Langsung ke konten utama

Berbakti Kepada Orang Tua dalam Islam dan berbuat ihsan

Berbakti Kepada Orang Tua dalam Islam dan berbuat ihsan

1.      Berbakti kepada orang tua
A.    Akhlak kepada kedua orangtua
Islam sangat mengajarkan manusia (anak) untuk berbakti kepada orang tua, melihat betapa besar dan mulianya mereka merawat anak-anaknya dengan penuh keikhlasan tanpa mengharap balasan apapun. Mereka akan berbuat apapun untuk melihat anaknya menjadi orang sukses, mereka akan berusaha sekuat tenaga meraka untuk memenuhi segala kebutuhananaknya. Dalam hadits Nabi saw :
فعن ابن مَسْعُودٍ قال سألت النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ايُّ الْعَمَلِ اَحَبُّ الى الله تعالى؟ قال الصَّلَاة على وَقْتِهَا، قلت ثم اي؟ قال بِرُّ الْوَالْدَيْنِ، قلت، ثُمَّ اي؟ قال الجِهَادُ فى سَبِيْلِ الله
مسلم و البخاري اخرجه
Artinya: Dari Abu Abdurrahman bin Mas’ud ra., ia berkata: “saya bertanya kepada Nabi saw.: “amal apakah yang paling disukai oleh Allah Ta’ala?” beliau menjawab: “sholat pada waktunya” saya bertanya lagi: “kemudian apa?” beliau menjawab: “berbuat baik kepada kedua orang tua.” Saya bertanya lagi: “kemudian apa?” beliau menjawab: “berjihad (berjuang) di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diceritakan dalam hadits tersebut bahwa Abdurrahman bin Mas’ud pernah bertanya kepada Nabi tentang amal perbuatan yang benyak mendatangkan pahala dari Allah swt. maka jawab beliau, perbuatan yang paling banyak mendatangkan pahala adalah sholat tepat pada waktunya, karena itu merupakan bentuk kontinue (istiqomah) dan merupakan muroqobah yang optimal. Kemudian adalah berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidain) sebagai hak makhluk sesudah menunaikan hak Allah. Berarti disini berbakti kepada orang tua hal penting kedua setalah melaksanakan hak manusia kepada Allah swt. kemudian yang ketiga jihad di jalan Allah sebagai salah satu hak tanah air.
Disebut urutan perbuatan yang akan banyak mendatangkan pahala untuk manusia, dan berbakti kepada kedua orang tua menempati urutan yang kedua. Hal itu menjelaskan bahwa kita harus memenuhi hak kita sebagai makhluk untuk mendahulukan perintah Allah. Baru setelah itu perintah dari orang tua, dan kemudian yang lainnya.
Ada beberapa kewajiban anak terhadap orang tua, meski orang tua tidak mengharap kita untuk membalasnya, namun ini bisa menjadi salahsatu bentuk ungkapan terimakasih, setelah kita mendapatkan hak sebagai seorang anak untuk dirawat dididik dan dicukupi kebutuhannya. Maka karena jasanya untuk mendidik dan merawat anak-anaknya hingga dewasa.


1. Taat dan Patuh pada Perintah Orang Tua
Taat dan patuh dalam nasihat dan perintahnya, tentunya perintah itu merupakan perintah yang mengandung kebaikan atau kemanfaatan. Jadi seorang anak harus mengikuti nasihat dan patuh dengan perintah orang tuanya. Namun lain halnya ketika anak tersebut diperintah untuk berbuat ingkar kepada Allah, maka kita harus menolaknya, cara menolaknyapun dengan cara yang halus, agar tidak menyakiti hatinya. Karena telah difirmankan Allah dalam (Al-quran surat Luqman:15)
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ                
سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ                                                
Artinya: “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah mereka di dunia dengan baik”.(QS. Luqman: 15)
2. Berbakti, Bersikap Tawadhu’ dan Kasih Sayang Terhadap Orang Tua
Seorang anak harus berbakti dengan orang tuanya, bersikap tawadhu’ ketika berada dihadapannya, dengan arti anak tersebut harus mendengarkan atau memperhatikan semua perintah dan nasihat yang diberikan orang tuanya dan tidak membangkangnya. Dan harus bersikap kasih sayang terhadap mereka, walaupun sejatinya kasih sayang yang kita berikan tidak sebanding dengan apa yang telah diberikannya kepada anaknya. Perintah tersebut terdapat dalam Al-qur’an surat Al-Isra:23-24.
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا                                                                                                    
Artinya: (23) dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik pada ibu bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali, mengatakan kepadanya perkataan “ah” (perkataan kasar) dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah keduanya perkataan yang baik.
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا                                             
(24). Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah (doakanlah): “wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu aku kecil.”
Rasa kasih sayang terhadap orang tua ini lebih ditekankan untuk anak yang orang tuanya sudah berusia lanjut, karena kebanyakan dari seorang anak itu malas untuk mengurus orang tuanya yang berusia lanjut, maka ini menjadi sebuah keutamaan dan rosul menjelaskan bahwa keberadaan orang tua yang berusia lanjut itu merupakan kesempatan yang paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allaha dan menjadi jembatan untuk menuju kesurga. Karena itu amat rugi orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan itu. Namun walau seperti itu bukan berarti kita boleh menyakiti hati orang tua kita disaat masih muda, hal itu hanya lebih diutamakan.
3. Menerima Keadaan Orang Tua apa adanya dan Menjaga Nama Baik Keduanya dan Keluarga
Seorang anak harus bisa menerima keadaan orang tua dengan apa adanya, apabila orang tua tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai orang tua maka anak boleh manuntut haknya, namun tidak boleh sampai mencaci, membenci bahkan dendam terhadapnya. Karena hal itu sama saja dengan mengingkari rahmat yang diberikan Allah yaitu rahmat wujud. Adanya kita karena adanya orang tua kita.
Menjaga dan memelihara nama baik keluarga, tidak membiarkan keluarganya jelek dimata tetangganya. Seorang anak hendaknya dapat mengangkat nama orang tuanya, mungkin dengan membuktikan keberhasilannya dalam belajar dan sebagainya. Dan harus menjaganya dan keluarga dari api neraka dengan cara menggalakkan Amar ma’ruf nahi mungkar dalam keluarga dan saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran dan tidak membiarkan salah satu keluarganya masuk kedalam neraka.
Dalam Qur’an surat At-Tahrim:6 Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا                                                                                    
Artinya: “wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”.
4. Menghormati dan Menyambung Silaturahmi dengan Kerabat atau Teman yang Telah Dijalin Orang Tuanya
Menjalin silaturahmi dengan baik terhadap teman atau kerabat orang tuanya akan membuat mereka mendoakan pada kebaikan, hal itu harus dilakukan baik ketika orang tua masih hidup atau sudah meninggal. Karena ada hadits mengatakan bahwa, barang siapa yang ingin bersilaturahmi terhadap orang tuanya yang sudah wafat maka bersilaturahmilah pada kerabat dan teman-teman orang tuanya. Dan itu akan menjadikan mereka ingat pada orang tuanya dan akan mendoakannya, maka jadilah tambahan amal untuk orang tuanya.

B. Hal yang Menjadi Alasan Seorang Anak Harus Berbakti Kepada Orang Tua
Seorang anak memang harus benar-benar berbakti kepada orang tuanya, mencintai dan mengasihinya, mendoakan atas kebaikan terhadapnya. Karena pentingnya hal itu maka rosul menjelaskan dalam hadits-haditsnya, tentang peran penting orang tua dalam kehidupan anak dan kedudukannya. Dalam pembahasan kedua ini pemakalah akan memaparkan hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan birrul walidain.
Peran kedua oarang tua memanglah sangatlah berharga bagi kita, namun disisni siapakah yang harus kita dahulukan diantara keduanya, mengingat semua perjuangan yang dilakukan dalam merawat kita.
Maka dalam hadits dijelaskan bahwa:
عَنْ اَبِي هُرَيرَة رضي الله عنه عنه قال جَاءَ رَجُلٌ الى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال يَا رسولَ الله مَنْ اَحَقًّ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قال اُمُّك قال ثم مَنْ؟ قال اُمُّك قال ثم من؟ قال امُّك قال ثم من؟ قال ثم اَبُوْكَ
اخرجه البخاري

Artinya: Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rosululloh saw.lalu bertanya: “wahai Rosululloh, siapakah yang paling berhak aku pergauli dengan baik?” Rosul menjawab: “ibumu!”, lalu siapa? Rosul menjawab: “ibumu!”,lalu siapa? : “ibumu!”. Sekali lagi orang itu bertanya: “kemudian siapa?” Rosul menjawab: “bapakmu!”.(Bukhari dan Muslim)
Dari hadits diatas jelaslah bahwa kedudukan ibu tiga kali lebih utama dari pada bapak, hal itu dikarenakan perjuangan ibu lebih berat dibanding bapak. Kemudian jika dikaitkan dengan hadits yang pertama yaitu tantang mencari ridho dari orang tua, maka yang didahulukan adalah ridho dari seorang ibu. Hal itu dikarenakan ada tiga pekerjaan yang dimana pekerjaan itu tidak bisa dilakukan seorang bapak, yaitu mengandung, mengasuh atau mendidik dan menyusui.
Dalam keadaan mengandung seorang ibu sangatlah payah dan bertambah payah, keadaan itu ia alami selama sembilan bulan. Namun dengan keadaan seperti itu ia tetap menjaganya, malah merasa sangat bahagia karena mempunyai keturunan adalah karunia yang amat besar dari Allah swt. baginya dan ia ingin anaknya lahir dengan selamat. Maka ia akan menjaganya dengan sangat baik dan berhati-hati penuh kesabaran. Dan ketika melahirkan iapun pertaruhkan nyawanya demi bayinya.
Dalam pengasuhan maka ibulah yang paling lama dan sering berinteraksi dengan anaknya, maka penerapan pengajaran yang baik itu timbul dari ibunya. Dalam hal ini seorang bapak juga dapat berperan, namun perannya sangat sedikit sekali karena ia harus malaksanakan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yakni mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Kemudian sang ibu harus menyusui anaknya selama 2 tahun, maka itu membuat ikatan antara anak dan seorang ibu lebih kuat, karena ibulah yang sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya.
Maka pergaulilah ibu dengan baik dan jangan sampai melukai hatinya selalulah bahagiakan hatinya, karena ucapan ibu adalah sebuah doa maka mintalah yang baik-baik kepada ibu. Jangan sampai kita memancing kemarahannya dan mengucapkan perkataan yang tidak baik kepada kita. Dan itupun berlaku untuk seorang bapak perjuangannya sebagai kepala keluarga dan mencari materi untuk melangsungkan kehidupan keluarga itupun mulia.
عن عبد االله بن عمرو قال جاء رجل الى اانبى ص م فاستأذنه فى الجهاد فقال احي والداك؟ قال نعم قال ففيهما فجاهد
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Ada seorang laki-laki yang meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.
“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih.”
Beliaupun bersabda:
“Maka pada keduanya, hendaklah engkau berjihad (berbakti).’” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
            Di dalam kitab Subulus Salaam (III/78), ash-Shan’ani mengatakan, “Lahiriahnya sama, apakah itu jihad fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah, dan baik merasa keberatan pada kedua orang tuanya atau tidak. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya diharamkan berjihad bagi seorang anak jika dilarang oleh kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dengan syarat keduanya harus muslim, karena berbakti kepada keduanya adalah fardhu ‘ain sementara jihad tersebut adalah fardhu kifayah, tetapi dalam jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, maka lebih didahulukan jihad.
Jika ada yang mengatakan, ‘Berbakti kepada kedua orang tua adalah fardhu ‘ain juga sementara jihad pada saat diwajibkan, maka ia menjadi fardhu ‘ain. Dengan demikian, keduanya berkedudukan sama, lalu di mana letak pendahuluan jihad?’
Dapat saya katakan, ‘Karena kemaslahatannya lebih umum, di mana jihad dimaksudkan untuk menjaga agama sekaligus membela kaum muslimin, sehingga kemaslahatannya bersifat umum, maka yang didahulukan atas yang lainnya dan ia lebih didahulukan atas kemaslahatan penjagaan fisik. Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan keagungan berbakti kepada kedua orang tua, dimana ia lebih utamadaripadajihad(yanghukumnyafardhukifayah)”.

C. Hikmah Berbakti Kepada Orang Tua
Dari hadits-hadits yang telah dipaparkan dapat kita ambil hikmah ketika kita dapat bergaul dengan orang tua sebaik mungkin, selalu menjaga perasaannya dan mendengarkan nasihat-nasihatnya, maka hidup yang kita jalani akan terasa lebih mudah.
Ada sebuah hikayat bahwasannya dulu pada saat umat Islam akan berperang, kemudian tiba-tiba ada anak muda yang hendak ikut dengan rombongan Nabi. Sebelum berangkat Nabi bertanya pada pemuda itu, apakah kamu sudah mendapat izin dari ibumu? Kemudian anak itu menjawab, sudah ya Rosul. Maka kemudian Nabipun membiarkannya ikut dalam rombongannya.
Itu merupakan bukti bahwa ridho Orang tua terutama ibu sangat berpengaruh dalam kehidupan kita.
D. Cara Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua.
Kita sebagai Muslim yang baik tentunya memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tua kita baik ibu maupun ayah. Agama Islam mengajarkan dan mewajibkan kita sebagai anak untuk berbakti dan taat kepada ibu-bapak. Taat dan berbakti kepada kedua orang tua adalah sikap dan perbuatan yang terpuji, ada banyak cara untuk berbakti dan bersikap sopan santun kepada orang tua,  diantaranya adalah:
1. Berbakti dengan melaksanakan nasehat dan perintah yang baik dari keduanya.
2. Memelihara dengan penuh keikhlasan dan kesabaran apalagi jika keduannya sudah tua dan pikun.
3. Merendahkan diri, kasih sayang dan mendo’akan kedua orang tua.
4. Anak harus berkorban untuk orang tuanya.
Sesuai dengan sabda Nabi yang artinya:
Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi s.a.w dan bertanya “sesungguhnya aku mempunyai harta sedang orang tuaku membutuhkannya”. Nabi menjawab : “Engkau dan hartamu adalah milik orang tuamu, karena sesungguhnya anak-anakmu adalah sebaik-baiknya usahamu, karena itulah makanlah dari usaha anak-anakmu itu”. (H.R Abu Daud dan Ibnu Majah)
5. Meminta kerelaan orang tua ketika akan berbuat sesuatu
Ada suatu hadits yang menceritakan bahwa ada seorang pemuda yang ingin turut serta dalam perang yang di pimpin oleh Rasulullah, ketika pemuda itu meminta ijin dari Rasul, Rasul menyuruh beliau untuk meminta izin dari kedua orang tua pemuda tersebut, jika sudah di izinkan, barulah pemuda tersebut boleh mengikuti perang bersama Rasul.
6.  Berbuat Baik Kepada Ibu dan Ayah, Walaupun Keduanya lalim
Artinya jangan sampai anak menyinggung perasaan orang tuanya, walaupun seandainya orang tua berbuat lalim kepada anaknya, dengan melakukan yang tidak semestinya, maka jangan sekali-kali si anak berbuat tidak baik, atau membalas, mengimbangi ketidakbaikan orang tua kepada anaknya, Allah tidak meridhainya hingga orang tua itu meridhainya.
7. Berkata Halus Dan Mulia Kepada Ibu Dan Ayah
Segala sikap orang tua terutama ibu memberikan refleksi yang kuat terhadap sikap si anak. Dalam hal berkata pun demikian. Apabila si ibu sering menggunakan kata-kata halus kepada anaknya, si anak pun akan berkata halus. Kalau si ibu atau ayah sering mempergunakan kata-kata yang kasar, si anakpun akan mempergunakan kata-kata kasar, sesuai yang digunakan oleh ibu dan ayahnya. Sebab si anak mempunyai insting meniru yang lebih mudah ditiru adalah orang yang terdekat dengannya, yaitu orang tua, terutama ibunya.
Agar anak berlaku lemah lembut dan sopan kepada orang tuanya, harus dididik dan diberi contoh sehari-hari oleh orang tuanya bagaimana sianak berbuat, bersikap, dan berbicara. Kewajiban anak kepada orang tuanya menurut ajaran islam harus berbicara sopan, lemah-lembut dan mempergunakan kata-kata mulia.

2.      Berbuat Ihsan
Muslim yang baik dan berkepribadian mulia adalah mereka yang  memulai dan mengakhiri hari hari kehidupannya sarat dengan muatan nilai ibadah, nilai ibadah terintegrasi pada semua aktifitas kehidupan. Cerminan sikap hidup itu teraktualisasi pada sikap ihsan dalam beribadah, ihsan (berbuat baik) merupakan kebalikan dari kata al isaa-ah (berbuat buruk), yakni perbuatan seseorang untuk melakukan perbuatan yang ma’ruf dan menahan diri dari dosa.
Dalam konteks memperhambakan diri kepada Tuhan, ihsan dijelaskan oleh Rasulullah SAW tergambar dalam jawaban beliau terhadap pertanyaan malaikai Jibril Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Muslim). Pemaknaan terhadap ihsan mengacu kepada dua hal, pertama;   ihsan dalam hubungan vertikal (beribadah) kepada Allah dan kedua; ihsan dalam membangun integritas akhalakul karimah antar sesama makhluk sebagai bentuk pemeliharaan hubungan horizontal. Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya dalam arti merasa diawasi oleh-Nya. Sedangkan ihsan dalam berinteraksi antar sesama makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. Menunaikan hak dan kewajiban antara sesama merupakan cerminan mereka yang berbuat ihsan dimulai dari situasi yang terendah sampai kepada   derajat yang tertinggi.  Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu yang wajib dan sunnah, yang bersifat  wajib misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam berinterkasi sosial (bermuamalah). Sementara yang bersifat sunat misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban seseorang.  
Dalam konteks membangun hubungan vertikal kepada Allah senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah dalam segala aktifitasnya akan mengantarkan seseorang kepada tingkatan  muraqabah.  Tingkatan muraqabah berada pada   seseorang yang tidak mampu memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin bahwa Allah melihatnya. Tingkatan inilah yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Apabila seseorang mengerjakan shalat, dia merasa Allah memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia memperbagus shalatnya tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:  Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…” (QS. Yunus: 61)
Pada derajat berikutnya seseorang itu akan sampai kepada derajat   musyahadah dimana seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat-Nya. Perlu ditekankan bahwa yang dimaksudkan di sini bukanlah melihat dzat Allah, namun melihat sifat-sifat-Nya, pengertian dengan  memperhatikan sifat-sifat Allah  adalah memperhatikan pengaruh sifat-sifat Allah bagi makhluk. Apabila seorang hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat Allah, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan Allah pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi dalam derajat ihsan.
Dalam konteks membangun hubungan horizontal antar sesama sangat diperlukan sikap kedewasaan, saling memberikan penghargaan, menempatkan kemuliaan seseorang tanpa pamrih, bukankah limadza latuhsinuna illa man ahsanakum, wala tuth’imuna illa man ath’amakum menjadi tolok ukur kesempurnaan muslim. Seseorang baru memulai berbuat baik kepada orang lain  karena ia pernah mendapatkan kebaikan orang lain   terhadap dirinya maka seseorang tersebut pada perinsipnya belum pernah berbuat baik kepada orang lain yang muncul dari kepribadian dirinya sendiri. Berprilaku baik (baca:ihsan) dalam seluruh aktifitas kehidupan sosial-keberagamaan, politik-budaya, adalah tuntutan kehidupan manusia paripurna, yaitu manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Mendasari pemaknaan tersebut sejatinya setiap muslim membumikan sikap  ihsan  dalam kehidupannya baik dalam konteks membangun hubungan vertikal terhadap Allah maupun hubungan horizontal antar sesama. Allah SWT berfirman:  Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An Nahl: 128).   Allah telah menunjukkan keutamaan seorang muhsin yang bertakwa kepada Allah, yang tidak meninggalkan kewajibannya dan menjauhi segala yang haram. Kebersamaan Allah dalam ayat ini adalah kebersamaan yang sepesifik   dalam bentuk ma’unah serta support kepada  petunjuk jalan yang lurus yang diperlukan dalam kehidupan manusia muttaqien.

Implementasi dari sikap ihsan  di dalam kehidupan sehari-hari adalah semakin penting apalagi dalam konteks membangun integritas akhlakul karimah.  Sikap  ihsan ini harus berusaha kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekiranya seseorang  beramal dalam kataatan adalah berorientasi kepada mengharapkan keredhaan Allah. Sebaliknya jika terbesit niat di hati seseorang untuk berbuat keburukan, maka dia tidak mengerjakannya karena sikap ihsan telah membentengi kepribadiannya. Seseorang yang sikap ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha mengharapkan keredhaan Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya. Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak seorang hamba. Oleh karena itu mereka yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun diantara kita, apa pun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat ihsan  menjadi cerminan dalam seluruh amal salehnya.  Semoga kita semua dapat mewujudkan ihsan dalam diri kita, sebelum Allah mengambil ruh ini dari jasad kita.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal Penilaian Akhir Semester Dua Budaya Alam Minangkabau

A. Berilah tanda (x) pada jawaban yang paling benar!   1. Acara menaikkan Rumah bertujuan untuk…. a. Kelihatan mewah b. Mengadakan do’a selamat c. Biar dipuji orang d. Membanggakan 2. Himpunan orang sekaum adalah…. a. Se ibu c.   Sepayung b. Saparuik d.   Sesuku 3. Rumah gadang didirikan berstatus koto atau nigari biasanya memiliki gonjong…. Buah a. Dua c.   Empat b. Tiga d.   Lima 4. Suku Wira adalah piliang dan suku Bayu juga piliang. Wira dan Bayu disebut…. a. Sesuku c.   Sekampung b. Seibu d.   Sekawan 5. Bagi orang Minangkabau, yang di jadikan tempat bermusyawarah adalah…. a. Rumah gadang b. Kantor c. Mushalla d. Kantor pemda 6. Rumah gadang jarang rusak bila terjadi gempa, sebab tiangnya diletakkan di atas…. a. Kayu c.   Batu b. Tembok d. Tanah 7. Adat Minangkabau sesuai dengan ajaran…. a. Khatolik c.   Hindu b. Bu...

Tantangan dan Prospek Pendidikan Sekolah Dasar di Indonesia Saat Ini

Pendidikan Sekolah Dasar (SD) merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan SD di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi. Artikel ini akan menjelaskan tantangan utama yang dihadapi pendidikan SD saat ini, termasuk kurangnya fasilitas, ketimpangan kualitas pendidikan, dan tantangan dalam implementasi kurikulum. Selain itu, artikel ini juga akan membahas prospek dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kualitas pendidikan SD di Indonesia. I. Tantangan dalam Pendidikan Sekolah Dasar     A. Kurangnya Fasilitas Pendukung Kekurangan ruang kelas, fasilitas olahraga, dan laboratorium: Banyak sekolah dasar di Indonesia masih mengalami kekurangan ruang kelas yang memadai. Selain itu, fasilitas olahraga dan laboratorium juga seringkali tidak memadai atau bahkan tidak tersedia di sekolah-sekolah tersebut. Tantangan aksesibilitas pendidikan di daerah terpencil dan peda...

ISU ISU GLOBAL MASA KINI DAN MASA DEPAN

  Isu-isu global masa kini dan masa depan Ada berbagai macam permasalahan yang dihadai oleh manusia. Secara garis besar permasalahan tersebut adalah: a. Bahan makanan b. Penduduk c. Energi d. Polusi udara,air dan tanah e. Biodiversity/keanekaragaman hayati A. Bahan makanan Persoalan pangan bagi manusia sangatlah penting bahkan merupakan asasi,karena untuk melangsungkan kehidupan. Pentingnya permasalahan ini disebabkan karena banyaknya kasus manusia yang kelaparan. Akibatnya jutaan manusia meninggal karena kelaparan. Antara tahun 1847-1850 kira-kira satu setengah juta jiwa meninggal karena kelaparan,demikian juga yang terjadi di Cina,India dan sebagainya. Masalah bahan pangan berkaitan dengan: 1 . Kebutuhan obyektif pangan Kebutuhan obyektif pangan pada tingkat global merupakan fungsi dari kebutuhan bahan pokok,besaran jumlah pernduduk dunia,dan komposisinya. Semakin baik kondisi manusia sejak beberapa dasa warsa terakhir menyebabkan terjadinya pertumb...