Langsung ke konten utama

rasa malu, sopan santun, dan saling menghargai

RASA MALU SOPAN SANTUN DAN SALING MENGHARGAI
I.                   RASA MALU
A.    Pengertian rasa malu
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”

Perintah tersebut mengandung arti peringatan dan ancaman Maksudnya, jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah apa saja sesukamu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu, baik di dunia maupun di akhirat atau kedua-duanya.

Perintah tersebut mengandung arti penjelasan. Maksudnya, barangsiapa tidak memiliki rasa malu, maka ia berbuat apa saja yang ia inginkan, karena sesuatu yang menghalangi seseorang untuk berbuat buruk adalah rasa malu. Jadi, orang yang tidak malu akan larut dalam perbuatan keji dan mungkar, serta perbuatan-perbuatan yang dijauhi orang-orang yang mempunyai rasa malu.
Jadi bisa kita simpulkan bahwa arti malu itu adalah satu perasaan negatif,tidak enak hati dan rendah diri yang timbul dalam diri seseorang akibat daripada kesadaran diri mengenai perlakuan tidak senonoh atau tidak sesuai dengan hati nurani yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

Setiap orang yang normal mempunyai perasaan malu. Tetapi setiap masyarakat mempunyai pandangan yang berbeda mengenai malu. Sehubungan itu, pendapat mengenai apa yang dimaksudkan malu, apa yang mendatangkan malu serta tindakan yang harus untuk mengatasi perasaan malu berbeda-beda dari satu masyarakat ke satu masyarakat yang lain. Ini adalah karena dalam konsep malu dan segan ini sebenarnya terkandung satu sistem nilai dan kepercayaan sebuah masyarakat itu sendiri.

Malu dalam masyarakat
Melayu mempunyai 3 lapis pengertian, yaitu:
         Malu Sebagai Perasaan
         Malu Sebagai Tanda Harga Diri
         Malu Sebagai Fungsi Kawalan Sosial

  Malu dalam perasaan
 Malu merupakan perasaan rendah diri ataupun berasa segan  terhadap kekurangan yang ada pada diri sendiri apabila dibandingkan dengan orang lain. Kekurangan ini boleh diartikan sebagai kebodohan, kejahilan, tidak setimpal, tidak seperti, maupun tidak setaraf. Individu yang mengalami perasaan begini selalunya menganggap dirinya lebih kecil dan hina daripada orang lain yang dianggapnya mempunyai serba kelebihan pula.

  Malu sebagai tanda harga diri
Dari segi kehidupan bermasyarakat, perasaan malu itu berkaitan dengan maruah, harga diri dan air mukanya seseorang. Orang yang mendapat malu beranggap bahwa maruah, harga diri dan air mukanya telah tercemar. Dalam keadaan ini, kedudukan sosialnya telah terjejas dan menjadi rendah. Ketercemaran ini berawal daripada perlakuannya sendiri dan juga oleh tekanan sosial.
        Malu dianggap sebagai tanda harga diri karena dikatakan seseorang itu dapat merasai maruah dan harga dirinya apabila seseorang mempunyai perasaan malu. Sehubungan itu, malu merupakan sesuatu yang baik  bagi orang yang bermaruah kerana perasaan ini sebenarnya dapat mendorong seseorang untuk menjaga maruah dan harga diri.

      Bagi mereka yang tidak mempunyai perasaan malu, mereka lazimnya dianggap orang yang tidak tahu harga diri. Pemerian untuk mereka ini ialah “Tidak tahu malu” dan “muka tebal”. Orang yang tidak tahu malu biasanya merupakan celaan orang ramai dalam masyarakat Melayu.

        Perasaan malu sebagaimana yang dikaitkan dengan maruah, dan harga diri amat penting dipupuk kepada anggota-anggota masyarakat. Dengan memberi kesadaran mengenai perasaan malu yang ada pada diri seseorang itu boleh menjadi penghalang atau benteng yang penting bagi anggota masyarakat agar tidak melakukan sesuatu yang dianggap menyeleweng. Daripada itu malu boleh dikaitkan dengan fungsi kawalan social.



  Malu Sebagai Fungsi Kawalan Sosial.
Malu merupakan satu perasaan negatif yang timbul daripada kesadaran diri seseorang mengenai perlakuan yang tidak senonoh. Daripada itu, seseorang akan menjauhkan diri daripada perlakuan yang buruk daripada terkena. Dari segi ini, malu sememangnya boleh mengawal tingkah laku seseorang dan dengan itu memainkan fungsi kawalan sosial.

       Masyarakat Melayu yang hidup secara berkeluarga juga menguatkan lagi fungsi malu sebagai kawalan sosial. Dalam masyarakat Melayu seseorang itu bukan saja akan menanggung malu daripada perbuatannya sendiri malah akan menanggung malu daripada perbuatan ahli keluarganya. Ini adalah karena keluarga Melayu yang mempunyai perasaan erat terhadap keluarganya sendiri dan juga karena masyarakat Melayu menganggap bahwa seseorang itu terikat kepada keluarganya. Misalnya, seorang anak akan menyebabkan ibu bapa mereka malu sekiranya ia telah melakukan sesuatu yang jahat seperti mencuri. Dalam peribahasa Melayu, tindakan anak ini diperikan sebagai “menconteng arang di muka ibu bapa”.

       Bagi mengelakkan diri mereka menanggung malu seseorang itu akan cuba mengawal ahli keluarga mereka supaya tidak melakukan perbuatan yang buruk. Di sini, sekali lagi kita boleh lihat bahwa malu telah memainkan satu fungsi kawalan sosial

B.     Malu sebagian dari iman
Dalam ajaran agama disebutkan “malu adalah sebagian dari iman “.ini berarti bahwa malu merupakan salah satu nilai budi pekerti yang harus di miliki oleh manusia.Dan juga Rasulullah SAW bersabda, “Memiliki rasa malu itu merupakan manifistasi dari iman” (HR. Bukhari).

Pengertian malu menurut bahasa ialah perubahan dan peralihan sikap manusia karena takut atau khawatir terhadap sesuatu perbuatan yang menyebabkan dirinya dicela orang lain. Menurut syara’ yang dsebut dengan malu adalah peringai yang membangkitkan seseorang untuk menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan mencegah dirinya dari kelengahan terhadap hak yang menjadi milik orang lain. Malu ini termasuk ke dalam golongan kesempurnaan ahlak dan kegemaran kepada sebutan baik. Orang yang tidak mempunyai rasa malu pasti rendah ahlaknya dan tak mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Nabi Muhammad Saw adalah seorang yang tinggi perangainya, dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Rasulullah Saw adalah seorang yang sangat pemalu, lebih pemalu dari seorang gadis yang dipingit. “Adalah Rasulullah Saw, lebih pemalu dari gadis dalam pingitan. Dan bila terjadi sesuatu yang tidak disukainya, kami dapat mengenal dari wajahnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam kajian aqidah akhlak Sifat malu terbagi menjadi tiga.
1.      Malu kepada diri sendiri.
 Orang yang mempunyai malu terhadap dirinya sendiri, saat melihat dirinya sangat sedikit sekali amal ibadah dan ketaatannya kepada Allah SWT serta kebaikannya kepada masyarakat di lingkungannya, maka rasa malunya akan mendorongnya untuk meningkatkan amal ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Orang yang mempunyai rasa malu terhadap dirinya sendiri, saat melihat orang lain lebih berprestasi darinya, dia akan malu, dan dia akan mendorong dirinya untuk menjadi orang yang berpresetasi.

2.      Malu kepada manusia.
Orang yang merasa malu terhadap manusia akan malu berbuat kejahatan dan maksiat. Dia tidak akan menganiaya dan mengambil hak orang lain. Walaupun malu yang seperti ini bukan didasari karena Allah SWT melainkan karena dorongan rasa malu terhadap orang lain, tapi insyaAllah orang tersebut mendapat ganjaran dari Allah SWT dari sisi yang lain. Tapi perlu dicatat, orang yang merasa malu karena dorongan adanya orang lain yang memperhatikan, sementara ketika sendiri dia tidak malu, maka sama artinya orang itu merendahkan dan tidak menghargai dirinya.
3.      Malu kepada Allah SWT.
Malu seperti ini akan menimbulkan kesan yang baik. Orang yang memiliki rasa malu terhadap Allah SWT akan tampak dalam sikap dan tingkah lakunya, karena ia yakin bahwa Allah SWT senantiasa melihatnya
        Bila kita kembali kepada hadits Rasulullah yang mengatakan rasa malu adalah manifestasi dari iman, maka hanya orang-orang yang imannya menancap kuat dan tumbuh yang memiliki tingkat sensitivitas rasa malu yang sangat tinggi.

Perkembangan jaman yang demikian itu merupakan fakta yang tidak bias di bantah.Namun kita manusia yang memiliki hati nurani dan etika orang timur hendaknya kita bangkit dan berjuang membangun kembali rasa malu diri dan masyarakat kita dari berbuat hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani dan rasa etika.

C.    Malu berbuat salah
Malu adalah sifat alami manusia,tak terbayangkan jika manusia sudah tidak mempunyai rasa malu dan berbuat semauanya, mengangap sesuatu yang tabu/tak pantas di masyarakat menjadi pantas!!namun malu yang di maksud di sini adalah malu berbuat salah yang tidak sesuai dengan suara hati nurani dan norma masyarakat serta norma agama.

Rasa malu yang dianjurkan pada kita masyarakat yang bermoral dan beretika beberapa contohnya yaitu malu jika tidak menghormati orang lain,malu jika membuang sampah sembarangan dan malu jika kita menipu.

Contoh kecil saja rasa malu yang dianjurkan dimiliki oleh kita sebagai mahasiswa yaitu malu jika kita menyontek waktu ada ulangan.Dan juga malu jika berpenampilah lusuh dan tidak rapi.

Tetapi persoalannya,pada masyarakat sekarang rasa malu itu sudah jarang bahkan contoh kecil diatas saja malah sepertinya sudah menjadi kebiasaan oleh kita dan masyarakat. Allah Azza wa Jalla saja Maha Pemalu dan menyukai sifat malu serta mencintai hamba-hamba-Nya yang pemalu,jadi oleh sebab itu kita mulai dari sekarang untuk menanamkan rasa malu dalam kehidupan kita supaya sifat  malu kita dapat mendorong kita untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk.dan kita tidak malu untuk melakukan perbuatan yang terpuji.


D.     Menumbuhkan rasa malu
Menumbuhkan rasa malu dalam kehidupan itu ada banyak cara diantaranya yaitu dengan mulai dari yang kecil dari diri kita sendiri yaitu dengan membiasakan berkata jujur dan berperilaku yang benar,pada saat kita bertingkah laku sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan maka jika kita memang dari awalnya sudah biasa melakukan kebaikan maka sikap dan perilaku kita akan baik tetapi jika  kita terbiasa berbuat salah maka perilaku kita juga akan selalu salah.
Karena dalam kehidupan manusia yang selalu berbuat salah jika mereka berbuat benar malah mereka merasa malu karena mereka sudah terbiasa berbuat salah dan jika manusia itu terbiasa berbuat benar maka jika mereka salah mereka juga akan malu berbuat salah karena mereka terbiasa berbuat benar maka dari itu mulai dari sekarang kita harus membiasakan berkata dan berperilaku yang benar karena itu adalah awal supaya kita sebagai mahkluk yang berbudaya dapat menumbuhkan lagi rasa malu dalam diri kita.
Dan cara lainnya menumbuhkan rasa malu yaitu dengan mempertegas hukuman bagi pelanggar kejahatan karena tanpa adanya tindakan yang tegas bagi mereka yang melanggar maka rasa malu pada masyarakat akan semakin kecil bahkan semakin tidak ada,sebaliknya jika hukuman bagi palanggar hokum di pertegas maka maka rasa malupun akan tumbuh.dan cara lainnya yaitu dengan mempertebal penanaman moralitas agama karena moralitas agama adalah jalur cukup kuat dalam menanamkan rasa malu seseorang

II.                SOPAN SANTUN
A.    Pengertian sopan santun
Sopan santun merupakan istilah bahasa jawa yang dapat diartikan sebagai perilaku seseorang yang menjunjung tinggi nilai-nilai menghormati, menghargai, tidak sombong dan berakhlak mulia. Pengejawantahan atau perwujudan dari sikap sopan santun ini adalah perilaku yang menghormati orang lain melalui komunikasi menggunakan bahasa yang tidak meremehkan atau merendahkan orang lain. Dalam budaya jawa sikap sopan salah satu nya ditandai dengan perilaku menghormati kepada orang yang lebih tua, menggunakan bahasa yang sopan, tidak memiliki sifat yang sombong. Pengertian dari sopan-santun dalam Wikipedia dijelaskan bahwa sopan santun adalah peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan sekelompok itu. Norma kesopanan bersifat relatif, artinya apa yang dianggap sebagai norma kesopanan berbeda-beda di berbagai tempat, lingkungan, atau waktu. Contoh-contoh norma kesopanan ialah:

1. Menghormati orang yang lebih tua.
2. Menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan.
3. Tidak berkata-kata kotor, kasar, dan sombong.
4. Tidak meludah di sembarang tempat.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Norma_sopan_santun)

Sikap sopan santun ini tidak sekedar hanya dipelajari di sekolah, namun sekolah perlu merancang mekanisme penerapan budaya sopan santun dalam kehidupan di sekolah.Disamping itu sekolah berkerjasama dengan keluarga untuk berperan membiasakan sikap sopan santun bagi anak mereka ketika di rumah dan di lingkungan sekitar. Peran orang tua di rumah dalam membiasakan sikap sopan santun bagi anaknya sangat penting mengingat sebagaian besar waktu anak lebih banyak di rumah. Di sekolah mungkin lebih pada penguatan mengenai pentingnya dan makna dari berperilaku sopan santun. Dengan demikian kerja sama yang baik antara sekolah dan orang tua anak dalam mendidik anak tidak lagi hanya sebatas pada pembagian tugas atau orang tua menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah namun perlu ada kerja sama dalam pelaksanaan proses pendidikan itu sendiri.

B.     Strategi Pembudayaan Sopan santun
Pembudayaan merupakan suatu proses pembiasaan. Pembudayaan sopan santun dapat dimaksudkan sebagai upaya pembisaan sikap sopan santun agar menjadi bagian dari pola hidup seseorang yang dapat dicerminkan melalui sikap dan perilaku keseharian. Sopan santun sebagai perilaku dapat dicapai oleh anak melalui berbagai cara. Salah satu yang di bahas dalam makalah ini adalah melalui proses pembudayaan. Proses ini dapat dilakuakn di rumah dan disekolah. Pembudayaan sopan santun di rumah dapat dilakukan melalui peran orang tua dalam mendidik anaknya. Orang tua dapat melakukan hala-hal sebagai berikut:

1.      Orang tua memberikan contoh-contoh penerapan perilaku sopan santun di depan anak.
Contoh merupakan alat pendidikan yang sekaligus dapat memberikan pengetahuan pada anak tentang makna dan implementasi dari sikap sopan santun itu sendiri. Menurut pendapat Dyah Kusuma (2009) seperti yang dimuat dalam http://indteacher.wordpress.com/2009/05/06/

“pembentukan perilaku sopan santun sangat dipengaruhi lingkungan. Anak pasti menyontoh perilaku orang tua sehari-hari. Tak salahlah kalau ada yang menyebutkan bahwa ayah/ibu merupakan model yang tepat bagi anak. Di sisi lain, anak dianggap sebagai sosok peniru yang ulung. Lantaran itu, orang tua sebaiknya selalu menunjukkan sikap sopan santun. Dengan begitu, anak pun secara otomatis akan mengadopsi tata- krama tersebut.”

2.      Menanamkan sikap sopan santun melalui pembiasaan. Anak dibiasakan
bersikap sopan dalam kehidupan sehari hari baik dalam bergaul dalam satu keluarga maupun dengan lingkungan. Seperti yang diungkapkan oleh Dyah Kusuma (2009) dalam http://indteacher.wordpress.com/2009/05/06/ yaitu:

“Kelak, anak yang dibiasakan dari kecil untuk bersikap sopan santun akan lebih mudah bersosialisasi. Dia akan mudah memahami aturan-aturan yang ada di masyarakat dan mau mematuhi aturan umum tersebut. Anak pun relatif mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, supel, selalu menghargai orang lain, penuh percaya diri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik. Pen-dek kata, dia tumbuh menjadi sosok yang beradab.”

3.      Menanamkan sikap sopan santun sejak anak masih kecil,
Anak yang sejak kecil dibiasakan bersikap sopan akan berkembang menjadi anak yang berperilaku sopan santun dalam bergaul dengan siapa saja dan selalu dapat menempatkan dirinya dalam suasana apapun. Sehingga sikap ini dapat diajadikan bekal awal dalam membina Pembudayaan sikap sopan santun di sekolah dapat dilakukan melalui program yang dibuat oleh sekolah untuk mendesain skenario pembiasaan sikap sopan santun. Sekolah dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Peran sekolah dalam membiasakan sikap sopan santun dapat dilakukan dengan memberikan contoh sikap sopan dan santun yang ditunjukkan oleh guru. Siswa sebagai pembelajar dapat menggunakan guru sebagai model. Dengan contoh atau model dari guru ini siswa dengan mudah dapat meniru sehingga guru dapat dengan mudah menananmkan sikap sopan santun.
2.      Guru dapat sekalu mengitegrasikan perilakuk sopan santun ini dlam setiap mata pelajaran, sehingga tanggungjawab perkembanagn anak didik tidak hanya menjadi beban guru agama, pendidikan moral pancasila, dan guru BP.
3.      Guru agama, guru pendidikan moral pancasila dan guru BP dapat melakukan pembiasaan yang dikaitkan dalam penillain secara afektif. Penilaian pencapain kompetensi dalam 3 matapelajaran ini hendaknya difokuskan pada pencapain kompetensi afektif. Kompetensi kognitif hanya sebagai pendukung mengusaan secara afektif.

“Dari sudut substansi, guru pembimbing mempunyai dasar keilmuan yang relevan sebagai jembatan menuju prilaku yang berbudi pekerti luhur. Mungkin yang perlu diperkaya dan dikembangkan adalah pemahaman tentang berbagai nilai dan norma serta aturan yang berlaku dalam masyarakat. Demikian pula halnya dengan metodologi, semua metode dan pendekatan yang bisa digunakan dalam bimbingan dan konseling berpeluang besar untuk membentuk dan memantapkan budi pekerti peserta didik.” (http://www.analisadaily.com)


III.             SALING MENGHARGAI
Salah satu kecenderungan bahkan kebiasaan orang beriman adalah selalu ingin berbuat baik kepada orang lain, baik memiliki hubungan kekerabatan atau tidak, yang dikenal maupun tidak dikenal. Orang beriman selalu ingin berbuat baik, karena itu merupakan salah satu cara dalam bersyukur kepada Allah Swt atas kebaikan-kebaikan yang diberikan kepadanya (QS Al-Qasas/28 : 77).
Kata menghargai menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti bermacam-macam, di antaranya memberi, menentukan, menilai, membubuhi harga, menaksir harga, memandang penting (bermanfaat, berguna), menghormati. Karya orang lain adalah hasil perbuatan manusia berupa ‘suatu karya’ yang baik (positif) yaitu hasil dari ide, gagasan manusia seperti seni, karya budaya, cipta lagu, mesin, atau sesuatu produk yang bermanfaat atau berguna untuk orang lain.
Menghargai hasil karya orang lain merupakan salah satu upaya membina keserasian dan kerukunan hidup antarmanusia agar terwujud suatu kehidupan masyaraakat yang saling menghormati dan menghargai sesuai dengan harkat dan derajat seseorang sebagai manusia. Menumbuhkan sikap menghargai hasil karya orang lain merupakan sikap yang terpuji karena hasil karya tersebut merupakan pencerminan pribadi penciptanya sebagai manusia yang ingin dihargai.
Kecenderungan manusia secara alamiah adalah keinginan untuk mendapat tanggapan atau penghargaan atas apa yang dilakukannya. Kebutuhan untuk menuangkan ekspresi diri secara positif telah mendorong setiap orang untuk terus menghasilkan karya terbaik demi kebaikan dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, upaya dan hasil karya kreatif yang berguna bagi kemaslahatan orang banyak sudah selayaknya memperoleh penghargaan yang positif pula.
Menghormati dan menghargai hasil karya orang lain harus dilakukan tanpa memandang derajat, status, warna kulit, atau pekerjaan orang tersebut karena hasil karay merupakan pencerminan dari pribadi seseorang. Berkarya artinya melakukan atau mengerjakan sesuatu sampai menghasilkan sesuatu yang menimbulkan kegunaan atau manfaat dan berarti bagi semua orang. Karya tersebut dapat berupa benda, jasa, atau hal yang lainnya.
Islam sangat menganjurkan umatnya agar saling menghargai satu sama lain. Sikap menghargai terhadap orang lain tentu didasari oleh jiwa yang santun atau al hilmu yang dapat menumbuhkan sikap menghargai orang di luar dirinya. Kemampuan tersebut harus dilatih lebih dahulu untuk mendidik jiwa manusia sehingga mampu bersikap penyantun. Seperti contoh, ketika bersama-sama menghadapi persoalan tertentu, seseorang harus berusaha saling memberi dan menerima saran, pendapat, atau nasihat dari orang lain yang pada awalnya pasti akan terasa sulit. Sikap dan perilaku ini akan terwujud bila pribadi seseorang telah mampu menekan ego pribadinya melalui pembiasaan dan pengasahan rasa empati melalui pendidikan akhlak. Selanjutnya, ia akan selalu terdorong untuk berbuat yang baik kepada orang lain.

Artinya : Dari Abu Syaibah bahwa Nabi saw. bersabda “Setiap perbuatan yang baik adalah sedekah”(HR Muslim)
Kita tidak dapat mengingkari bahwa keberhasilan seseorang tidak dicapai dengan mudah dan santai, tetapi dengan perjuangan yang gigih, ulet, kerajinan, dan ketekunan serta dengan resiko yang menyertainya. Oleh karena itu, kita patut memberikan penghargaan atas jerih payah tersebut. Isyarat mengenai keharusan seseorang bersungguh-sungguh dalam berkarya dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

a.       Sikap Menghormati dan Menghargai Kehidupan Keluarga
Dalam suatu keluarga biasanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anaknya. Bahkan dalam keluarga di masyarakat kita, tidak jaranf ada juga anggota keluarga lain yang tinggal bersama. Misalnya saja anggota keluarga yang lain itu seperti kakek/nenek, adik/kakak dari pihak ibu/bapak, saudara sepupu, dan semacamnya. Di antara anggota keluarga itu harus ada sikap/perilaku saling menghormati serta saling menghargai. Perwujudan sikap/perilaku saling menghormati dan menghargai itu antara lain melalui sikap, ucapan, dan perbuatan yang menyenangkan dan bermanfaat.
Dalam interaksi antara suami dan istri misalnya suami dianggap menghormati dan menghargai istri apabila ia memenuhi hak-hak istrinya dan menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan sebaik-baiknya pula.
Dalam interaksi antara anak dan orangtuanya misalnua setiap anak harus menyadari bahwa kedua orangtuanya, merupakan irang-orang yang paling berjasa. Oleh karena itu, si anak wajib menghormati dan menghargai kedua orang tuanya dengan cara berbakti kepada mereka. Seorang anak dianggap berbakti kepada kedua orang tuanya, apabila sikap, tutur kata, dan perbuatannya menyenangkan serta mendatangkan manfaat bagi mereka.

Artinya : “Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan kedua orang tua dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan kedua orang tuanya. “ (H.R. Turmidzi)
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda :


Artinya : “Barangsiapa yang berbakti kepada kedua orang tua, maka berbahagialah ia dan Allah akan menambahkan kebahagiaan dalam hidupnya.” (H.R. Abu Ya’la dan Tabrani)
Bila dalam suatu keluarga sikap saling hormat-menghormati dan harga menghargai ini diterapkan, tentu keluarga tersebut akan menjadi keluarga yang damai dan bahagia.


b.      Sikap Menghormati dan Menghargai Kehidupan Bertetangga
Tetangga ialah orang-orang yang tempat tinggalnya berdekatan dengan tempat tinggal kita. Bersikap menghormati dan menghargai tetangga termasuk akhlak mulia serta meruakan tanda dari tanda-tanda orang beriman. Rasulullah bersabda :


Artinya : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia menghormtai tetangganya” (H.R. Muslim)

Allah SWT berfirman, yang artinya :
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-ana yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Q.S. An-Nisa, 4 :36)

Seseorang dianggap menghormati dan menghargai tetangganya, apabila sikap, ucapan, dan perbuatannya itu baik, diridhai Allah serta mendatangkan manfaat. Termasuk ke dalam perbuatan yang baik, apabila seseorang melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap tetangganya. Rasulullah SAB bersabda yang artinya : “Saya, (Mu’awiyan bin Jundup r.a, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kewajiban tetangga terhadap tetangganya?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Jika sakit Anda jenguk, jika mati Anda antarkan jenazahnya, jika meminjam uang Anda pinjami, jika kekurangan Anda tutupi, bila mendapat kebaikan Anda beri selamat, bila mendapat kesusahan Anda hibur, jangan meninggikan bangunanmu di atas bangunannya, sehingga menghalangi datangnya angin kepadanya dan jangan diganggu dengan bau masakanmu, kecuali Anda memberi hadiah kepadanya dari masakan itu.” (H.R. Tabrani)

Juga Rasulullah bersabda :
Artinya : “Wahai Abu Zar, jika Anda memasak hendaklah Anda perbanyak kuahnya dan berilah hadiah kepada tetanggamu.” (H.R. At-Tirmidzi dan Annasa’i)
Jika berbuat baik kepada tetangga itu, merupakan suruhan Allah SWT, karena akan mendatangkan manfaat, maka berbuat jahat kepada tetangganya termasuk ke dalam larangan-Nya karena akan mendatangkan kerugian. Rasulullah bersabda :


Artinya : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya, dan pesan memesan yang baiklah kamu kepada wanita.” (H.R. Bukhari).
Seseorang dianggap menyakiti tetangganya apabila ia bertutur kata keji, melakukan ghibah, fitnah, dan mengadu domba (namimah). Sedangkan perbuatan yang dianggap menyakiti tetangga seperti melakukan penganiayaan, melakukan pencurian, dan berzina dengan tetangga.
Seseorang yang berbuat jahat pada tetangganya dengan cara-cara seperti tersebut di atas tentu akan memperoleh kerugian-kerugian. Dia tidak akan disenangi dalam pergaulan, memperoleh kesulitan-kesulitan dan di alam akhirat kelak akan ditempatkan di neraka. Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (Al-hadist)


c.       Sikap Menghormati dan Menghargai Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara

1.     Guru dan Ulama
Guru dan ulama merupakan orang-orang yang berjasa. Sudah selayaknya setiap orang menghormati dan menghargai guru dan ulama. Seseorang dianggap menghormati dan menghargai guru dan ulama apabila ia bersikap dan bertutur kata sopan yang menyenangkan hati serta menghindarkan diri dari sikap dan tutur kata jahat yang melukai hati. Demikian juga seorang dianggap menghormati guru dan ulama apabila dapat mengambil manfaat dari apa yang disampaikan oleh mereka.



2.    Orang yang Lebih Tua dan Lebih Muda
Orang yang senantiasa menghormati orang yang lebih tua atau pun sudah lanjut kelak di masa tuanya ia akan dihormati pula oleh orang yang lebih muda.

3.    Teman Sejawat dan Teman Sebaya
Seseorang biasanya bergaul dengan orang-orang yang sejawat atau sebaya daripada bergaul dengan orang-orang yang tidak sejawat dan tidak sebaya. Oleh karena itu, hubungan dengan teman sejawat hendaknya saling menghormati dan menghargai. Apabila hubungan antarteman sejawat sudah saling menghormati dan menghargai biasanya akan diikuti oleh perilaku yang terpuji. Misalnya, saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan dan bekerja sama untuk kebahagiaan dan kemajuan bersama.

4.    Kaum Dhu’afa
Ada pun terhadap kaum dhu’afa dari kalangan kaum fakir miskin dan anak-anak terlantar, yang tidak mampu berusaha, tetap harus dihargai dan dihormati dengan sikap dan tuur kata yang baik serta dengan perbuatan yang bermanfaat.

5.    Terhadap Lawan Jenis
Dalam pergaulan antara pria dan wanita hendaknya saling menghormati dan menghargai baik dengan sikap dan tutur kata yang sopan maupun dengan perbuatan baik yang diridhai oleh Allah. Salah satu bentuk dari saling menghargai antara pria dan wanita adalah hendaknya mereka berusaha agar tidak terjadi fitnah.

6.    Terhadap Orang yang Berlainan Agama
Dalam bergaul dengan umat beragama lain, umat Islam harus berpegang teguh dengan apa yang telah dianutnya. Meskipun begitu, tetap  harus menghormati dan menghargai orang yang berlainan agama. Misalnya, tidak mengolok-olok ajaran agama lain, tidak mendiskriminasi orang yang beragama lain.

7.    Terhadap Ulul Amri

Ulul Amri bisa diartikan pemimpin, yang mengurus, mengatur, dan memerintah. Antara pemimpin dan yang dipimpin hendaknya saling menhormti dan menghargai. Pemimpin menghormati rakyatnya dengan menjalankan tugas dan kewajibannya dengan ikhlas karena Allah. Yang dipimpin dianggap menghormati pemimpinnya apabila melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai yang dipimpin dengan niat ikhlas karena Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal Penilaian Akhir Semester Dua Budaya Alam Minangkabau

A. Berilah tanda (x) pada jawaban yang paling benar!   1. Acara menaikkan Rumah bertujuan untuk…. a. Kelihatan mewah b. Mengadakan do’a selamat c. Biar dipuji orang d. Membanggakan 2. Himpunan orang sekaum adalah…. a. Se ibu c.   Sepayung b. Saparuik d.   Sesuku 3. Rumah gadang didirikan berstatus koto atau nigari biasanya memiliki gonjong…. Buah a. Dua c.   Empat b. Tiga d.   Lima 4. Suku Wira adalah piliang dan suku Bayu juga piliang. Wira dan Bayu disebut…. a. Sesuku c.   Sekampung b. Seibu d.   Sekawan 5. Bagi orang Minangkabau, yang di jadikan tempat bermusyawarah adalah…. a. Rumah gadang b. Kantor c. Mushalla d. Kantor pemda 6. Rumah gadang jarang rusak bila terjadi gempa, sebab tiangnya diletakkan di atas…. a. Kayu c.   Batu b. Tembok d. Tanah 7. Adat Minangkabau sesuai dengan ajaran…. a. Khatolik c.   Hindu b. Bu...

Tantangan dan Prospek Pendidikan Sekolah Dasar di Indonesia Saat Ini

Pendidikan Sekolah Dasar (SD) merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan SD di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi. Artikel ini akan menjelaskan tantangan utama yang dihadapi pendidikan SD saat ini, termasuk kurangnya fasilitas, ketimpangan kualitas pendidikan, dan tantangan dalam implementasi kurikulum. Selain itu, artikel ini juga akan membahas prospek dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kualitas pendidikan SD di Indonesia. I. Tantangan dalam Pendidikan Sekolah Dasar     A. Kurangnya Fasilitas Pendukung Kekurangan ruang kelas, fasilitas olahraga, dan laboratorium: Banyak sekolah dasar di Indonesia masih mengalami kekurangan ruang kelas yang memadai. Selain itu, fasilitas olahraga dan laboratorium juga seringkali tidak memadai atau bahkan tidak tersedia di sekolah-sekolah tersebut. Tantangan aksesibilitas pendidikan di daerah terpencil dan peda...

ISU ISU GLOBAL MASA KINI DAN MASA DEPAN

  Isu-isu global masa kini dan masa depan Ada berbagai macam permasalahan yang dihadai oleh manusia. Secara garis besar permasalahan tersebut adalah: a. Bahan makanan b. Penduduk c. Energi d. Polusi udara,air dan tanah e. Biodiversity/keanekaragaman hayati A. Bahan makanan Persoalan pangan bagi manusia sangatlah penting bahkan merupakan asasi,karena untuk melangsungkan kehidupan. Pentingnya permasalahan ini disebabkan karena banyaknya kasus manusia yang kelaparan. Akibatnya jutaan manusia meninggal karena kelaparan. Antara tahun 1847-1850 kira-kira satu setengah juta jiwa meninggal karena kelaparan,demikian juga yang terjadi di Cina,India dan sebagainya. Masalah bahan pangan berkaitan dengan: 1 . Kebutuhan obyektif pangan Kebutuhan obyektif pangan pada tingkat global merupakan fungsi dari kebutuhan bahan pokok,besaran jumlah pernduduk dunia,dan komposisinya. Semakin baik kondisi manusia sejak beberapa dasa warsa terakhir menyebabkan terjadinya pertumb...