang telah tiada
itu dan meminta ampun kepada Alloh SWT dari segala dosa orang tua kita.
-
Menepati janji kedua ibu bapak. Kalau sewaktu hidup orang
tua mempunyai janji kepada seseorang, maka anaknya harus berusaha menunaikan
menepati janji tersebut. Umpamanya beliau akan naik haj, yang belum sampai
melaksanakannya, maka kewajiban anaknya menunaikan haji orang tua tersebut.
-
Memuliakan teman-teman kedua orang tua. Diwaktu hidupnya ibu
atau ayah mempunyai teman akrab, ibu atau ayah saling tolong-menolong dengan
temannya dalam bermasyarakat. Maka untuk berbuat kebajikan kepada kedua orang
tua kita yang telah tiada, selain tersebut di atas, kita harus memuliakan teman
ayah dan ibu semasa ia masih hidup.
-
Bersilalaturrahmi
kepada orang yang kita mempunyai hubungan karena kedua orang tua. Maka terhadap
orang yang dipertemukan oleh ayah atau ibu sewaktu masih hidup, maka hal itu
termasuk berbuat baik kepada ibu dan bapak kita yang sudah meninggal dunia.
Akhlak anak terhadap kedua orang tua
menurut al-Ghazali masih relevan bagi pemuda Islam pada masa sekarang, karena
berdasarkan atas al-Qur'an dan Hadits. Akan tetapi anak yang diterlantarkan
orang tua sejak kecil, membuat mereka tidak dapat menghayati tanggung jawab
orang tua terhadapnya, tanggung jawab anak terhadap orang tua terhadap anak dan
akan menyebabkan mereka tidak berbuat baik kepada orang tua. Sayangilah,
cintailah, hormatilah, patuhlah kepadanya rendahkan dirimu, sopanlah kepadanya.
Oleh karena itu orang tua dan anak harus sama-sama memperhatikan tanggung jawab
dan haknya masing-masing, antara hak-hak orang tua terhadap anak dan
sebaliknya, supaya akhlak atau etika anak terhadap kedua orang tua berjalan
dengan baik dan sesuai dengan ajaran agama.
2.
Akhlak Orang Tua Kepada Anak
Dalam ajaran
Islam diatur bagaimana hubungan antara anak-anaknya serta hak dan kewajiban
mnasing-masing. Orang tua harus mengikat hubungan yang harmonis dan penuh kasih
sayang dengan anak-anaknya. Sebaik-baik orang tua adalah orang tua yang mampu membuat
anaknya menjadi generasi rabbani, yang memiliki akhlak dan adab seperti
Rasulullah SAW. Poin yang terpenting
adalah teladan dari orang tuanya.
Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia
ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Akhlak sangat
berkaitan dengan adab. Untuk itulah beliau mengajarkan kita adab sejak bangun
tidur hingga tidur. Semua ada tuntunannya. Termasuk adab anak kepada orang
tuanya, murid kepada gurunya, pendidik
kepada peserta didik.
Para pakar pendidikan sering mengatakan bahwa ketika orang
tua mengajarkan adab kepada anaknya, walaupun sebelumnya ia juga belum
melakukan adab itu, dengan belajar adab tersebut bersama anaknya, maka hal itu
bisa berubah menjadi kebiasaan dalam beradab. Hal ini akan berujung pada
terbentuknya karakter yang bagus.
Keberhasilan anak bukan karena guru,
tapi dengan orang tuanya. Anak berprestasi bukan karena gurunya, tapi karena
orang tuanya sudah mencetak generasi yang seperti itu. Sebaik-baik orang
tua adalah orang tua yang mampu membuat anaknya menjadi generasi rabbani, yang
memiliki akhlak dan adab seperti Rasulullah SAW. Semoga dengan informasi
tentang cara mengajarkan akhlak yang baik kepada anak ini, kita bisa menjadikan anak menjadi generasi rabbani dan beradab. Orang
tua harus lebih memperhatikan, membimbing, dan mendidik anak dengan baik, sehingga
tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an
Surat An-Nisa :9:
وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟
مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ
وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut (kepada
Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang
lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)-nya.
Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka
berbicara dengan tutur kata yang benar”. (QS. An-Nisa’:9)
Ayat di atas mengisyaratkan kepada
orang tua agar tidak meninggalkan anak dalam keadaan lemah. Lemah dalam hal ini
adalah lemah dalam segala aspek kehidupan, seperti lemah mental, psikis,
pendidikan, ekonomi terutama lemah iman (spiritual). Anak yang lemah iman akan menjadi generasi
tanpa kepribadian. Jadi, semua orang tua harus memperhatikan semua aspek
perkembangan anak, baik dari segi perhatian, kasih sayang, pendidikan mental,
maupun masalah akidah atau keimananya.
Oleh karena itu, para orang tua
hendaklah bertakwa kepada Allah, berlaku lemah lembut kepada anak, karena
sangat membantu dalam menanamkan kecerdasan spiritual pada anak. Keadaan anak
ditentukan oleh cara-cara orang tua mendidik dan membesarkannya.
Ada beberapa langkah yang dapat
dilaksanakan oleh orang tua dalam peranannya mendidik anak, antara lain:
1. Orang tua
sebagai panutan
2. Orang tua
sebagai motivator anak
3. Orang tua
sebagai cermin utama anak
4. Orang tua
sebagai fasilitator anak
Komentar
Posting Komentar