Berbakti Kepada
Orang Tua dalam Islam dan berbuat ihsan
1. Berbakti
kepada orang tua
A.
Akhlak kepada kedua orangtua
Islam sangat
mengajarkan manusia (anak) untuk berbakti kepada orang tua, melihat betapa
besar dan mulianya mereka merawat anak-anaknya dengan penuh keikhlasan tanpa
mengharap balasan apapun. Mereka akan berbuat apapun untuk melihat anaknya
menjadi orang sukses, mereka akan berusaha sekuat tenaga meraka untuk memenuhi
segala kebutuhananaknya. Dalam hadits Nabi saw :
فعن ابن مَسْعُودٍ قال سألت
النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ايُّ الْعَمَلِ اَحَبُّ الى الله تعالى؟ قال
الصَّلَاة على وَقْتِهَا، قلت ثم اي؟ قال بِرُّ الْوَالْدَيْنِ، قلت، ثُمَّ اي؟
قال الجِهَادُ فى سَبِيْلِ الله
مسلم و
البخاري اخرجه
Artinya: Dari Abu Abdurrahman
bin Mas’ud ra., ia berkata: “saya bertanya kepada Nabi saw.: “amal apakah yang
paling disukai oleh Allah Ta’ala?” beliau menjawab: “sholat pada waktunya” saya
bertanya lagi: “kemudian apa?” beliau menjawab: “berbuat baik kepada kedua
orang tua.” Saya bertanya lagi: “kemudian apa?” beliau menjawab: “berjihad
(berjuang) di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diceritakan dalam hadits
tersebut bahwa Abdurrahman bin Mas’ud pernah bertanya kepada Nabi tentang amal
perbuatan yang benyak mendatangkan pahala dari Allah swt. maka jawab beliau,
perbuatan yang paling banyak mendatangkan pahala adalah sholat tepat pada
waktunya, karena itu merupakan bentuk kontinue (istiqomah) dan merupakan
muroqobah yang optimal. Kemudian adalah berbuat baik kepada kedua orang tua
(birrul walidain) sebagai hak makhluk sesudah menunaikan hak Allah. Berarti
disini berbakti kepada orang tua hal penting kedua setalah melaksanakan hak
manusia kepada Allah swt. kemudian yang ketiga jihad di jalan Allah sebagai
salah satu hak tanah air.
Disebut urutan perbuatan yang
akan banyak mendatangkan pahala untuk manusia, dan berbakti kepada kedua orang
tua menempati urutan yang kedua. Hal itu menjelaskan bahwa kita harus memenuhi
hak kita sebagai makhluk untuk mendahulukan perintah Allah. Baru setelah itu
perintah dari orang tua, dan kemudian yang lainnya.
Ada beberapa kewajiban anak
terhadap orang tua, meski orang tua tidak mengharap kita untuk membalasnya,
namun ini bisa menjadi salahsatu bentuk ungkapan terimakasih, setelah kita
mendapatkan hak sebagai seorang anak untuk dirawat dididik dan dicukupi
kebutuhannya. Maka karena jasanya untuk mendidik dan merawat anak-anaknya
hingga dewasa.
1. Taat dan Patuh pada
Perintah Orang Tua
Taat dan
patuh dalam nasihat dan perintahnya, tentunya perintah itu merupakan perintah
yang mengandung kebaikan atau kemanfaatan. Jadi seorang anak harus mengikuti
nasihat dan patuh dengan perintah orang tuanya. Namun lain halnya ketika anak
tersebut diperintah untuk berbuat ingkar kepada Allah, maka kita harus
menolaknya, cara menolaknyapun dengan cara yang halus, agar tidak menyakiti
hatinya. Karena telah difirmankan Allah dalam (Al-quran surat Luqman:15)
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى
أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا
فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ
سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ
إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: “dan jika keduanya
memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai
ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah
mereka di dunia dengan baik”.(QS. Luqman: 15)
2. Berbakti, Bersikap Tawadhu’
dan Kasih Sayang Terhadap Orang Tua
Seorang anak
harus berbakti dengan orang tuanya, bersikap tawadhu’ ketika berada
dihadapannya, dengan arti anak tersebut harus mendengarkan atau memperhatikan
semua perintah dan nasihat yang diberikan orang tuanya dan tidak
membangkangnya. Dan harus bersikap kasih sayang terhadap mereka, walaupun
sejatinya kasih sayang yang kita berikan tidak sebanding dengan apa yang telah
diberikannya kepada anaknya. Perintah tersebut terdapat dalam Al-qur’an surat
Al-Isra:23-24.
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا
تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ
عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا
تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
Artinya: (23) dan Tuhanmu
telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat
baik pada ibu bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya
sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali, mengatakan
kepadanya perkataan “ah” (perkataan kasar) dan janganlah engkau membentak
keduanya dan ucapkanlah keduanya perkataan yang baik.
وَاخْفِضْ لَهُمَا
جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي
صَغِيرًا
(24). Dan rendahkanlah dirimu
terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah (doakanlah): “wahai
Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku
waktu aku kecil.”
Rasa kasih sayang terhadap
orang tua ini lebih ditekankan untuk anak yang orang tuanya sudah berusia
lanjut, karena kebanyakan dari seorang anak itu malas untuk mengurus orang
tuanya yang berusia lanjut, maka ini menjadi sebuah keutamaan dan rosul
menjelaskan bahwa keberadaan orang tua yang berusia lanjut itu merupakan
kesempatan yang paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allaha dan menjadi
jembatan untuk menuju kesurga. Karena itu amat rugi orang-orang yang
menyia-nyiakan kesempatan itu. Namun walau seperti itu bukan berarti kita boleh
menyakiti hati orang tua kita disaat masih muda, hal itu hanya lebih
diutamakan.
3. Menerima Keadaan Orang Tua
apa adanya dan Menjaga Nama Baik Keduanya dan Keluarga
Seorang anak
harus bisa menerima keadaan orang tua dengan apa adanya, apabila orang tua
tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai orang tua maka anak boleh manuntut
haknya, namun tidak boleh sampai mencaci, membenci bahkan dendam terhadapnya.
Karena hal itu sama saja dengan mengingkari rahmat yang diberikan Allah yaitu
rahmat wujud. Adanya kita karena adanya orang tua kita.
Menjaga dan memelihara nama
baik keluarga, tidak membiarkan keluarganya jelek dimata tetangganya. Seorang
anak hendaknya dapat mengangkat nama orang tuanya, mungkin dengan membuktikan
keberhasilannya dalam belajar dan sebagainya. Dan harus menjaganya dan keluarga
dari api neraka dengan cara menggalakkan Amar ma’ruf nahi mungkar dalam
keluarga dan saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran dan tidak
membiarkan salah satu keluarganya masuk kedalam neraka.
Dalam Qur’an surat At-Tahrim:6
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya: “wahai orang-orang
yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”.
4. Menghormati dan Menyambung
Silaturahmi dengan Kerabat atau Teman yang Telah Dijalin Orang Tuanya
Menjalin
silaturahmi dengan baik terhadap teman atau kerabat orang tuanya akan membuat
mereka mendoakan pada kebaikan, hal itu harus dilakukan baik ketika orang tua
masih hidup atau sudah meninggal. Karena ada hadits mengatakan bahwa, barang
siapa yang ingin bersilaturahmi terhadap orang tuanya yang sudah wafat maka
bersilaturahmilah pada kerabat dan teman-teman orang tuanya. Dan itu akan
menjadikan mereka ingat pada orang tuanya dan akan mendoakannya, maka jadilah
tambahan amal untuk orang tuanya.
B. Hal yang Menjadi Alasan
Seorang Anak Harus Berbakti Kepada Orang Tua
Seorang anak memang harus
benar-benar berbakti kepada orang tuanya, mencintai dan mengasihinya, mendoakan
atas kebaikan terhadapnya. Karena pentingnya hal itu maka rosul menjelaskan
dalam hadits-haditsnya, tentang peran penting orang tua dalam kehidupan anak
dan kedudukannya. Dalam pembahasan kedua ini pemakalah akan memaparkan
hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan birrul walidain.
Peran kedua oarang tua
memanglah sangatlah berharga bagi kita, namun disisni siapakah yang harus kita
dahulukan diantara keduanya, mengingat semua perjuangan yang dilakukan dalam
merawat kita.
Maka dalam hadits dijelaskan
bahwa:
عَنْ اَبِي هُرَيرَة رضي الله عنه عنه
قال جَاءَ رَجُلٌ الى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال يَا رسولَ الله مَنْ
اَحَقًّ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قال اُمُّك قال ثم مَنْ؟ قال اُمُّك قال ثم من؟ قال
امُّك قال ثم من؟ قال ثم اَبُوْكَ
اخرجه البخاري
Artinya: Dari Abu Hurairah ra,
ia berkata: “suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rosululloh saw.lalu
bertanya: “wahai Rosululloh, siapakah yang paling berhak aku pergauli dengan
baik?” Rosul menjawab: “ibumu!”, lalu siapa? Rosul menjawab: “ibumu!”,lalu
siapa? : “ibumu!”. Sekali lagi orang itu bertanya: “kemudian siapa?” Rosul
menjawab: “bapakmu!”.(Bukhari dan Muslim)
Dari hadits
diatas jelaslah bahwa kedudukan ibu tiga kali lebih utama dari pada bapak, hal
itu dikarenakan perjuangan ibu lebih berat dibanding bapak. Kemudian jika
dikaitkan dengan hadits yang pertama yaitu tantang mencari ridho dari orang
tua, maka yang didahulukan adalah ridho dari seorang ibu. Hal itu dikarenakan
ada tiga pekerjaan yang dimana pekerjaan itu tidak bisa dilakukan seorang
bapak, yaitu mengandung, mengasuh atau mendidik dan menyusui.
Dalam keadaan mengandung
seorang ibu sangatlah payah dan bertambah payah, keadaan itu ia alami selama
sembilan bulan. Namun dengan keadaan seperti itu ia tetap menjaganya, malah
merasa sangat bahagia karena mempunyai keturunan adalah karunia yang amat besar
dari Allah swt. baginya dan ia ingin anaknya lahir dengan selamat. Maka ia akan
menjaganya dengan sangat baik dan berhati-hati penuh kesabaran. Dan ketika
melahirkan iapun pertaruhkan nyawanya demi bayinya.
Dalam pengasuhan maka ibulah
yang paling lama dan sering berinteraksi dengan anaknya, maka penerapan
pengajaran yang baik itu timbul dari ibunya. Dalam hal ini seorang bapak juga
dapat berperan, namun perannya sangat sedikit sekali karena ia harus
malaksanakan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yakni mencari nafkah untuk
anak dan istrinya. Kemudian sang ibu harus menyusui anaknya selama 2 tahun,
maka itu membuat ikatan antara anak dan seorang ibu lebih kuat, karena ibulah
yang sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya.
Maka
pergaulilah ibu dengan baik dan jangan sampai melukai hatinya selalulah
bahagiakan hatinya, karena ucapan ibu adalah sebuah doa maka mintalah yang
baik-baik kepada ibu. Jangan sampai kita memancing kemarahannya dan mengucapkan
perkataan yang tidak baik kepada kita. Dan itupun berlaku untuk seorang bapak perjuangannya
sebagai kepala keluarga dan mencari materi untuk melangsungkan kehidupan
keluarga itupun mulia.
عن عبد االله بن عمرو قال جاء رجل الى
اانبى ص م فاستأذنه فى الجهاد فقال احي والداك؟ قال نعم قال ففيهما فجاهد
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr
Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Ada seorang laki-laki yang meminta izin
kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad, maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.
“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih.”
Beliaupun bersabda:
“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih.”
Beliaupun bersabda:
“Maka pada keduanya, hendaklah
engkau berjihad (berbakti).’” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Di dalam kitab Subulus Salaam (III/78), ash-Shan’ani mengatakan, “Lahiriahnya sama, apakah itu jihad fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah, dan baik merasa keberatan pada kedua orang tuanya atau tidak. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya diharamkan berjihad bagi seorang anak jika dilarang oleh kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dengan syarat keduanya harus muslim, karena berbakti kepada keduanya adalah fardhu ‘ain sementara jihad tersebut adalah fardhu kifayah, tetapi dalam jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, maka lebih didahulukan jihad.
Jika ada yang mengatakan, ‘Berbakti kepada kedua orang tua adalah fardhu ‘ain juga sementara jihad pada saat diwajibkan, maka ia menjadi fardhu ‘ain. Dengan demikian, keduanya berkedudukan sama, lalu di mana letak pendahuluan jihad?’
Dapat saya katakan, ‘Karena kemaslahatannya lebih umum, di mana jihad dimaksudkan untuk menjaga agama sekaligus membela kaum muslimin, sehingga kemaslahatannya bersifat umum, maka yang didahulukan atas yang lainnya dan ia lebih didahulukan atas kemaslahatan penjagaan fisik. Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan keagungan berbakti kepada kedua orang tua, dimana ia lebih utamadaripadajihad(yanghukumnyafardhukifayah)”.
Di dalam kitab Subulus Salaam (III/78), ash-Shan’ani mengatakan, “Lahiriahnya sama, apakah itu jihad fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah, dan baik merasa keberatan pada kedua orang tuanya atau tidak. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya diharamkan berjihad bagi seorang anak jika dilarang oleh kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dengan syarat keduanya harus muslim, karena berbakti kepada keduanya adalah fardhu ‘ain sementara jihad tersebut adalah fardhu kifayah, tetapi dalam jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, maka lebih didahulukan jihad.
Jika ada yang mengatakan, ‘Berbakti kepada kedua orang tua adalah fardhu ‘ain juga sementara jihad pada saat diwajibkan, maka ia menjadi fardhu ‘ain. Dengan demikian, keduanya berkedudukan sama, lalu di mana letak pendahuluan jihad?’
Dapat saya katakan, ‘Karena kemaslahatannya lebih umum, di mana jihad dimaksudkan untuk menjaga agama sekaligus membela kaum muslimin, sehingga kemaslahatannya bersifat umum, maka yang didahulukan atas yang lainnya dan ia lebih didahulukan atas kemaslahatan penjagaan fisik. Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan keagungan berbakti kepada kedua orang tua, dimana ia lebih utamadaripadajihad(yanghukumnyafardhukifayah)”.
C. Hikmah Berbakti Kepada
Orang Tua
Dari
hadits-hadits yang telah dipaparkan dapat kita ambil hikmah ketika kita dapat
bergaul dengan orang tua sebaik mungkin, selalu menjaga perasaannya dan
mendengarkan nasihat-nasihatnya, maka hidup yang kita jalani akan terasa lebih
mudah.
Ada sebuah hikayat bahwasannya
dulu pada saat umat Islam akan berperang, kemudian tiba-tiba ada anak muda yang
hendak ikut dengan rombongan Nabi. Sebelum berangkat Nabi bertanya pada pemuda
itu, apakah kamu sudah mendapat izin dari ibumu? Kemudian anak itu menjawab,
sudah ya Rosul. Maka kemudian Nabipun membiarkannya ikut dalam rombongannya.
Itu merupakan bukti bahwa
ridho Orang tua terutama ibu sangat berpengaruh dalam kehidupan kita.
D. Cara Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua.
Kita sebagai Muslim yang baik
tentunya memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tua kita baik ibu
maupun ayah. Agama Islam mengajarkan dan mewajibkan kita sebagai anak untuk
berbakti dan taat kepada ibu-bapak. Taat dan berbakti kepada kedua orang tua
adalah sikap dan perbuatan yang terpuji, ada banyak cara untuk berbakti dan
bersikap sopan santun kepada orang tua, diantaranya adalah:
1. Berbakti dengan melaksanakan nasehat dan
perintah yang baik dari keduanya.
2. Memelihara dengan penuh keikhlasan dan
kesabaran apalagi jika keduannya sudah tua dan pikun.
3. Merendahkan diri, kasih sayang dan mendo’akan
kedua orang tua.
4. Anak harus berkorban untuk orang tuanya.
Sesuai dengan sabda Nabi yang artinya:
Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi s.a.w
dan bertanya “sesungguhnya aku mempunyai harta sedang orang tuaku
membutuhkannya”. Nabi menjawab : “Engkau dan hartamu adalah milik orang tuamu,
karena sesungguhnya anak-anakmu adalah sebaik-baiknya usahamu, karena itulah
makanlah dari usaha anak-anakmu itu”. (H.R Abu Daud dan Ibnu Majah)
5. Meminta kerelaan orang tua ketika akan
berbuat sesuatu
Ada suatu hadits yang menceritakan bahwa ada
seorang pemuda yang ingin turut serta dalam perang yang di pimpin oleh
Rasulullah, ketika pemuda itu meminta ijin dari Rasul, Rasul menyuruh beliau
untuk meminta izin dari kedua orang tua pemuda tersebut, jika sudah di izinkan,
barulah pemuda tersebut boleh mengikuti perang bersama Rasul.
6. Berbuat Baik Kepada Ibu dan Ayah,
Walaupun Keduanya lalim
Artinya jangan sampai anak menyinggung perasaan
orang tuanya, walaupun seandainya orang tua berbuat lalim kepada anaknya,
dengan melakukan yang tidak semestinya, maka jangan sekali-kali si anak berbuat
tidak baik, atau membalas, mengimbangi ketidakbaikan orang tua kepada anaknya,
Allah tidak meridhainya hingga orang tua itu meridhainya.
7. Berkata Halus Dan Mulia Kepada Ibu Dan
Ayah
Segala sikap orang tua terutama ibu memberikan
refleksi yang kuat terhadap sikap si anak. Dalam hal berkata pun demikian.
Apabila si ibu sering menggunakan kata-kata halus kepada anaknya, si anak pun
akan berkata halus. Kalau si ibu atau ayah sering mempergunakan kata-kata yang
kasar, si anakpun akan mempergunakan kata-kata kasar, sesuai yang digunakan
oleh ibu dan ayahnya. Sebab si anak mempunyai insting meniru yang lebih mudah
ditiru adalah orang yang terdekat dengannya, yaitu orang tua, terutama ibunya.
Agar anak berlaku lemah lembut dan sopan kepada
orang tuanya, harus dididik dan diberi contoh sehari-hari oleh orang tuanya
bagaimana sianak berbuat, bersikap, dan berbicara. Kewajiban anak kepada orang
tuanya menurut ajaran islam harus berbicara sopan, lemah-lembut dan
mempergunakan kata-kata mulia.
2. Berbuat
Ihsan
Muslim yang baik dan berkepribadian
mulia adalah mereka yang memulai dan mengakhiri hari hari kehidupannya
sarat dengan muatan nilai ibadah, nilai ibadah terintegrasi pada semua
aktifitas kehidupan. Cerminan sikap hidup itu teraktualisasi pada sikap ihsan
dalam beribadah, ihsan (berbuat baik) merupakan kebalikan dari kata al isaa-ah (berbuat
buruk), yakni perbuatan seseorang untuk melakukan perbuatan yang ma’ruf dan
menahan diri dari dosa.
Dalam
konteks memperhambakan diri kepada Tuhan, ihsan dijelaskan oleh
Rasulullah SAW tergambar dalam jawaban beliau terhadap pertanyaan malaikai
Jibril “Wahai Rasulullah, apakah
ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu
melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
(H.R. Muslim). Pemaknaan terhadap ihsan mengacu kepada dua
hal, pertama; ihsan dalam hubungan vertikal (beribadah) kepada Allah dan kedua; ihsan dalam membangun integritas akhalakul karimah antar sesama makhluk sebagai bentuk pemeliharaan hubungan horizontal. Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah
seolah-olah melihat-Nya dalam arti merasa
diawasi oleh-Nya. Sedangkan ihsan dalam berinteraksi antar sesama makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. Menunaikan
hak dan kewajiban antara sesama merupakan cerminan mereka yang berbuat ihsan
dimulai dari situasi yang terendah sampai kepada derajat yang
tertinggi. Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu yang wajib dan sunnah, yang
bersifat wajib misalnya berbakti
kepada orang tua dan bersikap adil dalam berinterkasi sosial (bermuamalah). Sementara
yang bersifat sunat misalnya
memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban
seseorang.
Dalam konteks membangun hubungan
vertikal kepada Allah senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah
dalam segala aktifitasnya akan mengantarkan seseorang kepada tingkatan muraqabah. Tingkatan muraqabah berada pada
seseorang yang tidak mampu memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin bahwa Allah
melihatnya. Tingkatan inilah yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Apabila
seseorang mengerjakan shalat, dia merasa Allah memperhatikan apa yang dia
lakukan, lalu dia memperbagus shalatnya tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah
SWT: “Kamu tidak berada dalam
suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak
mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu
melakukannya…” (QS. Yunus: 61)
Pada derajat berikutnya seseorang
itu akan sampai kepada derajat musyahadah dimana seseorang
beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat-Nya. Perlu ditekankan bahwa
yang dimaksudkan di sini bukanlah melihat dzat Allah, namun melihat
sifat-sifat-Nya, pengertian dengan memperhatikan sifat-sifat Allah adalah memperhatikan pengaruh sifat-sifat Allah bagi makhluk. Apabila seorang
hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat Allah,
dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan Allah pada nama-nama dan
sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi dalam derajat ihsan.
Dalam konteks membangun hubungan horizontal
antar sesama sangat diperlukan sikap kedewasaan, saling memberikan penghargaan,
menempatkan kemuliaan seseorang tanpa pamrih, bukankah limadza latuhsinuna
illa man ahsanakum, wala tuth’imuna illa man ath’amakum menjadi tolok ukur
kesempurnaan muslim. Seseorang baru memulai berbuat baik kepada orang
lain karena ia pernah mendapatkan kebaikan orang lain
terhadap dirinya maka seseorang tersebut pada perinsipnya belum pernah berbuat
baik kepada orang lain yang muncul dari kepribadian dirinya sendiri. Berprilaku
baik (baca:ihsan) dalam seluruh aktifitas kehidupan sosial-keberagamaan,
politik-budaya, adalah tuntutan kehidupan manusia paripurna, yaitu manusia yang
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Mendasari pemaknaan tersebut
sejatinya setiap muslim membumikan sikap ihsan dalam
kehidupannya baik dalam konteks membangun hubungan vertikal terhadap
Allah maupun hubungan horizontal antar sesama. Allah SWT
berfirman: “Sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An
Nahl: 128). Allah telah menunjukkan keutamaan seorang muhsin yang bertakwa kepada Allah,
yang tidak meninggalkan kewajibannya dan menjauhi segala yang haram.
Kebersamaan Allah dalam ayat ini adalah kebersamaan yang sepesifik
dalam bentuk ma’unah serta
support kepada petunjuk jalan yang
lurus yang
diperlukan dalam kehidupan manusia muttaqien.
Implementasi dari sikap ihsan di
dalam kehidupan sehari-hari adalah semakin penting apalagi dalam konteks
membangun integritas akhlakul karimah. Sikap ihsan ini harus berusaha kita terapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Sekiranya seseorang beramal dalam kataatan adalah berorientasi kepada mengharapkan keredhaan Allah. Sebaliknya jika terbesit niat di hati seseorang untuk berbuat keburukan, maka dia tidak mengerjakannya karena sikap ihsan telah
membentengi kepribadiannya. Seseorang
yang sikap ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha mengharapkan
keredhaan Allah yang selalu melihatnya.
Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat
perbuatannya. Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan
akhlak seorang hamba. Oleh karena itu mereka yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi
diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun diantara kita, apa pun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari
yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat ihsan menjadi
cerminan dalam seluruh amal salehnya. Semoga kita semua dapat mewujudkan ihsan dalam diri kita, sebelum
Allah mengambil ruh ini dari jasad kita.
Komentar
Posting Komentar